Jumat, 19 Juni 2015

Makalah Remaja, Pemuda dan Permasalahanya



MAKALAH
REMAJA, PEMUDA DAN PERMASALAHANYA
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur Pada Mata Kuliah Ilmu Sosial Dasar
Dosen :
Drs. Idad Suhada, M.Pd
Buhori Muslim, M.Pd






Disusun Oleh :
Kelompok 6
Anggota :
Andri Andriansyah (1142080007)
Hazmi Fauzi ( 1142080031)


KELAS A/ SEMESTER 2
PRODI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2015



A.    Remaja 

1.      Pengertian Remaja
Remaja dalam bahasa latin yaitu adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagiyang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik. Masa remaja adalah masa transisi atau peralihan, karena masa remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Adapun remaja adalah generasi yang berumur 15 tahun sampai 20 tahun. Apabila mereka bersekolah, batasannya adalah mereka yang belajar di tingkat SLTP, SLTA dan tahun-tahun awal memasuki perguruan tinggi.
Menurut Zakiah Darajat (1990: 23) remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. Massa berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun.
Masa remaja merupakan masa yang banyak menarik perhatian masyarakat karena memiliki sifat-sifat khas dan yang menentukan dalam kehidupan individu dalam masyarakatnya. karena manusia dewasa harus hidup dalam alam kultur dan harus menempatkan dirinya diantara nilai-nilai (kultur) itu maka perlu mengenal dirinya sebagai pendukung maupun pelaksana nilai-nilai. Untuk inilah maka ia harus mengarahkan dirinya agar dapat menemukan diri, meneliti sikap hidup yang lama dan mencoba-coba yang baru agar dpat menjadi pribadi yang dewasa. Pada dasarnya ini masih dirinci kedalam beberapa masa, yaitu:
a.       Awal Remaja (13-15)
Massa ini adalah cepatnya pertumbuhan yang sering membawa kejanggalan, memperlihatkan kurangnya koordinasi anatra fikiran dan badan. Hal ini juga memberikan rasa malu pada anak-anak muda karena organ-organ tubuh tertentu, seperti hidung, mulut dan kaki bertumbuh lebih cepat dari anggota tubuh yang lain membuat mereka seperti seorang anak yang kecilnya berwajah buruk tetapi waktu dewasa menjadi seseorang yang berwajah cantik atupun tampan dan memberikan rasa ketakutan yang tak tersalurkan yang membuat mereka akan selalu merasa begitu. Usia untuk bergerombol sekarang mencapai puncaknya, mulai surut dan digantikan dengan ketertarikan kepada lawan jenis dan disertai perasaan malu pada periode ini. Perkembangan mental yang membuat remaja lebih kritis lalu sering berkhayal dan memikirkan tentang masa depannya dan apa yang akan dikerjakannya nanti. Karakteristik pada hal-hal yang berlanjut dan hal-hal bersifat semangat mulai menjadi masalah pengalaman daripada penerimaan banyak fakta.
b.       Pertengahan Remaja (16-17)
Pertumbuhan berlanjut dengan cepat, anak muda dalam banyak hal mencapai ketinggian fisiknya pada akhir periode usia ini. Dimna pada waktu yang lalu anak-anak ini telah melalui suatu periode dimana mereka mencari jati diri, remaja sekarang mulai untuk mengembangkan rasa individualitasnya dan menjadi seseorang yang mempunyai keputusannya sendiri. Dalam rohaninya, mereka terus berkembang dalam pengenalan akan nilai-nilai sosial dan nilai-nilai kerohanian menajadi utama, dengan alasan akan pergaulan yang salah, mereka akan kehilangan daya tarik.
c.       Akhir remaja (18-24)
Secara fisik, ini adalah waktu yang lambat untuk  tumbuh, pertumbuhan yang terlambat pada bagian yang lain akan menyesuaikan dengan bagian yang lain. Kepribadian muncul dan karakter menjadi tetap. Rasa memerlukan orang lain sekarang menemukan jalan satu klub, kelompok persaudaraan, tempan satu rumah. Keraguan apapun akan berhubungan denagan keagamaan yang juga difikirkan dan suatu dasar yang memuaskan dalam penemuan iman atau ini adalah penolakan terhadap barang peninggalan masa lalu, dengan kekecewaan yang menghasilkan sinisme. Karakteristik pada lawan jenis telah menemukan pemecahannya melalui cinta dan mebangun rumah tangga.

2.      Permasalahan Remaja
Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring  dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka. Untuk dapat memehami remaja, maka perlu dilihat berdasarkan perubahan pada dimensi-dimensi berikut:
a.       Dimensi Biologis
Pada saat seorang anak memasuki massa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja putri atau pun perubahan suara pada remaja laki-laki, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar.
b.      Dimensi Kognitif
Kemampuan berfikir para remaja semakin berkembang sedemikian rupa, para remaja tidak lagi menerimainformasi apa adanya tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mendapatkannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan  pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan oprasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka.
Pada kenyataannya masih banyak remaja di negara-negara berkembang termasuk Indonesia bahkan orang dewasa yang pola fikkirnya masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi. Penyebabnya bisa juga diakibatkan oleh pola asuh orang tua yang cenderung masih memperlakukan remaja sebagai anak-anak, sehingga anak tidak memiliki keleluasaan dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai dengan usia dan mentalnya.
c.       Dimensi Moral
Masa remaja adalah periode dimna seseorang mulai bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka, misalnya: politik, kenusiaan, perang, keadaan sosial dan sebagainya. Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku, sederhana dan absolut yang diberikan pada mereka selama ini tanpa bantahan. Remaja mulai mempertahankan keabsyahan pemikiran yang ada dan mempertimbangkan lebih banyak alternatif lainnya. Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya.
d.      Dimensi Psikologi
Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini suasana hati bisa berubah dengan sangat cepat. Perubahan suasana hati yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah atau kegiatan sehari-hari dirumah. Para remaja juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali mereka terlihat “tidak memikirkan akibat” dari perbuatan mereka. Remaja yang diberi kesempatan umtuk mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih berhati-hati, lebih percaya diri, dan mampu bertanggung-jawab.

B.     Pemuda
1.      Pengertian Pemuda
Kata pemuda (youth) dalam kamus Webstersnya sebagai “the time of life between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person” (waktunya hidup diantara masa kanak-kanak dan kedewasaan; awal kedewasaan; keadaan muda atau belum matang; kesegaran dan sifat tenaga orang muda).
Dilihat dari kelompok usianya, pemuda dapat dikelompokkan kepada usia antara 15-30 tahun, dan kadang-kadang sampai usia 40 tahun. Dalam bahasa Arab pemuda disebut fata atau al-fityatu. Istilah fityatu digunakan dalam bahasa Al-Quran untuk menyebutkan pemuda ahabul kahfi.
“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. [QS. Al-Kahfi:10]
Pemuda sering disebut dengan generasi muda. Isilah inii merupakan istilah demografi dan sosiologis dalam konteks tertentu. Dalam berapa literatur dikemukakan bahwa pemuda ialah kelompok manusia yang berusia antara 10-24, 15-30, 15-35 serta mereka yang secara psikologis mempunyai jiwa muda dan mempunyai identitas kepemudaan.
Di pundak emuda terdapat bermacam-macam harapan, terutama dari generasi lainnya. Hal ini karena mereka diharapkan dapat menjadi generasi penerus, yang akan melanjjutkan perjuangan generasi sebelumnya, dan generasi yang hrus mengisi dan melangsungkan estafet pembangunan secara terus-menerus.
Pada generasi ini terdapat permasalahan yang sngat bervariasi, yang jika tidak dapat diatasi secara profesional, pemuda akan kehilangan fungsinya sebagai penerus pembangunan. Di samping menghadapi berbagai permasalahan, pemuda memiliki potensi yang melekat pada dirinya dan sangat penting artinya sebagai sumber daya manusia.

2.      Permasalahan Pemuda
Masalah kepemudaan dapat ditinjau dari dua asumsi: Penghayatan mengenai proses perkembangan  bukan sebagai suatu kontinum yang sambung menyambung tetapi fragmentaris, terpecah-pecah, dan setiap fragmen mempunyai artinya sendiri-sendiri. Pemuda dibedakan dari anak dan orang tua dan masing-masing fragmen itu mewakili nilai sendiri.
Menurut pola dasar pembinaan dan pengembangan generasi muda bahwa permasalahan generasi muda  dapat dilihat dari beberapa aspek sosial, yaitu:


a.       Sosial Psikologi
Proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian serta penyesuaian diri secara jasmaniah dan rohaniah sejak dari masa kanak-kanak sampai usia dewasa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti keterbelakangan jasmani dan mental, salah satu oleh orang tua/keluarga maupun guru-guru di lingkungan sekolah, pergaulan negatif dari lingkungan pergaulan sehari-hari oleh teman sebayanya. Hambatan-hambatan  tersebut di atas memungkinkan timbulnya kenakalan remaja, ketidakpatuhan kepada orang tua dan guru, kecanduan pada narkotika dan lain-lain yang kesemuanya itu merupakan gejala-gejala yang perlu memperoleh perhatian dari semua pihak.
b.      Sosial Budaya
Kaum muda perkembangannya ada dalam proses pembangunan dan modernisasi dengan segala akibat sampingnya yang bisa mempengaruhi proses pendwasaanya. Benturan antara nilai-nilai budaya tradisional denagn nilai-nilai baru yang cenderung menimbulkan pertentangan antara sesama generasi muda dan generasi sebelumnya yang pada gilirannya akan menimbulkan perbedaan sistem nilai dan pandangan antara generasi tua dan generasi muda.
c.       Sosial Ekonomi
Pertambahan jumlah penduduk yang cepat dan belum meratanya pembangunan dan hasil-hasil pembangunan mengakibatkan makin bertambahnya pengannguran dikalangan pemuda, karena kurangnya lapangan kerja. Kurangnya lapangan kerja ini menimbulkan berbagai problema sosial serta frustasi di kalangan kaum muda.
d.      Sosial Politik
Dalam kehidupan sosial politik aspirasi pemuda berkembang dan cenderung mengikuti pola infrastruktur politik yang hidup dan berkembang pada suatu periode tertentu. Akibatnya makin dirasakan bahwa di kalangan pemuda masih ada hambatan-hambatan untuk menumbuhkan satu orientasi baru yakni pemikiran untuk menjangkau kepentingan nasional dan bangsa di atas segala kepentingan lainnya. Dirasakan belum terarahnya pendidikan politik di kalangan pemuda dan belum dihayatinya mekanisme demokrasi Pancasila maupun lembaga-lembaga konstitusional.
Dari uraian-uraian di atas dapat diketahui bahwa masalah-masalah yang menyangkut generasi muda deasa ini adalah:
a)      Dirasakan menurunya jiwa idealisme, patriotisme dan ansionalisme di kalangan masyarakat termasuk generasi muda.
b)      Kekurangpastian yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya.
c)      Belum seimbangnya jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan yang tersedia, baik yang formal maupun yang non formal.
d)     Kurangnya lapangan dan kesempatan kerja serta tingginya tingkat pengangguran/setengah pengangguran di kalangan generasi muda dapat mengakibatkan berkurannya produktifitas nasional dan memperlambat kecepatan laju perkembangan pembangunan nasional serta dapat menimbulkan berbagai problema sosial lainnya.
e)      Kurangnya gizi yang dapat menyebabkan hambatan bagi perkembangan kecerdasan dan pertumbuhan badan di kalangan generasi muda disebabkan oleh rendahnya daya beli dan kurangnya pengertian tentang gizi dan menu seimbang di kalangan masyarakat yang berpengahsilan rendah.
f)       Masih banyaknya perkawinan di bawah umur, terutama di kalangan masyarakat daerah pedesaan.
g)      Adanya generasi muda yang menderita fisik, mental dan sosial yang memerlukan usaha-usaha yang lebih sungguh-sungguh, agar mereka dapat berkembang menjadi warga negara yang produktif biarpun ada ketunaan.
h)      Pergaulan bebas yang membahayakan sendi-sendi perkawinan dan kehidupan keluarga.
  Penanggulangan masalah-masalah di atas memerlukan usaha-usaha secara terpadu, terarah dan terencana dari seluruh potensi nasional dengan melibatkan generasi muda sebagai subyek pengembangan. Belum didlihatnya secara menyeluruh potensi yang ada ini menyebabkan penyelesaian masalah tersebut belum berjalan secepat yang diinginkan. Organisasi-organisasi generasi muda yang telah berjalan baik adalah merupakan potensi yang siap untuk dilibatkan dalam kegiatan pembangunan. (Abu Ahmadi,1991:115-130).
Berbagai permasalahan generasi yang muncul pada saat ini antara lain berikut ini:
a.       Menurunnya jiwa idealiisme, parriotisme dan nasionalisme di kalangan masyarakat, termasuk jiwa pemuda.
b.      Kekurang pastian yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya.
c.       Belum seimbanganya antara jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan yang tersedia, baik yang formal maupun nonformal. Tingginya jumlah putus sekolah karena berbagai sebab bukan hanya merugikan generasi muda sendiri, tetapi merugikan seluruh bangsa.
d.      Kekurangan lapangan dan kesempatan kerja serta tingginya tingkat pengangguran dan setengah pengangguran di kalangan generasi muda mengakibatka berkurangnya produktivitas oleh nilai-nilai (kekuasaan, rakyat, pemuda dan sebagainya), makin besar kemungkinan timbulnya pengaburan arti. Karena itu, masalah arti menjadi sangat penting.
Pemuda atau generasi muda adalah konsep yang sering diartikan sebagai nilai-nilai sebab mereka bukanlah semata-mata istilah atau kultur. Kita mengenal kata-kata seperti “Pemuda harapan bangsa”, “pemuda milik massa depan bangsa”.
Perubahan sosial, memang ditandai oleh terjadinya kepentingan hubngan antargenerasi yang dapat mengganggu sistem komunikasi yang efektif antargenerasi. Perbedaan pengalaman historis yang pokok adalah penting. Dalam hal ini proses perubahan tersebut ditandai adanya konflik generasi.


Referensi :

v  Suhada, Idad. 2014. Ilmu Sosial dasar. Bandung: Insan Mandiri
v  Hidayati, Nur-Mawardi. 2000. IAD,ISD,IBD. Bandung: Pustaka Setia
v  Wahyu, Ramdani. 2007. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Pustaka Setia




0 komentar:

Posting Komentar