Rabu, 18 Januari 2017

Laporan Hasil Observasi Organisasi Islam Muhammadiyah

LAPORAN HASIL OBSERVASI ORGANISASI ISLAM MUHAMMADIYAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tauhid
Dosen : Dr. Moh Sulhan, M.Ag


 




PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
205/2016






BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada zaman modern ini terjadi banyak perubahan, tidak hanya dalam hal ekonomi dan sosial. Namun, dalam hal keagamaan pun terjadi perubahan yang mendukung dalam penyebaran keilmuannya. Dalam hal tersebut, keorganisasian menjadi langkah efektif yang dapat dilakukan. Salah satu organisasi yang mendukung penyebaran ilmu agama yaitu Muhammadiyah.
Muhammadiyah sebagai organisasi besar di negeri ini tentu banyak faktor yang mempengaruhi tentang keberadaanya. Selanjutnya  Muhammadiyah sebagai organisasi pembaharu pasti ada maksud dan tujuan yang melandasinya. Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang maksud,tujuan, sejarah perumusan serta pengertian yang terkandung didalamnya. Rumusan maksud dan tujuan Muhammadiyah sejak berdiri sampai sekarang ini mengalami beberapa kali perubahan redaksional, perubahan susunan bahasa dan istilah. Sekalipun begitu tidak dengan sendirinya berubah isi dan jiwanya, karena hakekatnya antara yang lama dan baru adalah sama-sama untuk perubahan yang lebih baik.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana latar belakang terbentuknya organisasi Muhammadiyah?
2.   Bagaimanakah organisasi Muhammadiyah di tinjau dari sisi peribadatan, seperti    pelaksanaan shalat, puasa sunnah dan penentuan awal ramadhan?
3.      Apakah mahzab yang menjadi pedoman organisasi Muhammadiyah?
4.      Bagaimana pendapat tokoh organisasi Muhammadiyah tentang adanya ormas islam seperti gafathar, isis, dll?
5.      Apakah organisasi Muhammadiyah hanya terentuk di Indonesia saja

C.     Tujuan
1.    Untuk Mengetahui latar belakang terentuknya organisasi Muhammadiyah
2.   Untuk Mengetahui sisi peribadatan dalam organisasi muhamadiyyah, seperti pelaksanaan shalat, puasa sunnah dan penentuan awal ramadhan
3.   Untuk mengetahui mazhab yang menjadi pedoman organisasi Muhammadiyah
4.   Untuk Mengetahui pendapat tokoh organisasi Muhammadiyah tentang adanya ormas islam seperti gafathar, isis, dll
5.   Untuk mengetahui keeradaan organisasi Muhammadiyah selain di indonesia



BAB II
TEORI DASAR

Bulan Dzulhijjah (8 Dzulhijjah 1330 H) atau November (18 November 1912 M) merupakan momentum penting lahirnya Muhammadiyah. Itulah kelahiran sebuah gerakan Islam modernis terbesar di Indonesia, yang melakukan perintisan atau kepeloporan pemurnian sekaligus pembaruan Islam di negeri berpenduduk terbesar muslim di dunia. Sebuah gerakan yang didirikan oleh seorang kyai alim, cerdas, dan berjiwa pembaru, yakni Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis dari kota santri Kauman Yogyakarta.
Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia.Pada dasarnya maksud dan tujuan Muhammadiyah adalah sebagai organisasi yang bergerak dalam berbagai bidang amal usaha untuk perbaikan kualitaas hidup masyarakat bangsa dan negara. Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW, sehingga Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi pengikut NabiMuhammad SAW. Latar belakang KH Ahmad Dahlan memilih nama Muhammadiyah  yang pada masa itu sangat asing bagi telinga masyarakat umum adalah untuk memancing rasa ingin tahu dari masyarakat, sehingga ada celah untuk memberikan penjelasan dan keterangan seluas-luasnya tentang agama Islam sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah SAW.
Persyarikatan Muhammadiyah didirikan untuk mendukung usaha KH Ahmad Dahlan untuk memurnikan ajaran Islam yang dianggap banyak dipengaruhi hal-hal mistik. Kegiatan ini pada awalnya juga memiliki basis dakwah untuk wanita dan kaum muda berupa pengajian Sidratul Muntaha. Selain itu peran dalam pendidikan diwujudkan dalam pendirian sekolah dasar dan sekolah lanjutan, yang dikenal sebagai Hooge School Muhammadiyah dan selanjutnya berganti nama menjadi Kweek School Muhammadiyah (sekarang dikenal dengan Madrasah Mu’allimin khusus laki-laki, yang bertempat di Patangpuluhan kecamatan Wirobrajan dan Mu’allimaat Muhammadiyahkhusus Perempuan, di Suronatan Yogyakarta).
Muhammadiyah secara etimologis berarti pengikut NabiMuhammad, karena berasal dari kata Muhammad, kemudian mendapatkan ya nisbiyah, sedangkan secara terminologi berarti gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dan tajdid, bersumber pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Berkaitan dengan latar belakang berdirinya Muhammadiyah secara garis besar faktor penyebabnya adalah pertama, faktor subyektif adalah hasil pendalaman KH. Ahmad Dahlan terhadap al-Qur’an dalam menelaah, membahas dan mengkaji kandungan isinya. Kedua, faktor obyektif  di mana dapat dilihat secara internal dan eksternal. Secara internal ketidakmurnian amalan Islam akibat tidak dijadikannya al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai satu-satunya rujukan oleh sebagiab besar umat Islam Indonesia.
Muhammadiyah adalah Gerakan Islam yang melaksanakan da’wah amar ma’ruf nahi munkar dengan maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah berpandangan bahwa Agama Islam menyangkut seluruh aspek kehidupan meliputi aqidah, ibadah, akhlaq, dan mu’amalat dunyawiyah yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan harus dilaksanakan dalam kehidupan perseorangan maupun kolektif. Dengan mengemban misi gerakan tersebut Muhammadiyah dapat mewujudkan atau mengaktualisasikan Agama Islam menjadi rahmatan lil-’alamin dalam kehidupan di muka bumi ini.
Visi Muhammadiyah adalah sebagai gerakan Islam yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan watak tajdid yang dimilikinya senantiasa istiqamah dan aktif dalam melaksanakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar di segala bidang, sehingga menjadi rahmatan li al-‘alamin bagi umat, bangsa dan dunia kemanusiaan menuju terciptanya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang diridhai Allah swt dalam kehidupan di dunia ini.
Misi Muhammadiyah adalah:
1)      Menegakkan keyakinan tauhid yang murni sesuai dengan ajaran Allah swt yang dibawa oleh Rasulullah yang disyariatkan sejak Nabi Nuh hingga NabiMuhammad saw.
2)      Memahami agama dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan yang bersifat duniawi.
3)      Menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber pada al-Qur’an sebagai kitab Allah yang terakhir untuk umat manusia sebagai penjelasannya.
4)      Mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Lihat Tanfidz Keputusan Musyawarah Wilayah ke-39 Muhammadiyah Sumatera Barat tahun 2005 di Kota Sawahlunto

Keinginan dari KH. Akhmad Dahlan untuk mendirikan organisasi yang dapat dijadikan sebagai alat perjuangnan dan da’wah untuk nenegakan amar ma’ruf nahyi munkar yang bersumber pada Al-Qur’an, surat Al-Imron:104 dan surat Al-ma’un sebagai sumber dari gerakan sosial praktis untuk mewujudkan gerakan tauhid.

Artinya : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung".

Artinya :
1.      Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2.      Maka itulah orang yang menghardik anak yatim
3.      Dan tidak mendorong memeri makan orang miskin
4.      Maka celakalah orang yang shalat
5.      (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya
6.      Yang eruat ria
7.      Dan enggan (memerikan) antuan
Ketidak murnian ajaran islam yang dipahami oleh sebagian umat islam Indonesia, sebagai bentuk adaptasi tidak tuntas antara tradisi islam dan tradisi lokal nusantara dalam awal bermuatan faham animisme dan dinamisme. Sehingga dalam prakteknya umat islam di indonesia memperlihatkan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran islam, terutama yang berhubugan dengan prinsip akidah islam yag menolak segala bentuk kemusyrikan, taqlid, bid’ah, dan khurafat. Sehingga pemurnian ajaran menjadi pilihan mutlak bagi umat islam Indonesia.
Keterbelakangan umat islam indonesia dalam segi kehidupan menjadi sumber keprihatinan untuk mencarikan solusi agar dapat keluar menjadi keterbelakangan. Keterbelakangan umat islam dalam dunia pendidikan menjadi sumber utama keterbelakangan dalam peradaban. Pesantren tidak bisa selamanya dianggap menjadi sumber lahirnya generasi baru muda islam yang berpikir moderen. Kesejarteraan umat islam akan tetap berada dibawah garis kemiskinan jika kebodohan masih melengkupi umat islam indonesia.
Maraknya kristenisasi di indonesia sebegai efek domino dari imperalisme Eropa ke dunia timur yang mayoritas beragama islam. Proyek kristenisasi satu paket dengan proyek imperialalisme dan modernisasi bangsa Eropa, selain keinginan untuk memperluas daerah koloni untuk memasarkan produk-produk hasil refolusi industri yang melanda eropa.
Imperialisme Eropa tidak hanya membonceng gerilya gerejawan dan para penginjil untuk menyampaikan ’ajaran jesus’ untuk menyapa umat manusia diseluruh dunia untuk ’mengikuti’ ajaran jesus. Tetapi juga membawa angin modernisasi yang sedang melanda eropa. Modernisasi yang terhembus melalui model pendidikan barat (belanda) di indonesia mengusung paham-paham yang melahirkan moernisasi eropa, seperti sekularisme, individualisme, liberalisme dan rasionalisme. Jika penetrasi itu tidak dihentikan maka akan terlahir generasi baru islam yang rasionaltetapi liberal dan sekuler.
1.      Faktor Internal
Faktir internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri umat islam sendiri yang tercermin dalam dua hal, yaitu sikap beragama dan sistem pendidikan islam.
Sikap beragama umat islam saat itu pada umumnya belum dapat dikatakan sebagai sikap beragama yang rasional. Sirik, taklid, dan bid’ah masih menyelubungai kehidupan umat islam, terutama dalam lingkungan kraton, dimana kebudayaan hindu telah jauh tertanam. Sikap beragama yang demikian bukanlah terbentuk secara tiba-tiba pada awal abad ke 20 itu, tetapi merupakan warisan yang berakar jauh pada masa terjadinya proses islamisasi beberapa abad sebelumnya. Seperti diketahui proses islamisasi di indonesia sangat di pengaruhi oleh dua hal, yaitu Tasawuf/Tarekat dan mazhab fikih, dan dalam proses tersebut para pedagang dan kaum sifi memegang peranan yag sangat penting. Melalui merekalah islam dapat menjangkau daerah-daerah hampir diseluruh nusantara ini.
2.      Faktor eksternal
Faktor lain yang melatarbelakangi lahirnya pemikiran Muhammadiah adalah faktor yang bersifat eksternal yang disebabkan oleh politik penjajahan kolonial belanda. Faktor tersebut antara lain tanpak dalam system pendidikan kolonial serta usaha kearah westrnisasi dan kristenisasi.Pendidikan kolonial dikelola oleh pemerintah kolonial untuk anak-anak bumi putra, ataupun yang diserahkan kepada misi and zending Kristen dengan bantuan financial dari pemerintah belanda. Pendidikan demikian pada awal abad ke 20 telah meyebar dibeberapa kota, sejak dari pendidikan dasar sampai atas, yang terdiri dari lembaga pendidikan guru dan sekolah kejuruan. Adanya lembaga pendidikan colonial terdapatlah dua macam pendidikan diawal abad 20, yaitu pendidikan islam tradisional dan pendideikan colonial.
Kedua jenis pendidikan ini dibedakan, bukan hanya dari segi tujuan yang ingin dicapai, tetapi juga dari kurikulumnya.
Pendidikan kolonial melarang masuknya pelajaran agama dalam sekolah-sekolah colonial, dan dalam artian ini orang menilai pendidikan colonial sebagai pendidikan yang bersifat sekuler, disamping sebagai peyebar kebudayaan barat. Dengan corak pendidikan yang demikian pemerintah colonial tidak hanya menginginkan lahirnya golongan pribumi yang terdidik, tetapi juga berkebudayaan barat. Hal ini merupakan salah satu sisi politik etis yang disebut politik asisiasi yang pada hakekatnya tidak lain dari usaha westernisasi yang bertujuan menarik penduduk asli Indonesia kedalam orbit kebudayaan barat. Dari lembaga pendidikan ini lahirlah golongan intlektual yang biasanya memuja barat dan menyudutkan tradisi nenekmoyang serta kurang menghargai islam, agama yang dianutnya. Hal ini agaknya wajar, karena mereka lebih dikenalkan dengan ilmu-ilmu dan kebudayaan barat yang sekuler  anpa mengimbanginya dengan pendidiakan agama konsumsi moral dan jiwanya. Sikap umat yang demikianlah tankanya yang dimaksud sebagai ancaman dan tantangan bagi islam diawal abad ke 20.
Mahzab organisasi Muhammadiyah
Muhammadiyah memiliki suatu lembaga ijtihad yang disebut majelis tarjih. Majelis tarjih adalah salah satu lembaga Muhammadiyah yang membidangi dan mengurusi masalah-masalah keagamaan, khususnya hukum dalam bidang fiqih.[7] Sesuai dengan namanya, tarjih ialah mengikuti hukum yang kuat, maka dalam berijtihad, Muhammadiyahselalu berpedoman pada Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih, yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Salah satu dari pokok-pokok manhaj majelis tarjih yang telah dilakukan dalam menetapkan fatwa yaitu tidak mengikatkan diri pada suatu mazhab, tetapi pendapat-pendapat mazhab dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan hukum. Sepanjang sesuai dengan jiwa Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau dasar-dasar lain yang dipandang kuat.
Tidak mengikuti pada mazhab-mazhab tertentu bukan berarti tidak menghormati pendapat para imam fuqaha, juga bukan berarti Muhammadiyah anti dengan madzhab. Alasannya adalah kualitas keilmuan para imam madzhab tidaklah memiliki kebenaran mutlak sebagaimana kebenaran Al-Quran dan hadits shahih. Pendapat para imam tersebut erat dengan kondisi pada masa mereka hidup, yang tentunya akan terdapat perbedaan dan juga ada hal-hal yang kurang relevan lagi dengan masa sekarang. Hal ini justru langkah untuk mengikuti metode dan jalan hidup mereka serta melaksanakan pesan-pesan mereka agar tidak bertaqlid. Salah satunya ucapan Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu:
لاَ تَقَلَّدْنِي وَلاَ تَقَلَّدْ مَالِكًا وَلاَ الشَّافِعِي وَلاَ اْلأَوْزَاعِي وَلاَ الثَّوْرِي وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوا
“Janganlah engkau taqlid kepadaku, demikian juga kepada Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Auza’i dan Imam ats-Tsauri. Namun ambillah (ikutilah) darimana mereka (para Imam itu) mengambil (yaitu al-Quran dan as-Sunnah)”.
Jadi hal penting yang perlu dilakukan  adalah menggali pandapat itu dari sumber pengambilan para imam mujtahid yaitu Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. yang shahih yang tidak diragukan lagi kebenarannya.
Secara metodologis, Muhammadiyah dalam berijtihad menggunakan sejumlah manhaj ushul fiqih yang ditawarkan oleh para imam mazhab. Hanya saja, para ulama tarjih tidak mau terjebak untuk mengikatkan diri pada manhaj dan pendapat ulama mazhab tertentu. Pola bermazhab seperti itu disebut dengan bermazhab dengan pola talfiqi yaitu memadukan pemikiran antarmazhab, dengan memilih yang paling layak dan kuat untuk dipilih. Penggunaan qiyas, mengacu pada keberpihakan keempat imam mazhab pada pendekatan ta’lili, yang secara lebih jelas diperkenalkan oleh Imam Asy-Syafi’i. Pemilihan metode istihsan, jelas mengacu pada Imam Abu Hanifah. Pemilihan metode mashlahah mursalah dengan berbagai ragam pengembangannya, jelas mengacu pada Imam Malik. Pengadopsian metode istishhab, secara tidak langsung juga mengakui pendapat Imam Ahmad bin Hanbal.[10] Dalam mengikuti Wahabisme, Muhammadiyahcenderung anti sufisme seperti halnya di Saudi Arabia. Tasawuf dianggap banyak dipengaruhi oleh ajaran agama lain, misalnya Hindu, Budha, dan kepercayaan lokal.


BAB III
HASIL OSERVASI
Hasil observasi di dapat dari mewawancarai ketua Muhammadiyah cabang Ujung berung yang bernama Dr.Ajang Zamzam, M.Ag .
A.      Latar BelakangBerdirinya Muhammadiyah
Muhammadiyah merupakan organisasi islam dan bukan merupakan aliran, Muhammadiyah dinisbatkandari kata “Muhammad” yaitu pengikut NabiMuhammad pada dasarnya semua umat islam juga pengikut NabiMuhammad. Organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan tahun 1912. Berdirinya Muhammadiyah disebabkan karena orang muslim sudah jauh dari ajaran agama islam misalnya berperilaku seperti orang hindu, kemusyrikan merajalela, bukan hanya yang bersifat tauhid yang bertentangan dengan islam bahkan anak-anak yatim terlantar dan tidak di urus, dan sebagainya. Maka didirikan organisasi Muhammadiyah yaitubukan hanya untuk memurnikan akidah tetapi juga bagaimana supaya orang islam maju yaitu dengan pendidikan. Pendidikan itu harus maju maka dari itu perubahan pendidikan KHAhmad Dahlan itu yang asalnya tradisional menjadi modern dari yang asalnya lesehan menjadi memakaibangku, bukan hanya di lingkungan pesantren di lingkungan umum juga ajaran agama islam perlu di ajarkan dan di kembangkan, maka dari itu pada film sang pencerah dapat dilihat sebagai gambarannya.
Muhammadiyyah itu merupakan organisasi islam yang bertujuan untuk menegakkan dan menjunjung tingga agama islam dengan amal ma’ruf nahi munkar dan itu melalui dakwah yang bukan hanya dengan lisan tetapi juga dengan tulisan dan perbuatan.Usaha dakwah Muhammadiyyah itu seperti halnya sekolah,rumah sakit, panti asuhan,bank-bank syari’ah yaitu yang bergerak di bidang ekonomi dan semua aspek yang di tujukan untuk kemajuan masyarakat itu ada majlis-majlis.


B.       Dari Segi Peribadatan
Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa kata Muhammadiyah bersal dari kata “Muhammad” yang berarti pengikut NabiMuhammad. Maka dari itu dari segi ibadahnya organisasi Muhammadiyah mengikuti ajaran NabiMuhammad SAW tetapi pada dasarnya memang semua orang islam harusberibadah sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW berdasarkan hadits yang shohih. Adapun sekilas peredaannya dari segi furu’iyah jangankan orang muhammdiyah dengan nonMuhammadiyah, terkadang sesama Muhammadiyah pun mengalami perbedaan seperti hal nya memaca do’a iftitah dalam shalat, karena iftitah pun bukan hanya satu tetapi berbeda-beda dan disampaikan oleh hadist yang shohih. selama disampaikan dengan hadits yang shohih itu silahkan saja. Jadi, dari segi ibadah bukannya beda dengan yang lain tetapi sama saja. Jadi artinya yang lain juga selektif dalam memilih hadits selama hadits itu shohih, ambil dan laksanakan, selama itu tidak disampaikan oleh hadits jangan di gunakan.
Dan ada juga perbedaan lainnya seperti perbedaan penggunaan lafadz “usholliy” ataupun tidak dalam shalat, menurut Muhammadiyah“usholly” itu niat dan niat itu fiilqolbiy adapun diungkapkan itu adalah talafudz bi niat, talafudz niat itu berarti fiilisan yaitu kalaulah orang berniat shalat ya silahkan dengan di talafudzkan dengan usholliy boleh saja dengan bahasa sunda, bahasa indonesia bisa namun itu bukan rukun shalat tentu saja awal shalat itu diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam hanya bedanya ada yang niatnya talafudz ada yang fiilqolbiy menurut Muhammadiyah orang mengambil air wudhu, mengamil sarung, memakai sarung dan dia bersiap-siap untuk shalat itu sudah termasuk niat walaupun tidak usholliy sebelumnya juga sudah niat, dalam usholliy juga umpamanya saya niat shalat kan? Itulah bedanya kalau dilihat sepintas, padahal jika ditelusuri sama saja, itu salah satu contohnya.
Sebenarnya pada soal ibadah jangankan Muhammadiyah dengan yang lain, sesama Muhammadiyah juga jika soal furu’iyah tentang bacaan fatihah saja pada imam ada yang bismillahnya itu di-zhahirkan dan ada juga yang di-sirrikan jika di al-maroghi itu kan memang yang tanpa bismillah dan ada juga yang sama sekali tidak memakai bismillah kemudian ada yang di sirrikan, memang bismillah itu harus diungkapkan karena bismillah masuk kedalam ayat dalam surat alfatihah. Namun ya itu,banyak hadits shohih shalat itu di mulai dengan alhamdulillah hirobil alamin yang terlihat seperti bereda padahal sama saja, itu juga merupakan salah satu perbedaan. Orang nonMuhammadiyah dengan sesamanya juga terdapat perbedaan dan tidak di permasalahkan.
C.      Dari Segi Ibadah Lain Seperti Penentuan Awal Ramadhan
Jadi pada dasarnya, berdasarkan hadits (ru’yat hillal) ”berpuasalah ketika melihat hilal dan berbuka ketika melihat hilal”. Perbedaannya itu karena ada yang melihat hilal ada yang di yakini bahwa hilal itu ada. Maka dari itu, ada ru’yatul hilal dan ada yang wujudul hilal. Muhammadiyahmenggunakan wujudul hilal karena tidak semua yang wujud itu terlihat bisa jadi  sudah ada tapi tidak terlihat karena cuaca dan juga bukan hanya mengandalkan mata tapi ada hisabmaka dari itu yang namanya kalender itu tidak spontanitas di buat sebelum ada nya hisab, Hisab hakiki tapi berdasar kepada wujudul hilal tidak hanya ru’yatul hilal. Adapun perbedaannya, yang namanya setiap pendapat orang itu bereda-beda. Masing-masing organisasi selama tidak bertentangan dengan islam dan memang itu ijtihad, ya sah sah saja.
D.      Madzhab Yang Menjadi Pedoman OrganisasiMuhammadiyah
Muhamadiyyah tidak bermazhab, semua madzhab diambil jika semua madzhab itu mengungkapkan dalil yang qath’i dari mazhab syafi’i itu banyak yang dilakukan oleh Muhammadiyyah, Muhammadiyyah tidak anti syafi’i. Kemudian mengapa namanya tidak syaf’iyah dan malah Muhammadiyyah?  itu karena semua madzha  syafi’i, hamali, maliki dan sebagainya itu kembali keada ajaran NabiMuhammad SAW. Maka dari itu Muhammadiyyah tidak bermadzhab, semua madzhab direkrut jika mengahantarkan hadits yang shahih.


E.       Pandangan Muhamadiyyah Mengenai puasa rajab
Contohnya jika puasa senin kamis itu adalah sunah dan yang namanya shaum itu walaupun tidak ditetapkan dalam ajaran, lalu dalam niat shaum, kapanpun juga boleh shaum,  dan kondisional. Karena Rasulullah juga tidak peduli hari apa, selagi bertanya kepada istrinya ada makanan atau tidak itu kan bukan niat saum dan ketika istrinya menjawa tidak ada , ya shaumlah NabiMuhammad. Itu menandakan bahwa NabiMuhammadberniat saum tidak harus di hari senin atau kamis saja. Jadi yang namanya shaum, menurut hadits itu ketika rasulullah ingin makan dan tidak ada apa-apa rasulullah shaum saja, maka tidak diniatkan sebelumnya dan itu merupakan hadits sohih. Jadi menurut Muhammadiyyah masalah shaum sunah itu boleh, kalaulah ada contoh dari rasulullah seperti puasa Nabi daud, puasa senin kamis. Sekarang puasa rajab, memang banyak hadits yang menghantarkan shaum pada puasa rajab tapi setelah diseleksi oleh pakar hadits, tidak ada satupun yang mengungkapkan tentang saum Rajab yang sohih dan semuanya dhaif maka dari itu beranggapan bahwa jika shaum di bulan rajab dan di khususkan bulan itu berarti bertentanagan dengan ajaran dan termasuk bid’ah.
F.       Pendapat tokoh tentang adanya ormas islam seperti gafathar, isis, dll
Dengan adanya berbagai isu baik itu gafathar maupun isis, itu menandakan bahwa bagaimana supaya lebih meningkatkan dakwah islamiyah kepada masyarakat, karena sekuat apapun juga akidah seseorang jika keberadaannya lemah akidah, lemah ilmu dll maka dari itu untuk memperkuat akidah, untuk memperkuat keyakinan tentang islam makannya menurut muhamadiyyah islam itu butuh berkemajuan . Maka dari itu kami sedang menggencar-gencarkan islam berkemajuan artinya islam itu harus maju jangan kembali kepada asal-asalan.
Jika islam maju, berarti sesuai dengan perkembangan zaman, istilahnya gaul. Sehingga dalam dakwah Muhammadiyah itu tidak sembarangan, tidak disamakan antara dakwah kepada anak-anak, kepada pejabat, kepada orang kaya, orang miskin jadi ada yang namanya kondisional dan artinya dakwah kepada setiap tingkat ada metode masing-masing, jadi ya itu berkemajuan artinya tidak hanya satu metode disapaikan untuk yang lain, tetapi kita lihat harus menggunakan metode mana ketika kita berdakwah contohnya ketika kepada muslim yang ada di penjara, di tempat yang kumuh dan dikampung dsb. Jadi supaya tidak terjerat oleh organisasi-organisasi yang bertentangan dengan isalm, muhamadiyah senantiasa meningkatkan amal ma’ruf nahi munkanar. Maka dari itu tidak hanya berkoar-koar berdakwah di atas mimar tetapi amal usahapun seperti sekolah, panti asuhan, pendidikan, rumah sakit, bank-bank itu salah satu dakwah islamiah supaya kuat akidahnya dan berkemajuan.
Orang islam yang sakit tidak mungkin ditelantarkan makadiadakan rumah sakit,kalaulah umpamanya ada ketidakmampuan tentunya ada pertimbangan tersendiri dalam berbagai aspek ,itulah Muhammadiyyah, jika bergabung dan betul-betul tau,Muhammadiyyah itu terlihat dari jauh seolah-olah ada peredaan.Bahkan saya orang Muhammadiyah dakwah dimesjid-mesjid yang menggunakan solawat tidak masalah dan tidak ada menurut pandangan Muhammadiyah harus gencar mengungkapkan walaupun pahit, jadi Muhammadiyah senantiasa santai tidak drastis dan tidak fanatik dalam berubah selama itu baik diikuti saja .
G.      Keberadaan Muhammadiyah di Indonesia
Muhammadiyyah tidak hanya ada di indonesian tetapi ada diluar negeri juga,seperti di malaysia yang disebut dengan anggota istimewa.



BAB IV
PENUTUP
A.    Simpulan
1.      Muhamadiyah merupakan organisasi islam dan bukan merupakan aliran, Muhammadiyah dinisbatkan dari kata “Muhammad” yaitu pengikut NabiMuhammad pada dasarnya semua umat islam juga pengikut NabiMuhammad.
2.    Dari segi ibadahnya, organisasi Muhammadiyah mengikuti ajaran NabiMuhammad SAW tetapi pada dasarnya memang semua orang islam harus beribadah sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW berdasarkan hadits yang shohih.
3.    Muhammadiyah menggunakan wujudul hilal untuk menentukan awal ramadhan  karena tidak semua yang wujud itu terlihat bisa jadi  sudah ada tapi tidak terlihat karena cuaca.
4.  Muhamadiyyah tidak bermazhab, semua madzhab diambil jika semua madzhab itu mengungkapkan dalil yang qath’i
5.     Muhammadiyyah tidak hanya ada di indonesian tetapi ada diluar negeri juga, seperti di malaysia yang disebut dengan anggota istimewa.




DAFTAR PUSTAKA

http://www.muhammadiyah.or.id/id/content-50-det-sejarah.html





0 komentar:

Posting Komentar