Rabu, 18 Januari 2017

Laporan Hasil Obsevasi Organisasi Islam PUI



LAPORAN HASIL OBSERVASI ORGANISASI ISLAM PUI

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tauhid
Dosen : Dr. Moh Sulhan, M.Ag
 


 




PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
205/2016


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Organisasi massa Persatuan Ummat Islam yang kemudian disingkat PUI merupakan gabungan dari dua organisasi massa Islam yang tumbuh dan didirikan oleh orang Jawa Barat.1 Kedua organisasi itu adalah Perikatan Ummat Islam berpusat di Majalengka dengan tokoh pendiri Abdoel Halim dan Persatuan Ummat Islam Indonesia berpusat di Sukabumi dengan tokoh pendiri Ahmad Sanoesi.Proses kelahiran, dan perkembangan Persatuan Ummat Islam dari  1911-2011 sebagai organisasi massa Islam merupakan suatu hal yang sangat kompleks. Untuk mendapatkan eksplanasi dari realitas yang kompleks tersebut digunakan pendekatan multi-dimensional. Sebelum melakukan fusi menjadi Persatuan Ummat Islam (PUI), organisasi yang dipimpin Abdoel Halim dan Ahmad Sanoesi di satu pihak ada yang menyebutnya  sebagai organisasi tradisionalis. Sementara  di pihak lain ada yang menyebutnya sebagai organisasi modernis. Untuk menjelaskan hal tersebut dapat digunakan konsep organisasi  Islam modern dari Deliar Noer (1983: 181-184).
Dalam perjalanannya dari 1952-1991, Persatuan Ummat Islam mengalami perkembangan dalam bentuk konflik atau disintegrasi, seperti: bagaimana dan mengapa mereka memilih keluar dari anggota istimewa partai Masyumi atau  mengapa terjadi   pengunduran pelaksanaan  Muktamar PUI ke-4 dan ke-5?  
Untuk menjelaskan mengapa hal tersebut terjadi diperlukan teori konflik dari Lewis A. Coser.Teori ini relevan untuk menjelaskan berbagai fenomena konflik seperti perselisihan, perang, revolusi, kompetisi, dan sebagainya, baik yang menyangkut pertentangan kolektif maupun individual (Turner, 1978: 183-184).LewisA. Coser berpendapat bahwa intensitas konflik ditentukan oleh kondisikondisi tertentu.
Semakin disadari kondisi-kondisi penyebab  konflik  dan  keterlibatan   emosional pihak-pihak yang  terlibat    konflik  semakin   tinggi  intensitas    konflik. Kehebatan  konflik  ditentukan   oleh   realistis dan tidaknya tujuan  yang hendak dicapai;   Semakin realistis tujuan yang hendak   dicapai   oleh   pihak-pihak   yang terlibat, semakin rendah tingkat kehebatan konflik, demikian pula sebaliknya. Mengenai lamanya konflik, menurut Lewis A. Coser, ditentukan oleh tujuannya; semakin terbatas tujuan yang hendak  dicapai, semakin singkat berlangsungnya konflik,  demikian pula sebaliknya (Turner, 1978: 164-172).
Perkembangan Persatuan Ummat Islam hingga memasuki era reformasi masih berada dalam posisi “diam” sebagai dying organization. Baru pada Pemilu 1999, 2004, dan Pemilu 2009, sejumlah kader dan jama’ah Persatuan Ummat Islam mulai banyak yang masuk menjadi anggota partai politik dan dengan tanpa ragu menyebut diri sebagai jama’ah atau kader Persatuan Ummat Islam.  Persatuan Ummat Islam semakin mendapatkan pengakuan di masyarakat, khususnya Jawa Barat setelah diselenggarakan Muktamar PUI ke-11 (2004).Pada muktamar tersebut Persatuan Ummat Islam mulai melakukan perubahan, perbaikan, dan penyesuaian organisasi.AD/ART, tata organisasi, dan sejumlah atribut Persatuan Ummat Islam termasuk bendera dan lambang disempurnakan.Hal ini pun dapat dijelaskan melalui teori konflik. Menurut Lewis A. Coser, penyelesaian konflik dapat ditempuh melalui dua cara, yaitu melalui kekerasan bersenjata atau melalui kompromi (integrasi). Penyelesaian politik yang efektif biasanya melalui cara yang kedua. Dalam hal ini Persatuan Ummat Islam memilih jalan penyelesaian konflik dengan cara kompromi, sehingga tujuan akhirnya adalah terwujudnya integrasi. 
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Sejarah berdirinya PUI ?
2.      Bagaimana programkerja dari PUI ?
3.      Bagaimana Azaz, Sifat, dan Tujuan dari PUI ?
4.      Bagaimana PUI memandang perbedaan madzhab?
5.      Bagaimana pandangan-pandangan PUI terhadap kebangsaan ?
6.      Bagaimana pandangan PUI terhadap ormas yang menyimpang ?

C.    Tujuan penulisan
1.         Untuk mengetahui sejarah berdirinya PUI
2.         Untuk mengetahui program kerja PUI?
3.         Untuk mengetahui pandangan PUI mengenai perbedaan madzhab?
4.         Untuk mengetahui pendangan PUI mengenai kebangsaan
5.         Untuk mengetahui pandangan PUI tentang ormas yang menyimpang?

D.    Metode penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian secara langsung melalui wawancara dan mengumpulka data.

E.     Tanggal penelitian
Hari                 : Sabtu
Tanggal           : 16 April 2016
Tempat            : Ujung berung


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Berdirinya PUI
1.    PUI MAJALENGKA
Perikatan Ummat Islam (PUI) atau Perikatan Oemat Islam (POI) Majalengka saat didirikan oleh K.H. Abdul Halim di Majalengka semula bernama Majlisul Ilmi (1911). MI tumbuh dan berkembang melalui proses perjuangan yang penuh tantangan dan rintangan dari penjajah Kolonial Belanda masa itu. Bahkan organisasi ini terpaksa harus mengalami beberapa kali penyempurnaan dan pergantian nama.
Penyempurnaan dimaksudkan untuk mendewasakan organisasi agar tahan uji terhadap tempaan zaman dan ujian hidup. Sedangkan pergantian nama dimaksudkan di samping untuk menyesuaikan diri terhadap misi dan beban tanggung jawab yang harus dipikul, juga untuk menghindarkan diri dari intaian dan ancaman pemerintah kolonial Belanda.
Tahun 1912 MI mengubah nama menjadi Hayatul Qulub (HQ) yang berarti “menghidupkan hati”. Setelah peristiwa aksi pemogokan buruh pabrik gula di Majalengka dalam rangka melawan penindasan penguasa Belanda, HQ makin diawasi dan dicurigai Belanda. Lalu, atas anjuran banyak pihak, antara lain dari tokoh pergerakan kemerdekaan HOS Cokroaminoto, HQ berubah nama menjadi Persyarikatan Oelama (PO) tahun 1916.
PO pun mendapat rongrongan dari pihak penjajah, bahkan dari teman seiring K.H. Abdul Halim sendiri yang telah terkena hasutan dan pengaruh aparat pemerintah Belanda.
Mereka memfitnah bahwa lembaga pendidikan (sekolah) yang didirikan PO itu adalah “sekolah kafir” karena bentuk dan sistemnya seperti sekolah Belanda, yaitu pendidikan dengan sistem kelas, duduk di bangku dan menghadap meja serta papan tulis.
Tidak hanya itu, mereka yang tidak senang terhadap perkembangan PO juga menyebarkan isu, bahwa PO itu bukan untuk dan milik rakyat awam, tetapi khusus untuk dan milik para ulama.Disebarkan kabar, yang bukan ulama tidak pantas dan tidak perlu masuk PO. Mereka pun menghasut masyarakat agar tidak masuk PO.Terhadap fitnah tersebut, KH.Abdul Halim bergeming.Ia tetap pada keyakinannya dan menerukan pembaharuan dalam bidang pendidikan Islam.
Pada masa awal pendudukan Jepang, organisasi-organisasi pergerakan yang tahun 1938 bergabung dalam MIAI (PO, AII, Muhamadiyah, dan NU) dibubarkan oleh penguasa kolonial Jepang. Para ulama atau pimpinan organisasi tersebut kemudian mendesak penguasa Jepang agar organisasi-organisasi mereka dibolehkan bergerak lagi.
Beberapa bulan kemudian, organisasi-organisasi tersebut diizinkan oleh penguasa Jepang untuk melakukan kembali kegiatan-kegiatannya. Federasi MIAI pun diizinkan bergerak lagi dengan nama Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).
Saat itulah PO berganti nama menjadi Perikatan Oemmat Islam (POI). Dengan perubahan Ejaan Bahasa Indonesia sistem Soewandi (1974), nama itu menjadi Perikatan Ummat Islam (PUI).

2.      PUII SUKABUMI
Persatuan Ummat Islam Indonesia (PUII) didirikan oleh KH. Ahmad Sanusi di Sukabumi, Jawa Barat. Pada awalnya, PUII bernama Al-Ittihadiyatul Islamiyah (AII).Pada masa pendudukan Jepang, AII sebagai anggota MIAI mengalami proses yang sama seperti PO. Pada saat itulah AII berganti nama menjadi Persatuan Oemmat Islam Indonesia (POII) tahun 1942 dan berubah nama lagi tahun 1947 menurut Ejaan Soewandi menjadi PUII.
Perjuangan PUII Sukabumi sejak awal secara prinsip sama dengan PUI Majalengka. Faktor utamanya, karena kedua pendiri organisasi itu, yakniKH.Ahmad Sanusi dan KH. Abdul Halim, adalah sahabat karib yang sama-sama menimba ilmu di Mekah, Arab Saudi, antara tahun 1908-1911 M. Istilahnya, keduanya “saguru saeilmu”, satu guru satu ilmu.
Keduanya bersahabat sangat baik.Mereka pun sering saling bertukar pikiran, baik di bidang pendalaman ilmu maupun pengalaman ilmunya kelak setelah kembali ke tanah air.
Waktu di Mekah, mereka juga bertemu dan menjalin persahabatan karib dengan tokoh-tokoh pejuang Islam Indonesia lainnya, seperti KH. Mas Mansyur (Muhammadiyah) dan KH.Abdul Wahab (Nahdlatul Ulama).
Sekembalinya di tanah air, persahabatan mereka berlanjut.Mereka saling berkunjung untuk lebih memantapkan cita-cita yang telah terukir dan digalang sejak di perantauan, yaitu cita-cita untuk menggalang persatuan dan kesatuan ummat Islam Indonesia.Bagi mereka, persatuan umat Islam merupakan tulang punggung wawasan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Setelah masing-masing memimpin PO dan AII, frekuensi pertemuan mereka makin tinggi dan efektif. Sejak KH. Abdul Halim (PO) diundang oleh KH.Ahmad Sanusi untuk memberikan ceramah pada Muktamar AII di Sukabumi, pada Maret 1935, rencana realisasi cita-cita tentang terciptanya persatuan dan kesatuan ummat Islam Indonesia semakin konkret. Kedua ulama beserta seluruh anggota masing-masing bertekad bulat untuk melebur organisasi mereka, guna mewujudkan cita-cita bersama, dalam ikatan organisasi baru bernama Persatuan Ummat Islam (PUI) .
Pada berbagai kesempatan, betapapun sibuknya mereka sebagai wakil-wakil rakyat dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Zyumbi Choosakai, mereka menyempatkan diri untuk menyusun rencana teknis pelaksanaan fusi kedua organisasi mereka.
Rencana mengenai nama bentuk organisasi hasil fusi, yaitu Persatuan Ummat Islam, rancangan (konsep) kepengurusan, waktu serta tempat diadakan fusi, dan lain-lain telah disepakati bersama.Tetapi takdir Allah tidak dapat dielakkan. Sebelum upacara fusi dilaksanakan, KH.Ahmad Sanusi dipanggil oleh Allah SWT.Beliau wafat tahun 1950.
Sesuai dengan wasiatnya kepada keluarga dan pengurus PUII agar pelaksanaan fusi secepatnya direalisasi, maka tanggal 5 April 1952 bertepatan dengan 9 Rajab 1371 H, PUI dan PUII resmi berfusi menjadi Persatuan Ummat Islam (PUI).Tanggal 5 April pun dinyatakan sebagai “Hari Fusi PUI”.
Dalam beramal, PUI berpedoman pada Ishlahuts Tsamaniyah atau Perbaikan Delapan bidang, yaitu: Perbaikan Keyakinan (Ishlah ‘Aqidah), Perbaikan Ibadah (Ishlah Ibadah), Perbaikan Pendidikan (Ishlah Tarbiyah), Perbaikan Keluarga (Ishlah ‘Ailah), Perbaikan Tradisi (Ishlah ‘Adah), Perbaikan Ummat (Ishlah Ummah), dan Perbaikan Masyarakat secara keseluruhan (Ishlah Muj’tama).
Para pendiri PUI, yaitu KH. Abdul Halim, KH. Ahmad Sanusi, dan Mr. Syamsuddin, berkat jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, dianugerahi Bintang Maha Putera Utama, berdasarkan No. 048/TK/Tahun 1992 tanggal 12 Agustus 1992. KH.Abdul Halim bahkan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada November 2008.
Saat ini, PUI memiliki jutaan kader.Anggota dan jaringan struktur terbesar ada di Jawa Barat –jumlahnya ditaksir lebih dari 10 juta anggota. PUI memiliki ribuan madrasah mulai tingkat Raudlatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan yang sederajat, Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau SLTP, dan Madrasah Aliyah (MA) atau SLTA sampai tingkat Perguruan Tinggi.
Anggotanya beragam, tersebar di daerah-daerah tingkat I (propinsi), yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur DI. Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Aceh, Riau, Bengkulu, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Bali.
Harus diakui, “bendera” PUI jarang atau tidak berkibar seperti bendera ormas Islam lain, seperti NU dan Muhammadiyah. Popularitas PUI pun cukup jauh di bawah kedua ormas tersebut. Akibatnya, kehadiran PUI kurang dirasakan atau kurang dikenal di masyarakat.Penyebab utamanya, seperti dikemukakan Anggota Penasihat PP PUI Prof. Dr. H. Hasan Mu’arif Ambary, MA., kegiatan PUI di berbagai wilayah cenderung tidak menampilkan kehadiran organisasi PUI itu sendiri. “Penyelenggaraan kegiatan yang semestinya menunjukkan organisasi induk (PUI), sering dilakukan dengan mempergunakan lembaga lokal, misalnya yayasan, sehingga kehadiran PUI kurang dikenal masyarakat,” tegasnya.
Popularitas PUI tidak sebesar nama-nama pengurusnya.Di tingkat pusat (PB PUI), sejumlah tokoh tercantum sebagai pengurus PB PUI.Sebagai contoh saja, KH.Cholid Fadhlullah (Ketua Penasihat), HM. Ahmad Rifa’I (Ketua Dewan Pembina), KH. Anwar Saleh (Pembina), Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin (Dewan Pakar), Sunmanjaya Rukmandis, dan banyak lagi. Kini popularitas PUI “mencuat”, menyusul terpilihnya H. Ahmad Heryawan (Ketua Umum PB PUI) sebagai Guburnur Jawa Barat periode 2008-2013 dalam Pilkada Jabar 2008.
Kegiatan PUI dewasa ini meliputi tiga bidang pokok, yakni pendidikan formal (TK s.d. Perguruan Tinggi), Pendidikan Nonformal (Dakwah) seperti Majelis Ta’lim, dan Kegiatan Sosial-Ekonomi seperti koperasi dan pendidikan keterampilan.Wallahu a’lam.
B.     Program kerja PUI
Persatuan ummat Islam merupakan suatu organisasi sosial kemasyarakatan dan sosial keagamaan yang menitik beratkan pada masalah pendidikan dan dakwah, yang mempunyai dasar, tujuan dan pola pendidikan tersendiri serta Intisab sebagai landasan perjuangan PUI dalam rangka pengembangannya terhadap masyarakat.
Adapun dalam aktifitasnya, PUI membuat kordinasi kerja dalam melaksanakan programnya, dalam hal ini PUI membagi menjadi beberapa Majlis:
1.      Majlis Pendidikan dan Pengajaran (MPP)
a.       Menyelenggarakan Tarbiyatul Intisabiyah yaitu serangkaian program pendidikan dan pelatihan di lembaga pendidikan formal.
b.      Menyusun Kurikulum pendidikan.
c.       Mengupayakan jumlah dan mutu pesantren, sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi.
d.      Mengupayakan peningkatan mutu guru-guru sekolah/madrasah PUI.
e.       Mengadakan latihan keterampilan bagi siswa.

2.      Majlis sosial dan wakaf
a.       Mengadakan kegiatan pembinaan ‘Aillah Islamiyah.
b.      Mengadakan pembinaan jama’ah/ranting PUI
c.       Mengadakan bimbingan dan penyelaggaraan zakat, infak dan shodaqoh.
d.      Mengadakan pengumpulan dan pengolahan tanah wakaf dan tanah milik PUI.
e.       Menginfentarisir kekayaan PUI berupa gedung, madrasah dan musholla.

3.      Majlis Wanita
a.       Mengadakan lembaga berumah tangga
b.      Meningkatkan penyelenggaraan Taman Kanak-kanak Islam dan Taman pendidikan al-Qur’an dibawah asuhan tehnis edukatif MPP, dan menyelenggarakan tempat penampungan anak-anak asuh  (TPAA)
c.       Meningkatkan mutu dan jumlah majlis ta’lim wanita PUI.
d.      Mengadakan kegiatan keputrian PUI.
4.      Majlis Penyiaran dan Penerangan Dakwah (MPPD)
a.       Mengadakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) dakwah dan harakah.
b.      Mengadakan majlis takllim
c.       Mengadakan tablig Umum
d.      Mengadakan penelitian dan pengembangan dengan membuat satu daerah binaan sebagai pengembangannya.
e.       Mengadakan penerangan dan penyinaran dengan menerbitkan buku-buku, majalah dan risalah ke-PUI-an, dalam rangka tersebarnya informasi berbagai hal dan aktivitas keorganisasian.

5.      Majlis Pemuda
a.       Mengadakan pelatihan kepemudaan
b.      Mengadakan Diklat ke-PUI-an dan Pengkaderan.
c.       Mengadakan forum Ukhuwah Pemuda Islam pada semua tingkat kepengurusan.
d.      Mengadakan pelatihan kejasmanian berupa napak tilas ke Santi Asromo sebagai tempat dimana KH.Abdul  Halim mengembangkan pendidikannnya pertama kali pada masa pendirian Perserikatan Oelama (PO). Serta mengikuti pekan olahraga.
e.       Mengadakan berbagai Aktivitas keputrian berupa keprakaryaan dan kerumahtanggaan dengan berbagai  macam kegiatan seperti; memasak, menjahit, kesehatan, mode dan tata laksana rumah tangga.
Dalam hal ini yang menjadi obyek binaan bagi Majlis Pemuda adalah para pelajar dan alumni Madrasah PUI.
6.      Majlis perekonomian
a.       Meningkatkan wirausaha lemah dan menengah yaitu adanya proyek-proyek percontohan pada suatu cabang atau ranting pada setiap daerah PUI.
b.      Mengupayakan pendanaan organisasi PUI dalam wujud bimbingan modal dengan mengadakan pengorganisasian dan pengerahan tenaga secara maksimal dalam memperoleh dana dari zakat, Infaq, sedeqah, wakaf, dan usaha lainnya untuk membiayai program awal PUI.
c.       Mengatur dan memberikan kesejahteraan bagi guru-guru PUI, serta memajukan Koprasi.
Penyusunan ishlahus tsamaniyyah meskipun baru ditetapkan setelah kemerdekaan, namun pokok-pokok pikiran yang termuat didalamnya sudah ada sebelum itu. Pokok-pokok pikiran yang melatari munculnya konsep ishlah, diduga, dimulai dari kesadaran abdoel halim sebelum mendirikan santri asromo. ia melihat kondisis masyarakat pribumi sebagai masyarakat terjajah hidup memprihatinkan. Mereka miskin, bodoh dan terbelakang dalam berbagai lapangan kehidupan.
Ashlahus tsamaniyyah (8 macam peri perbaikan hidup)
Yaitu perbaikan akidah (ishlahul akidah), perbaikan akidah  (ishlahul ibadah), perbaikan pendidikan (ishlahut tarbiyah), perbaikan keluarga (ishlahul ailah),  perbaikan adat kebiasaan (ishalhul adat), perbaikan hubungan sosial (ishlahul mujtama), perbaikan perekonomian (ishlahul iqtisad), dan perbaikan umat .
1.      Ishlahul Aqidah
Ishlahul Aqidah didasarkan bahwa segala usaha memperbaiki keadaan manusia itu hendaknya dimulai dengan memperbaiki aqidah dan pandangan hidupnya baru kemudian secara berangsur memperbaiki bidang lainnya. Hal ini bertujuan agar umat islam khususnya warga PUI benar-benar beriman kepada Allah swt, dan rasulnya, tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwa mereka.
2.      Ishlahul ibadah
Ishlahul ibadah didasarkan bahwa usaha memperbaiki ibadah dengan aturan ibadah (syariah) yang terbebas dari kesesatan. Ibadah adalah cerminan dari aqidah seseorang, bagi yang kuat aqidahnya akan merasa ringan dalam melakukan  segala macam ibadah. Hal ini bertujuan agar umat  islam khususnya warga PUI dapat melaksanakannya dengan gemar baik sendirian maupun berjamaah.

3.      Ishalhul adah
Ishalhul adah didasarkan bahwa usaha memperbaiki adat kebiasaan ialah membersihkan atau menghilangkan adat kebiasaan yang mengandung kemusyirikan, mengandung bahaya dan tidak atau kurang berguna. Masih banyak adat kebiasaan yang buruk yang dilakukan umat islam atau mungkin keluarga kita sendiri, baik berasal dari adat kebiasaan nenek moyang atau dari penetrasi kebudayaan barat. Islahul adah bertujuan agar umat islam khususnya warga PUI meninggalkan atau membersihkan adat kebiasaan yang buruk dan menggantikan dengan ajaran dan hukum Allah didalam seluruh perikehidupannya.

4.      Islahul ailah
Islahul ailah didasarkan bahwa perbaikan di bidang keluarga ini ialah menciptakan keluarga yang sakinah (tentram) serta mawadah warahmah (cinta dan kasih. Terbinanya keluarga dengan baik akan sangat menentukan hidup dan majunya urusan organisasi masyarakat bahkan negara. Islahul ailah bertujuan agar terciptanya keluarga yang taat beragama yang sakinah (tentram) lahir maupun batin, keluarga yang saling cinta dan kasih serta keluarga yang merupakan bagian warga jumaiayah PUI

5.      Islahul tarbiyah
Islahul tarbiyah didasarkan bahwa perbaikan di bidang tarbiyah (pendidikan ) ialah menciptakan iklim pendidikan keluarga secara muslim dan menyelenggarakan kegiatan pendidikan dalam arti luas, untuk umat islam khususnya warga dan pimpinan PUI dalam rangka menyiapkan generasi penerus yang lebih baik. Ishlahut tarbiyyah brtujuan mendidik setiap Afrad atau orang sesorang agar beriman dan bertaqwa, memiliki kecerdasan dan keterampilan yang berguna bagi dirinya, keluarga dan masyarakat serta dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman.

6.      Ishlahul mujtama’
Ishlahul mujtama didasarkan bahwa perbaikan sosial dan semangat tolong menolong merupakan hal yang cukup penting untuk membina persatuan dan kesatuan ummat, baik tolong menolong dalam kepentingan materi, maupun pemikiran, kaum muslimin harus merupakan sebuah bangunan yang satu sama lain dan saling menguatkan. Hali ini bertujuan agar terciptanya semangat ukhuwwah islamiyyah dan tolong menolong yang baik, kuat dan terarah dalam membina warga dan simpatisan PUI yang sejahtera, kuat dan turut bertanggung jawab dalam melaksanakan ajaran islam dengan sebaik-baiknya.

7.      Ishlahul iqtisad
Ishlahul iqtisad didasarkan bahwa perbaikan dalam bidang ekonomi ialah ummat islam hendaknya gemar atau rajin mencari rizki, karena ini penting untuk nasib kita di dunia dengan ketentuan bahwa rizki itu hendaknya di peroleh dengan cara halal, dan bukan bermaksud untuk  menumpuk-numpuk kekayaan bahkan didalam rizki yang diperoleh itu terdapat milik (hak orang lain) baik perlu dizakati maupun perlu berinfak (sodaqoh). Tujuannya adalah  agar teciptanya kesejahteraan umat islam, warga PUI dan kegiatan organisasi dengan kecukupan dana sesuai dengan keperluan.


8.      Ishlahul ummah
Ishlahul ummah didasarkan bahwa perbaikan hubungan ummat ini merupakan kebutuhan bangsa manusia. Apalagi sebagai muslim, tanpa dibatasi oleh karena keturunan, warna kulit, bangsa, suku, dalan lainnya. Semua manusia diciptakan untuk saling mengenal dan saling mengambil manfaatnya, saling menghormati, dan hendaknya mengenal batas hak-haknya.Orang yang mulia disis tuhan adalah orang yang lebih taqwanya. Tujuannya dalah agar ummat islam khususnya warga PUI menumbuhkan semangat ukhuwwah islamiyyah dan berhubungan sesama manusia dan bangsa dengan rukun dan damai, dengan saling menghormati adanya perbedaan agama.  

C.    Azas, Sifat dan Tujuan PUI
1.      Persatuan Ummat Islam
Berdasarkan anggaran dasar PUI hasil pertemuan di Bogor tahun 1952, maka PUI berazakan ajaran islam. Hal ini berkenaan dengan keyakinan agama islam merupakan aturan Allah yang dengan keluasaan ilmu-Nya menunjukkan jalan yang lurus yang dapat menyampaikan manusia kepada kebahagiaan dan keselamatan hidup, jalan yang benar tanpa kesesatan dan tiada sedikit pun kepentingan Allah terselip di dalam ajaran itu. Kepercayaan kepada Allah yang meyebebkan PUI lebih percaya kepada ajaran Allah (islam)  yang lebih sempurna dari pada ideologi lain yang merupakan hasil kajian manusia yang terbatas.
Sebagai penjabaran dari islam yang merupakan azas PUI, maka di susunlah suatu strategi dasar perjuangan PUI yang berisi prinsip yang menjadi landasan idiil perjuangan yang tertuang dalam bentuk falsafah yang dinamakan “intisab”.
Menurut S. Wanta bahwa setiap organisasi pasti mempunyai landasan idiil yang kokoh sebagai pedoman pokok untuk bergerak mencapai tujuan yang digariskan. Pedoman pokok suatu organisasi adalah berupa prinsip-prinsip perjuangan yang berfungsi sebagai pengontrol sekaligus pengendali, setiap gerak kebijaksanaan organisasi agar tidak menyimpang dari ide dasarnya. Disamping itu prinsip-prinsip tersebut akan menjadi identitas yang mewarnai seluruh kehidupan organisasi dan anggota-anggotanya. Prinsip-prinsip atau landasan idiil perjuangan PUI, tertuang dalam falsafah yang terkenal di kalangan warganya dengan nama “ intisab”. Intisab berasal dari bahasa Arab, yang berasal dari kata kerja “intisaba” yang dimasdarkan menjadi intisaabun dan merupakan bentuk Tusalisi mujarrod “ nasaba” yang menurut arti harfiahnya adalah seketurunan, senyawa, at nisbat, maka istilah yang dimaksud ialah menginterasikan diri, mensenyawakan jiwa kepada ungkapan-ungkapan kata yang diucapkan.
2.      Sifat dan Tujuan PUI
Gerakan Persatuan Ummat Islam mempunyai sifat dan tujuan  tertentu yang mempengaruhi pola perjuangannya, sebagai suatu gerakan Islam. Secara organisatoris Persatuan Ummat Islam menentukan diri bersifat “Indefennden” tidak berafiliasi pada salah satu organisasi manapun, dan menitik beratkan kepada sosial pendidikan dan keagamaan.
Adapun Gerakan Persatuan Ummat Islam  dibentuk dengan tujuan dalam rangka berusaha hendak mencapai terwujudnya Islam raya dan kebahagian  ummat. Tujuan ini mempunyai konotasi terealisasinya ajaran Islam di tengah-tengah umatnya. Berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Persatuan Ummat Islam pasal 4, dinyatakan bahwa tujuan organisasi ini menuju terlaksananya Syariah Islamiyah Ahli Sunnah Wall Jamaah untuk terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang di ridlo’i Allah SWT, sesuai dengan hasil Muktamar “PUI” yang ke III di kota Majalengka. Kemudian selanjutnya berdasarkan Pedoman Kerja Pengurus (PKP) pasal 2 dinyatakan tujuan PUI dibagi menjadi dua yaitu:
a.       Tujuan umum, seperti yang tercantumkan dalam pasal 4, yaitu menuju terlaksananya Syari’ah Islamiyah ahli Sunnah Wal Jamaah untuk  terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridloi Allah SWT.
b.      Tujuan khusus yaitu tercapainya efisiensi ektifitas kerja yang pragmatis, terkordinir, sistimatis dan terarah untuk seluruh usaha dan kegiatan pengurus dalam mencapai tujuan.

D.    Pandangan PUI mengenai perbedaan madzhab
PUI merupakan sebuah organisasi keislaman. Dalam memandang suatu madzhab mereka tidak memproiritaskan pada satu madzhab. Mereka menerima madzhab siapa pun asalkan berdasarkan dalil yang kuat. Di PUI sendiri bersasskan lebih ke Alquran dan as-sunnah. Sehingga tidak menjadikan suatu madzhab sebagai prioritas utama. PUI sangat menghargai perbedaan pendapat atau madzhab sehingga di PUI sendiri ada orang-orang NU,Persis dan Muhammadiyyah. Asalkan berada dalam satu aqidah yang sama, PUI tidak mempermasalahkan hal tersebut.
E.     Pandangan PUI mengenai kebangsaan
Awalnya organisasi ini dibentuk salah satunya dengan alasan ingin memerdekakan negara indonesia dari penjajahan. Selain itu tokoh pendiri PUI juga merupakan salah satu pahlawan nasional yaitu     dan     belum dinobatkan sebagai pahlawan nasional.
Selain itu dalam keadaan massa kini PUI memang tidak bergabung dengan politik namun orang PUI ada dalam politik. Seperti Ahmad Heriawan yang berhasil menjabat sebagai gubernur Jawa Barat dan Dani Setiawan sebagai mantan Gubernur juga.


F.     Pandangan PUI mengenai ormas yang menyimpang
Pandangan PUI terhadap ISIS tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, karena hal tersebut hanya propanganda amerika serikat untuk menghancurkan umat islam. Seperti di Irak diIran dan palestina. ISIS adalah bentukkan Amerika Serikat. Namun keadaannya berbalik ISIS malah sering tidak mentaati Amerika. Untuk itu dalam menanggapi sesuatu kita harus tahu dulu propaganda di balik itu. Selain itu kita juga harus mempekuat akidah dan ibadah serta lebih di perkuat lagi delapan ishlah (Ishlah Tsamaniyyah).


Bab III
SIMPULAN

Organisasi massa Persatuan Ummat Islam yang kemudian disingkat PUI merupakan gabungan dari dua organisasi massa Islam yang tumbuh dan didirikan oleh orang Jawa Barat.1 Kedua organisasi itu adalah Perikatan Ummat Islam berpusat di Majalengka dengan tokoh pendiri Abdoel Halim dan Persatuan Ummat Islam Indonesia berpusat di Sukabumi dengan tokoh pendiri Ahmad Sanoesi Proses kelahiran, dan perkembangan Persatuan Ummat Islam dari  1911-2011 sebagai organisasi massa Islam merupakan suatu hal yang sangat kompleks.
Persatuan ummat Islam merupakan suatu organisasi sosial kemasyarakatan dan sosial keagamaan yang menitik beratkan pada masalah pendidikan dan dakwah. Adapun dalam aktifitasnya, PUI membuat kordinasi kerja dalam melaksanakan programnya, dalam hal ini PUI membagi menjadi beberapa Majlis diantaranya adalah Majlis Pendidikan dan Pengajaran (MPP), Majlis sosial dan wakaf, Majlis Wanita, Majlis Penyiaran dan Penerangan Dakwah (MPPD), Majlis Pemuda, dan Majlis pereko  nomian.
PUI berazakan ajaran islam/ Secara organisatoris Persatuan Ummat Islam menentukan diri bersifat “Indefennden” tidak berafiliasi pada salah satu organisasi manapun, dan menitik beratkan kepada sosial pendidikan dan keagamaan. Adapun Gerakan Persatuan Ummat Islam  dibentuk dengan tujuan dalam rangka berusaha hendak mencapai terwujudnya Islam raya dan kebahagian  ummat. Tujuan ini mempunyai konotasi terealisasinya ajaran.
Dalam memandang suatu madzhab PUI tidak memproiritaskan pada satu madzhab. Mereka menerima madzhab siapa pun asalkan berdasarkan dalil yang kuat.


DAFTAR PUSTAKA



0 komentar:

Posting Komentar