Jumat, 19 Juni 2015

Makalah Tahapan Pertumbuhan, Perkembangan dan Kebutuhan Anak


MAKALAH
TAHAPAN PERTUMBUHAN, PERKEMBANGAN DAN KEBUTUHAN ANAK
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur Pada Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik
Dosen :
Dra. Yuyun Yulianingsih, M.Pd







Disusun Oleh :
Hazmi Fauzi (1142080031)


KELAS A/ SEMESTER 2
PRODI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2015


1. Hakikat Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Istilah “perkembangan” (development) dalam psikologi merupakan sebuah konsep yang cukup kompleks. Di dalamnya terkandung banyak dimensi. oleh sebab itu, untuk dapat memahami konsep dasar perkembangan, perlu dipahami beberapa konsep lain yang terkandung di dalamnya, di antaranya: pertumbuhan, kematangan, dan perubahan.

A.      Hakikat Perkembangan
Secara sederhana, seifert & Hoffnung (1994) mendefinisikan perkemabangan Sebagai “long-term changes in a person’s growth, feelings, patterns of thinking, social relationships, and motor  skills”. Sementara itu, Chaplin (2002) mengartikan perkembangan Sebagai: (1) perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme, dari lahir sampai mati, (2) pertumbuhan, (3) perubahan dalam bentuk dan dalam integrasi dari bagian-bagian jasmaniah ke dalam bagian-bagian fungsional (4) kedewasaan atau kemunculan pola-pola asasi dari tingkah laku yang tidak dipelajari.
Dari definisi diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa perkembangan tidaklah terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar, melainkan didalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus-menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimilki individu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pemasakan dan belajar.
Perkembangan menghasilkan bentuk-bentuk dan ciri-ciri kemampuan baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ke tahap yang labia tinggi. Perkembangan itu bergerak secara berangsur-angsur tetapi pasti, melalui suatu bentuk/tahap ke bentuk/tahap berikutnya, yang kian hari kian bertambah maju, mulai dari masa pembuahan dan berakhir dengan kematian.
Ini menunjukan bahwa sejak masa konsepsi sampai meninggal dunia, individu tidak pernah statis, melainkan senantiasa mengalami perubahan-perubahan yang bersifat progresif dan berkesinambungan.
Selama masa kanak-kanak sampai menginjak remaja misalnya, ia mengalami perkembagan dalam struktur fisik dan mental; jasmani dan rohani Sebagai ciri-ciri memasuki jenjang kedewasaan. Demikian seterusnya, perubahan-perubahan diri individu itu terus berlangusng tanpa henti meskipun kemudian laju perkembanganya semakin hari semakin pelan, setelah ia mencapai titik puncaknya. Ini berarti bahwa dalam konsep perkembangan juga tercakup makna pembusukan (decay) seperti kematian.
B.      Hakikat Pertumbuhan
Isitilah pertumbuhan dalam konteks perkembangan merujuk perubahan-perubahan yang bersifat kuantitatif, yaitu peningkatan dalam ukuran dan struktur, seperti pertumbuhan badan, pertumbuhan kaki, kepala, jantung, paru-paru dan sebagainya. Dengan demikian, tidak tepat jika kita misalnya mengatakan pertumbuhan ingatan, pertumbuhan berpikir, pertumbuhan kecerdasan, dan sebagainya, sebab kesemuanya merupakan perubahan fungsi-fungsi rohaniah. Demikian juga tidak tepat kalau dikatakan pertumbuhan penginderaan, dan sebagainya, sebab kesemuanya merupakan perkembangan fungsi-fungsi jasmaniah.
Pertumbuhan fisik bersifat meningkat, menetap, dan kemudian menagalami kemunduran sejalan dengan bertambahnya usia. Ini berarti bahwa pertumbuhan fisik ada puncaknya. Sesudah suatu masa tertentu fisik mulai mengalami kemunduran dan berakhir pada keruntuhan di hari tua, di mana kekuatan dan kesehatanya berkurang, pancaindra menjadi lemah atau lumpuh sama sekali. Berbeda halnya dengan perkembangan aspek mental atau psikis yang realitf berkelanjutan, sepanjang individu yang bersangkutan tetap memeliharanya.
Dengan demikian, Istilah “pertumbuhan” lebih cenderung menujuk pada kemajuan fisik atau pertumbuhan tubuh yang melaju sampai pada suatu titik optimum dan kemudian menurun menuju pada kemajuan mental atau perkembangan rohani yang melaju terus sampai akhir hayat. Perkembagan rohani tidak terhambat walaupun keadaan jasmani sudah sampai puncak pertumbuhanya. Meskipun terdapat perbedaan penekanan dari kedua istilah tersebut, tetapi dalam literatur psikologi perkembagan istilah “pertumbuhan” digunakan dalam pengertian yang sama dengan perkembangan. Bahkan menurut Witherington (1986) “pertumbuhan dalam pengertiannya yang luas meliputi perkembangan”.

2. Hukum – Hukum  Perkembangan
Suatu konsepsi yang biasanya bersifat deduktif, dan menunjukkan adanya hubungan yang ajeg (continue) serta dapat diramalkan sebelumnya antara variabel-variabel yang empirik, hal itu lazimnya disebut Sebagai hukum perkembangan. Hukum-hukum perkembangan tersebut antara lain:
A.      Hukum Tempo Perkembangan
Bahwa perkembangan jiwa tiap-tiap anak itu berlainan, menurut temponya masing-masing perkembangan anak yang ada. Ada yang cepat ada pula yang lambat. Suatu saat ditemukan anak yang cepat sekali menguasai keterampilan berjalan, berbicara tetapi pada saat yang lain ditemui seorang anak yang berjalannya atau bicarannya lambat dikuasai. Mereka memiliki tempo sendiri-sendiri.
B. Hukum Irama Perkembangan
        Hukum ini mengungkapkan bukan lagi cepat atau lambatnya perkembangan anak, akan tetapi tentang irama atau ritme perkembangan. jadi perkembangan anak itu mengalami  gelombang “pasang surut”. Mulai lahir hingga dewasa, kadangkala anak tersebut mengalami juga kemunduran dalam suatu bidang tertentu.
       Misalnya, akan mudah sekali diperhatikan jika mengamati perkembangan (strum und drang) pada anak-anak menjelang remaja. Ada anak yang menampakkan kegoncangan yang hebat, tetapi ada pula anak yang melewati masa tersebut dengan tenang tanpa menunjukkan gejala-gejala yang serius.
C. Hukum Konvergensi Perkembangan
       Pandangan pendidikan tradisional di masa lalu berpendapat bahwa hasil pendidikan yang dicapai anak selalu dihubung-hubungkan dengan status pendidikan orang tuannya. Menurut kenyataan yang ada sekarang ternyata bahwa pendapat lama itu tidak sesuai lagi dengan keadaan. Pandangan lama itu dikuasasi oleh aliran nativisme yang dipelopori Schopen Hauer yang berpendapat bahwa “manusia adalah hasil bentukan dari pembawaanya”. Sejak anak lahir ia membawa bakat, kesanggupan (potensi) untuk dikembangkan dan sifat bawaan tertentu. Pembawaan itu akan berkembang sendiri, dalam hal ini pendidikan tidak mampu untuk mengubahnya. Aliran dalam pendidikan yang menganut paham nativisme ini disebut aliran yang pesimis.
D. Hukum Kesatuan Organ
       Tiap-tiap anak itu terdiri dari organ-organ (anggota) tubuh, yang merupakan satu kesatuan, di antara organ-organ tersebut antara fungsi dan bentuknya, tidak dapat dipisahkan berdiri integral.
       Suatu contoh perkembangan kaki yang semakin besar dan panjang, mesti diiringi oleh perkembangan otak, kepala, tangan, dan lain-lainnya.
E. Hukum Hierarki Perkembangan
       Bahwa perkembangan anak tidak mungkin akan mencapai suatu fase tertentu dengan cara spontan atau sekaligus, akan tetapi harus melalui tingkat-tingkat/tahapan tertentu yang telah tersusun sedemikian rupa. Sehingga perkembangan diri seseorang menyerupai derat perkembangan.
       Contoh: Perkembangan pikiran/intelek anak, mesti didahului dengan perkembangan pengenalan dan pengamatan.
F. Hukum Masa Peka
      Masa Peka ialah suatu masa yang paling tepat untuk berkembang suatu fungsi kejiwaan atau fisik seorang anak. Sebab perkembangan suatu fungsi tersebut tidak berjalan secara serempak. bersamaan antara satu dengan yang lainnya. Suatu contoh: masa peka untuk berjalan bagi seorang anak itu pada awal tahun kedua. Dan untuk berbicara, sekitar akhir tahun pertama.
G. Hukum Memperkembangkan Diri
     Dalam kehidupan bimtul dorongan dan hasrat untuk mempertahankan diri. Dorongan yang pertama adalah dorongan mempertahankan diri, kemudian disusul dengan dorongan mengembangikan diri.
      Dorongan mempertahanakan diri terwujud, misalnya pada dorongan makan dan menjaga keselamatan diri. Anak menyatakan perasaan lapar , haus, dan sakit dalam bentuk menangis. Ia mempertahankan dirinnya dengan cara menangis. Jika ibu-ibu mendengar anaknya menangis, tangisnya itu dianggap Sebagai dorongan mempertahankan diri.
       Dalam perkembangan jasmani terlihat hasrat dasar untuk mengembangkan pembawaan. Untuk anak-anak dorongan mengembangkan diri berbentuk hasrat mengenal lingkungan, usaha belajar berjalan, kegiatan bermain, dan sebagainya. Di kalangan remaja timbul rasa persaingan dan perasaan belum puas terhadap apa yang telah tercapai. Hal ini dapat dianggap Sebagai dorongan mengembangkan diri.
H. Hukum Rekapitulasi
       Hukum ini kelanjutan dari teori rekapitulasi, yakni perkembangan jiwa anak adalah ulangan kembali secara singkat dari perkembangan manusia di dunia. Dari masa berburu hingga masa industri.
        Hackel, seorang ahli biologi memperkenalkan hukum biogenetis. Dalam hukum itu dikatakan Ontogenese adalah rekapitulasi, dari phylogenese. Ontogenese adalah perkembangan idividual. Phylogenese  adalah kehidupan nenek moyang suatu bangsa. Rekapitulasi berasal dari kata rekap. Hukum biogenetis yang berasal dari Hackel itu oleh Stanley Hall dinamakan teori rekapitulasi. Teori rekapitulasi mengatakan bahwa perkembangan yang dialami seorang anak merupakan ulangan (secara cepat) sejarah kehidupan suatu bangsa yang berlangsung dengan lambat selama berabad-abad.

3.      Perkembangan Otak Anak
Janin – 5 tahun
Di lima tahun pertama kehidupan si kecil ini, fase perkembangan otaknya terbagi atas dua tahap :
·         0 – + 10 bulan (Janin)
Pada masa ini bagian-bagian otak mulai terbentuk, neuron (sel saraf) mulai tumbuh. Ini adalah masa paling penting dalam proses perkembangan otak anak karena akan terbentuk lebih dari 100 milyar sel sel saraf / neuron.Agar proses perkembangan ini berlangsung optimal, ibu yang sedang mengandung perlu mengatur pola hidup selama masa kehamilan. Selain diharuskan untuk menjauhi rokok, alkohol, obat-obatan, dan menghindari bahan-bahan yang mengandung logam berat, karena bisa mengganggu pertumbuhan otak janin; ibu hamil juga disarankan untuk tetap relaks (tidak mengalami stres), mengonsumsi cukup asam lemak essential spt AA,DHA,  Asam folat, vitamin B6 dan B12. Para ibu juga diharapkan merangsang proses pembentukan otak janinnya dengan berbagai sensasi sentuh, dan suara.
·         Lahir – 6 tahun
Setelah lahir, fase perkembangan otak yang dialami si kecil adalah  pembentukan hubungan-hubungan/koneksi antara bermilyar-milyar sel saraf  yang sudah terbentuk dan pematangan fungsi bagian-bagian otak yang digunakan untuk mengontrol gerak tubuh, berpikir, dan berpresepsi.Bagian otak yang paling berkembang pada fase ini adalah Frontal Lobes. Bagian otak ini mengembangkan emosi, kedekatan, proses perencanaan, dan daya ingat. Pengenalan dan rasa nyaman anak terhadap diri sendiri juga berkembang pesat pada masa ini, sementara pengalaman sehari-hari akan membentuk kenyamanan emosional.
Saat berusia 6 tahun, berat otak anak telah mencapai 95% berat otak orang dewasa dan proses pematangan fungsi otak pada periode tumbuh-kembang ini membutuhkan energi dalam jumlah banyak dibandingkan periode lain.
Pada masa pematangan fungsi otak ini, hal yang penting dipersiapkan adalah asupan nutrisi  yang baik dan lingkungan yang kondusif untuk menstimulasi kerja otak agar optimal. Nutrisi yang penting untuk pematangan fungsi otak ini adalah asam lemak essensial seperti AA, DHA dan EPA, asam amino seperti asam L-Glutamat dan juga multivitamin seperti Vitamin B kompleks, Vit B12 dan asam folat. Berikan anak berbagai kesempatan, dan respons dia dengan kasih sayang. Sebaliknya perlakuan negatif atau kasar akan memicu perkembangan emosi yang tidak stabil di masa depan.
Usia sekolah
Proses perkembangan otak di usia sekolah terus berlangsung dan sebenarnya merupakan bagian dari proses perkembangan hingga dewasa (usia produktif, siap bekerja).
·         7 – 12 tahun
Pada tahapan ini hubungan antarsaraf, atau dikenal sebagai ‘grey matter’ yaitu proses menyambungkan bagian-bagian otak terus berlangsung dan di perkuat.  Pengulangan stimulasi akan memperkuat hubungan2 yang telah terjalln.  Jaringan lemak yang menyelimuti sel saraf atau sering disebut sebagai ‘white matter’ bertambah banyak, sehingga terjadi percepatan penyampaian sinyal yang berarti otak bekerja sangat baik untuk mengontrol sistem tubuh, dan hubungan antara sel saraf menjadi stabil.Pada tahapan ini, bagian yang paling terakhir mencapai kematangan adalah Prefrontal cortex. Bagian otak ini berfungsi mengendalikan gerakan-gerakan, juga pengambilan keputusan. Tak heran jika banyak remaja terlihat sulit mengendalikan tubuh mereka. Cenderung bergerak cepat, atau sebaliknya kikuk bergerak.
Pada usia ini, orang tua sebaiknya merangsang  anak  untuk  dapat mengendalikan   gerak   tubuh. Caranya   adalah  dengan mengajaknya  berolahraga. Umumnya  gerakan-gerakan olahraga memiliki tujuan tertentu yang dapat merangsang anak menggerakan tubuhnya, sehingga terlatih dan terarah.
Sesungguhnya fase perkembangan usia ini berlangsung hingga seseorang mencapai usia 22 tahun. Pada usia tersebut, otak akan mencapai performa terbaik, dalam fungsi dan respons.

4. Perbedaan Individual dan Jenis Kebutuhan Anak Usia Sekolah Dasar
2.      Perbedaan Individual Anak Usia SD/MI
Perbedaan individual seorang anak akan terjadi pada setiap aspek perkembangan anak itu. Aspek perkembangan tersebut di antaranya adalah pada aspek perkembangan fisik, intelektual, moral, maupun aspek kemampuan.
Perkembangan pada aspek perkembangan fisik jelas terlihat dari perbedaan bentuk, berat, dan tinggi abdan. Selain itu, Perbedaan fisik juga dapat diidentifikasi dari segi kesehatan anak. Sedangkan perbedaan pada aspek perkembangan intelektual dapat dilihat sejalan dengan tahapan usia, kemampuan anak pun meningkat. Namun demikian, karena pengaruh berbagai faktor, kemampuan di antara anak-anak tersebut bisa berbeda. Misalnya, si A pada usia 7 tahun sudah bisa membuat suatu karangan yang bersifat aplikasi dari suatu konsep, tetapi si B pada usia yang sama belum bisa melakukan hal yang dilakukan si A.
Piaget dan Kohlberg masing-masing mempunyai pandangan tersendiri tetang perbedaan pada aspek perkembangan moral. Piaget mempunyai pandangan bahwa moralitas berkembang pada 2 tahap utama, yaitu tahap hambatan moralitas dan moralitas kerja sama sedangkan kohlberg melukiskan 3 tingkatan alasan moral, yaitu Pra-conventional morality, conventional morality dan post-conventional morality.
Perbedaan kemampuan seorang anak bisa mencakup perbedaan dalam berkomunikasi, bersosialisasi atau perbedaan kemampuan kognitif, faktor yang menonjol dalam membentuk kemampuan kognitif adalah faktor pembentukan lingkungan alamiah yang bisa dibuat.
3.      Jenis-Jenis Kebutuhan Anak Usia SD/MI
Istilah “kebutuhan”, “dorongan” atau “motif” pada kehidupan sehari-hari sering digunakan secara berganitan. Namun demikian, secaara konsep ada perbedaan diantaranya. kebutuhan lebih mengacu pada keadaan di mana seseorang terdorong melakukan sesuatu karena adanya kekurangan pada jaringan-jaringan di dalam dirinya yang lebih bersifat fisiologis. Sedangkan dorongan atau motif merupakan kebutuhan tingkat tinggi yang bersifat psikologis.
        Banyak ahli di bidangnya melakukan penggolongan terhadap aspek-aspek kebutuhan, dan pada umumnya bisa dikatakan sama intinya. Cole Dan Bruce (1959) membagi kebutuhan menjadi 2 golongan yaitu kebutuhan fisiologis dan psikologis. Sedangkan A. Maslow (1954) membagi kebutuhan menjadi 7 tingkatan atau jejaring dari yang mendasar hingga kebutuhan yang paling kompleks.
       dalam kaitannya dengan perbedaan individu pada anak usia SD, digunakan penggolongan kebutuhan oleh Lindgren (1980) berupa 4 tingkatan kebutuhan yaitu kebutuhan jasmaniah, perhatian, dan kasih sayang, kebutuhan untuk memiliki dan aktualisasi diri.
        Hurlock (1978) menyatakan bahwa dalai pemenuhan beberapa kebutuhan anak, disiplin daapt digunakan. Sedangkan DeCecco dan Grawford (1974) mengajukan 4 sikap guru dalam memberikan dan meningkatkan motivasi siswa.

5. Perkembangan Anak Usia Sekolah Menengah

A. Perkembangan Fisik
            Peserta didik usia 12-19 tahun merupakan periode remaja transisi, yaitu periode transisi antara masa kanak-kanak dan usia dewasa. kemudian pubertas adalah waktu perkembangan fisik yang cepat, menandakan akhir masa kanak-kanak dan awal dari kematangan seksual. peserta didik perempuan maupun laki-laki umumnya menyelesaikan masa ini tanpa masalah.
            Selama masa kanak-kanak, laki-laki menghasilkan hormon endrogen sama dengan perempuan menghasikan hormon esstrogen. perempuan umumnya mulai pubertas beberapa tahun lebih awal dari pada laki-laki, sekitar usia 11-12 tahun, sedangkan masa pubertas laki-laki sekitar usia 12 hingga 14 tahun.

B. Masalah kesehatan
Tiga kemungkinan masalah kesehatan utama yaitu:
1.Gangguan Makan
            Gangguan makan sering muncul akibat keasikan dengan makanan, keasikan dengan makanan ini berdampak paling umum di kalangan remaja yaitu obesitas atau kegemukan. kebiasaan mengurangi makan untuk menghindari kegemukan atau obesitas pun bisa berbahaya karena bia menyebabkan anoreksia nervosa atau kelaparan.Anoreksia adalah bulimia nervosa,berupa gangguan yang mengikuti pola pembersihan makan yang sudah dimakan.
2. Depresi
            Depresi remaja sering disebabkan oleh perubahan hormon, tantangan hidup, dan masalah penampilan. Perempuan remaja lebih banyak menderita depresi atau stres berat dibandingkan dengan laki-laki remaja. Angka statistik menunjukan, sekitar 13 persen remaja dilaporkan setidaknya sekali mencoba bunuh diri.
3. Penyalahgunaan zat
            Beberapa remaja, termasuk peserta didik menyalahgunakan zat atau obat-obatan terlarang untuk menghindari rasa sakit, stres sehari-hari bahkan untuk mengatas namakan “solidaritas” dengan rekan-rekannya bagian dari aktifitas per-geng-an tertentu kemudian ada lagi mereka anggap menyalahgunakan zat atau obat-obatan terlarang adalah simbol kedewasaan diri.
C. Perkembangan Kognitif
            Pada fase sebelumnya, ketika masih sebagai anak-anak mereka hanya bisa berfikir kongkret. ketika memasuki tahap operasi formal mereka bisa berfikir abstrak dan deduktif. Titik puncak atau jatuh tempo perkembangan kognitif terjadi ketika peserta didik sudah memasuki usia dewasa dan jaringan makin berkembang.hal ini menunjukan nilai pendidikan dalam pematangan kognitif itu dirangsang oleh kontinyuitas dan konsitensi proses aktivasi.
Pengembangan Intelektual
            Menurut Robert Strenberg, kecerdasan terdiri dari tiga aspek atau dikenal dengan dengan triarkis teori{triarchic theory}yaitu:
1. Komponensial {componential intelligence} bermakna kemampuan untuk menggunakan strategi pemrosesan informasi internal ketika peserta didik mengindentifikasi dan berpikir tentang pemecahan masalah dan mengevaluasi hasil.
2. Kecerdasan eksperiensial (experiential intelligence) adalah kemampuan untuk membandingkan informasi lama dan baru, dan untuk menempatkan fakta bersama dengan cara-cara yang asli.
3. Kecerdasan kontekstual(contextual intelligence) adalah kemampuan untuk menerapkan kecerdasan praktis, termasuk memiliki kepedulian sosial,budaya, dan konteks historis.
Pengembangan Moral dan Penilaian
            Sebagian pengembangan moral peserta didik tergantung pada munculnya empati,rasa malu, dan rasa bersalah. sebagai bukti bahwa peserta didik meningkat kemampuan kognitifnya,mereka mampu menimbang konsekuensi dari sudut kepentingan pribadi dan kepentingan orang-orang di sekitar mereka.
Pencarian untuk Identitas: Usia 12-19 tahun
            Peneliti Carol Gilligan dan Deborah Tanenn ternyata menemukan perbedaan dalam cara-cara di mana laki-laki dan perempuan mencapai identitas itu.Gilligan telah mencatat bahwa perempuan utamanya mencari “keintiman hubungan”, sedangkan laki-laki mengejar kemandirian dan prestasi.
D. Orientasi Seksual dan Seksualitas
            Peserta didik pada usia sekolah menengah berusaha secara total menemukan satu identitas, berupa perwujudan orientasi seksual yang tercermin dari hasrat seksual,emosional,romantis kepada anggota jenis kelamin yang sama atau berbeda atau keduanya.perjuangan peserta didik untuk menemukan dalam outlet seksual yang tepat mengartikulasikan keinginan mereka. mereka berpartisipasi dalam “kegiatan seksual” yang sama dengan orang dewasa pada umumnya,namun biasanya belum merupakan komitmen hubungan jangka panjang.
E. Kenakalan Remaja
            Peserta didik usia remaja menjadi remaja nakal lebih banyak di tentukan oleh kurangnya pengawasan orang tua dan disiplin ketimbang status ekonomi.pemberontakan remaja dapat tumbuh dari ketegangan antara”keinginan remaja untuk memenuhi kebutuhan secara segera”dan”desakan orang tua agar menu da keinginan itu”. dan Guru pun mestinya ikut mempersuasi anak agar sebisa mungkin menghindari tindakan”lebih besar pasak dari pada tiang”itu.

6. Implikasi Karakteristik Peserta Didik Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
       Karakteristik individu adalah keseluruhan kelakuan dan kemampuan yang ada pada individu Sebagai hasil dari  pembawaan dan lingkungannya. Untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu baik dalam hal fisik, mental maupun emosional ini biasanya digunakan istilah anture dan nurture (alam, sifat dasar) adalah karakteristik individu atau sifat khas seseorang yang dibawa sejak kecil atau yang diwarisi Sebagai sifat pembawaan, sedangkan nurture (pemeliharaan pengasuhan) adalah faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi individu sejak dari masa pembuahan sampai selanjutnya.
      Nature dan nurture ini merupakan dua faktor yang mempengaruhi karakteristik individu. Seorang bayi yang baru lahir merupakan hasil dari dua garis keluarga, yaitu garis keluarga ayah dan garis keluarga ibu, sejak saat terjadinya pembuahan atau konsepsi kehidupan, secara berkesinambungan dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor lingkungan yang merangsang. Masing-masing perangsang tersebut, baik secara terpisah atau terpadu dengan rangsangan yang lain, semuanya membantu perkembangan potensi-potensi biologis demi terbentuknya tingkah laku manusia yang dibawaa sejak lahir. Hal ini pada gilirannya membentuk suatu pola karakteristik tingkah laku yang dapat mewujudkan seseorang Sebagai individu yang berkarakteristik berbeda dengan individu-individu lain.
       Adanya karakteristik individu yang dipengaruhi oleh faktor bawan dan lingkungan tersebut jelas membawa implikasi terhadap proses pendidikan di sekolah. Dalam hal ini, proses pendidikan di sekolah harus disesuaikan dengan karakteristik peserta didik secara individu. Berdasarkan pemahaman ini, anak secara esensial proses belajar mengajar yang dilaksanakan guru adalah menyediakan kondisi yang kondusif agar masing-masing individu peserta didik dapat bekerja secara opitimal, meskipun wujudnya mereka itu datang dan ada secara berkelompok. ini berarti bahwa di dalam proses belajar mengajar, setiap individu peserta didik memerlukan perlakuan yang berbeda, sehingga strategi dan usaha pealaksanaanya pun akan berbeda-beda dan bervariasi.
Dalam pembicaraan mengenai karakteristik individu peserta didik ini, ada tiga hal yang perludiperhatikan,yaitu:
1. karakteristik yang berkenaan dengan kemampuan awal atau prerequisite skills, seperti kemampuan intelektual, kemampuan berpikir dan hal-hal yang berkaitan dengan aspek psikomotor.
2. Karakteristik yang berhubungan dengan latar bealakang dan status sosio-kutural.
3. Karakteristik yang berkenaan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian, seperti sikap, perasaan, minat dan lain-lain.
      Pemahaman tentang karakteristik individu peserta didik ini memiliki arti penting dalam interaksi belajar-mengajar. Bagi sorang guru khususnya, informasi mengenai karakteristik individu peserta didik ini akan sangat berguna dalam memilih dan menentukan pola-pola pengajaran yang lebih baik atau yang lebih tepat, yang dapat menjamin kemudahan belajar bagi setiap peserta didik. Dengan pemahaman atas karakteristik peserta didik ini, guru dapat merekonstruksi dan mengorganisasikan materi pelajaran sedemikian rupa, memilih dan menentukan metode yang lebih tepat, sehingga terjadi proses interaksi dari masing-masing komponen belajar mengajar secara optimal. Di samping itu, pemahaman atas karakteristik individu peserta didik juga sangat bermanfaat bagi guru dalam memberikan motivasi dan bimbingan bagi setiap individu peserta didik ke arah keberhasilan belajarnya.



REFERENSI :
Suhada, Idad dan Heri Gunawan. 2013. Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Insan
         Mandiri.
Ahmadi, Abu dan Munawar Soleh. 2005. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Rineka Cipta.
Desmita. 2012. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Remaja Rosdakarya.

0 komentar:

Posting Komentar