Jumat, 19 Juni 2015

Makalah Proses Pertumbuhan dan Perkembangan Individu II

MAKALAH


PROSES PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN INDIVIDU II
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur Pada Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik
Dosen :
Dra. Yuyun Yulianingsih, M.P.d.
  





Disusun Oleh :
Hazmi Fauzi (1142080031)
Semester 2 A

PRODI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2015




1. Ciri-Ciri Tumbuh Kembang Anak
Proses tumbuh kembang anak mempunyai beberapa ciri-ciri yang saling berkaitan, yaitu :
1.      Perkembangan menimbulkan perubahan.
Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan. Setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Misalnya perkembangan intenlegensia pada seorang anak akan meyertai pertumbuhan otak dan serabut saraf.
2.      Pertumbuhan dan perkembangan tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya.
Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya. Sebagi contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa sendiri. Seorang anak tidak akan bisa berdiri jika pertumbuhan kaki dan bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat. Karena itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena kan menentukan perkembangan selanjutnya.
3.      Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda.
Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda-beda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun perkembangan fungsi organ dan perkembangan pada masing-masing anak.
4.      Pertumbuhan berkolerasi dengan perkembangan.       
Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan pun demikian, terjadi peningkatan mental, memori, daya nalar, asosiasi dan lain-lain. Anak sehat bertambah umur, bertambah berat dan tinggi badanya serta bertambah kepandaianya
5.   Perkembangan mempunyai pola yang tetap.
Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum yang tetap, yaitu:
  1. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke arah kaudal atau anggota tubuh (pola sefakaudal).
  2. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah proksimal (gerak kasar) lalu berkembangan ke bagian distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan gerak halus (pola proksimodistal).
  3. Perkembangan memiliki tahap yang berurutan.
2.      Tahap- Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan
1. Tahap Bayi
Bayi sangat membutuhkan air susu ibu (ASI). Sebaiknya ASI diberikan pada bayi selama dua tahun sejak kelahiran. Hal ini karena bayi sangat membutuhkan ASI sejak tahun pertama kehidupannya. Pada usia balita terjadi pertumbuhan sel-sel otak, sehingga diperlukan makanan yang bergizi.
Seiring dengan bertambahnya usia, bayi akan belajar duduk, merangkak, berdiri dan berjalan. Otak tumbuh membesar dan bayi mulai berbicara. Umumnya, bayi mulai brjalan dan berbicara sekitar usia 1 tahun. Pada usia 3 tahun, anak-anak mulai berbicara kalimat pendek. Menjelang usia 10 tahun anak-anak mulai mencari teman mereka juga sudah tahu bagaimana berbagi, melakukan tugas mereka dan bekerja sama.
2. Tahap Anak
Periode perkembangan anak dimulai saat menginjak usia 2 tahun sampai  6 tahun, atau lebih sering disebut masa prasekolah.pada masa perkembangan ini,umumnya anak akan terlihat lebih aktif sehingga sering kali ditafsirkan anak berkelakuan bandel atau nakal, sikap bandel atau anak disebabkan oleh meningkatnya rasa keingin tahuan anak sebagai akibat dari perkembangan otak dalam mengamati lingkungan sekitar. Sehingga anak sering menuntut kebebasan untuk mengekspresikan apa yang dirasakan.
3.      Tahap Remaja (Pubertas)
Pertumbuhan dan perkembangan manusia menjadi dewasa atau bisa disebut dengan masa pubertas. Dimana anak dipersiapkan untuk mampu menjadi individu yang dapat melaksanakan tugas biologis dengan melanjutkan keturunannya  atau berkembang biak. Perubahan biologis tersebut berupa dengan mulai bekerjanya organ-organ reproduktif dan disertai dengan perubahan-perubahan yang psikologis.
4.      Tahap Dewasa
Sebagai seorang individu yang sudah tergolong dewasa, peran tanggung jawabnya tentu makin bertambah besar. Penampilan fisiknya bener-benar matang sehingga ia dapat melakukan tugas-tugas seperti orang dewasa lainnya, contohnya itu seperti bekerja, menikah dan mempunyai anak. Ia dapat bertindak dak bertanggung jawab untuk dirinya dan orang lain (termasuk keluarganya)
5.      Tahap Usia Lanjut
Pada usia tingkat kedewasaan menengah (40-65 th) manusia mencapai  puncak periode usia yang paling produktif. Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dan proses penuaan.
Dari penjelasan diatas tampak perbedaan tahap dari stia pertumbuhan dan perkembangan dari sejak bayi sampai lanjut usia. Kebutuhan manusia disetiap perkembangannya berbeda-beda. Misalnya, pada saat tahap bayi, belum bisa makan makanan yang keras karena belum tumbuh gigi. Sehingga hanya makanan yang lunak dan agak cair yang dimakan. Namun ketika memasuki masa anak-anak, makanan yang dapat dimakan sudah mulai bertambah. Begitupun seterusnya hingga dewasa dan lanjut usia.

3. Pola-Pola Perkembangan Afektif Pada Manusia
      Seorang ahli teori psikoanalisa dan sekaligus seorang pendidik, Erik H. Erikson mengemukakan bahwa perkembangan manusia adalah sinfesis dari tugas-tugas perkembangan dan tugas-tugas sosial. Teorinya itu kemudian diterbitkan Sebagai bukunya yang pertama dengan judul Childhood and Society. Dikemukakannya bahwa perkembangan afektif merupakan dasar perkembangan manusia. Erikson melahirkan teori perkembangan afektif yang terdiri atas delapan tahap.

1.      Trust vs Mistnis/ Kepercayaan dasar (0,0 - 1,0 th)
      Bayi yang kebutuhannya terpenuhi waktu ia bangun, keresahannya segera terhapus, selalu dibuai dan diperlakukan sebaik-baiknya, diajak main dan bicara, akan tumbuh perasaanya bahwa dunia ini tempat yang aman dan orang-orang di sekitarnya yang selalu bersedia menolong dan dapat dijadikan tempat ia menggantungkan nasibnya. Jika pemeliharaan terhadap bayi itu tidak menetap, tidak memadai sebagaimana mestinya, serta terkandung didalamnya sikap-sikap menolak, akan tumbuhlah pada bayi itu rasa takut serta ketidak-percayaan yang mendasar terhadap dunia sekelilingnya dan terhadap orang-orang di sekitarnya.
2.      Autonomy vs Shame and Doubt/Otonomi (1,0 - 3,0 th)
      Pada tahap ini Erikson melihat munculnya autonomy. Dimensi autonomy ini timbulnya karena adanya kemampuan motoris dan mental anak. Pada saat ini bukan hanya berjalan, tetapi juga memanjat, menutup membuka menjatuhkan, menarik dan mendorong, memegang dan melepaskan.
      jika orang dewasa yang mengasuh dan membimbing anak tidak sabar dan selalu membantu mengerjakan segala sesuatu yang sesungguhnya dapat dikerjakannya sendiri oleh anak itu, maka akan tumbuh pada anak itu rasa; malu-malu dan ragu-ragu, orang tua yang terlalu melindungi dan selalu mencela hasil pekerjaan anak-anak, berarti telah memupuk rasa malu dan ragu yang berlebihan sehingga anak tidak dapat mengendalikan dunia dan dirinya sendiri.
      jika anak meninggalkan masa perkembangan ini dengan autonomi yang lebih kecil daripada rasa malu dan ragu, ia akan mengalami kesulitan untuk memperoleh autonomi pada masa remaja dan masa dewasanya.
3.      Initiatives vs Guilt/Inisiatif (3,0 - 5,0 th)
      Pada masa ini anak sudah menguasai badan dan geraknya. ia dapat mengendarai sepeda roda tiga, dapat lari, memukul, memotong, inisiatif anak akan lebih terdorong dan terpupuk bila orang tua memberi respons yang baik terhadap keinginan anak untuk bebas dalam melakukan kegiatan-kegiatan motoris sendiri.
4.      Industry vs Inferiority/Produktivitas (6,0-11,0 th)
      Anak mulai berpikir deduktif, bermain dan belajar menurut peraturan yang ada. Dimensi psikososial yang muncul pada masa ini adalah: sense of industry (rasa ingin membuat) dan sense of inferiority (rasa tidak mampu).
      Anak didorong untuk membuat, melakukan dan mengerjakan dengan benda-benda yang praktis dan mengerjakannya sampai selesai sehingga menghasilkan sesuatu, berdasarkan hasilnya mereka dihargai dan di mana perlu diberi hadiah. Dengan demikian rasa/sifat ingin menghasilkan sesuatu dapat dikembangkan pada usia sekolah dasar ini. Dunia anak bukan hanya lingkungan rumah saja melainkan mencakup juga lembaga-lembaga lain yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan individu.
5.      Identity vs Role Confusion/Identitas (12,0 - 18,0 th)
      Menurut Erikson pada tahap ini dimensi interpersonal yang muncul adalah: ego identity dan role confusion. Pada masa ini remaja harus dapat mengintegrasikan apa yang telah dialami dan dipelajarinya tentang dirinya Sebagai anak, siswa, teman, anggota pramuka, dan lain sebagainya menjadi satu kesatuan sehingga menunjukkan kontinuitas dengan masa lalu dan siap menghadapi masa datang. Peran orang tua yang pada masa lalu berpengaruh secara langsung pada krisis perkembangan, maka pada masa ini pengaruhnya tidak langsung. Jika anak mencapai masa remaja dengan rasa terima kasih kepada orang tua, dengan penuh kepercayaan, mempunyai autonomy, berinisiatif, memiliki sifat-sifat industry, maka kecepatannya keapda ego identity sudah berkembang.
6.      Intimacy vs Isolation/Keakraban (19,0 - 25,0 th)
      Yang dimaksud dengan intimacy oleh erikson selain hubungan antara suami istri adalah juga kemampuan untuk berbagai rasa dan memperhatikan orang lain. Pada tahap ini pun keberhasilan tidak bergantung secara langsung kepada orang tua. Jika intimacy ini tidak terdapat diantara sesama teman atau suami istri, menurut Erikson, akan terdapat apa yang disebut isolation, yakni kesendirian tanpa adanya orang lain untuk berbagai rasa dan saling memerhatikan.
7.      Generativity vs Self Absorption/ Generasi Berikut (25,0 - 45,0 th)
      Generativity berarti bahwa orang mulai memikirkan orang-orang lain di luar keluarganya sendiri, memikirkan generasi yang akan datang serta hakikat masyarakat dan dunia tempat generasi itu hidup. Generativity ini bukan hanya terdapat pada orang tua (ayah Dan ibu). Tetapi terdapat pula pada individu-individu yang secara aktif memikirkan kesejahteraan kaum muda serta berusaha membuat tempat bekerja yang lebih baik untuk mereka hidup.
8.      Integrity vs Despair/integritas (45,0 – th)
      Pada tahap ini usaha-usaha yang pokok pada individu sudah mendekati kelengkapan, dan merupakan masa-masa untuk menikmati pergaulan dengan cucu-cucu. Integrity timbul dari kemampuan individu untuk melihat kembali kehidupannya yang lalu dengan kepuasan. Sedangkan kebalikannya adalah despair, yaitu keadaan dimana individu yang menengok ke belakang dan meninjau kembali kehidupannya masa lalu Sebagai rangkaian kegagalan dan kehilangan arah, serta disadarinya bahwa jika ia memulai lagi sudah terlambat.

4. Pola Perkembangan Kognitif Jean Piaget
Setiap manusia yang diciptakan oleh tuhan mempunyai kemampuan berpikir. Dan tingkat kemampuan berpikir itu berbeda-beda. Yang tergantung dengan tingkat usia dan kematangan psikisnya. Menurut jean piaget ada 3 tahap perkembangan kognitif manusia
1. Tahap Sensorimotor
Dari lahir hingga 2 tahun. Pola pikir yang muncul ini masih dalam tahap terikat pada panca indra. Bayi akan memakai panca indranya untuk mencoba mengikuti segala sesuatu yang dilakukan di sekitarnya. Contohnya seperti apabila kita menggoyang-goyangkan mainan di depannya maka bayi tersebut akan menggerakan matanya ke arah kanan da kiri
2. Tahap Berpikir Pra-Operasional
Dari 2-7 tahun. Dalam tahap ini anak mulai belajar berbicara dengan meniru kata-kata yang dibicarakan oleh orang yang ada di sekitarnya, walaupun kata-kata yang diucapkan itu tidak dapat dimengerti oleh anak tersebut. Dan anak tersebut akan mengalami perkembangan dengan menunjukkan kemampuannya dalam berfikir dan berhitung secara sederhana.
3. Tahap Operasional Konkret
Dari 7-11 tahun. Dalam tahap ini, anak sudah mampu berpikir untuk memecahkan masalah dengan konkret. Anak sudah dapat membedakan waktu, jumlah dan mengetahui hubungan sebab-akibat tanda-tanda ini akan ditunjukkan dengan senangnya anak pada permainan, contohnya seperti permainan kelereng . permainan ini biasanya dilakukan oleh anak yang  formal (sekolah dasar)
4. Tahap Operasional Formal
Dari 11-16. Dalam tahap ini anak sudah memasuki tarap berpikir yang baik. Anak sudah mampu berfikir abstrak atau hal-hal diluar dunia nyata , dan anak ini juga mulai berfikiran kritis dengan mencoba memiliki pendapat yang berbeda dengan orang lain.
5. Tahap Operasional Formal (Remaja)
Dari 12-24 tahun.seorang remaja sudah mampu berfikir dengan kritis artinya kritis tersebut itu bahwa remaja tersebut mampu menganalisa segala sesuatu, keadaan, permasalahan dengan pikiran yang sehat dan benar.

5. Tugas-Tugas Perkembangan
Proses kehidupan individu terbentang dari mulai fase usia kandungan sampai dengan fase usia tua. Dalam menempuh setiap usia fase tersebut, terdapat tugas-tugas perkembangan yang seyogyanya dijalani atau dihadapi oleh setiap individu. Tugas-tugas perkembangan ini berkaitan erat dengan perubahan kematangan, persekolahan, pekerjaaan, pengalaman beragama, dan hal lainnya Sebagai prasyarat untuk pemenuhan kebahagiaan hidupnya.
Havighurst (1961:2) mengartikan tugas-tugas perkembangan Sebagai berikut.
Tugas perkembangan itu merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas berikutnya; sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya.
Tugas Pada Setiap Periode Perkembangan
A. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Anak Prasekolah
1.      Belaajr memakan makanan padat.
2.      Belajar berjalan.
3.      Belajar berbicara.
4.      Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh.
5.      Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin.
6.      Mencapai kestabilan fisik.
7.      Belajar mengenal konsep-konsep sederhana tentang kenyataan alam dan sosial.
8.      Belajar membedakan baik-buruk, benar-salah, atau mengembangkan kata hati.
B. Tugas Perkembangan Anak Usia Sekolah
1.      Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan.
2.      Belajar mementingkan sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri Sebagai makhluk biologis.
3.      Belajar bergaul dengan teman sebaya.
4.      Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminya.
5.      Belajar keterampilan dasar membaca, menulis, dan menghitung.
6.      Belajar mengembangkan konsep sehari-hari.
7.      Mengembangkan kata hati.
8.      Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi (bersikap mandiri).
9.      Mengembangkan sikap positif terhadap kelompok sosial.
C. Tugas Perkembangan Remaja
1.      Mencapai kematangan dalam beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
2.      Mencapai kematangan berperilaku etis.
3.      Mencapai kematangan emosi.
4.      Mencapai kematangan intelektual.
5.      Memiliki kesadaran tanggung jawab sosial.
6.      Mencapai kematangan perkembangan pribadi.
7.      Mencapai kematangan hubungan dengan teman sebaya.
8.      Memiliki kemandirian perilaku ekonomis.
9.      Mencapai kematangan dalam pilihan karier.
10.  Mencapai kematangan dalam kesiapan diri untuk menikah dan hidup berkeluarga (khsusunya remaja akhir).
D. Tugas Perkembangan Dewasa Awal
1.      Memilih pasangan hidup .
2.      Belajar hidup dengan psangan nikah.
3.      Memulai hidup berkeluarga.
4.      Memelihara anak.
5.      Mengelola rumah tangga.
6.      Mulai bekerja.
7.      Bertanggung jawab Sebagai warga negara dan
8.      Menemukan kelompok sosial yang serasi.
E. Tugas Perkembangan Dewasa Pertengahan
1.      Mencapai tanggung jawab sosial Sebagai warga negara.
2.      Membantu remaja belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab.
3.      Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang.
4.      Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup Sebagai suatu individu.
5.      Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisiologis.
6.      Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karier pekerjaan.
7.      Menyesuaikan diri dengan orang tua yang semakin tua.
F. Tugas Perkembangan Dewasa Akhir (Masa Tua)
1.      Menyesuaikan diri dengan menurunya kekuatan fisik dan kesehatan.
2.      Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan menurunnya penghasilan keluarga.


Referensi :
Suhada, Idad dan Heri Gunawan. 2013. Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Insan
         Mandiri.
Yusuf L.N, Syamsu dan Nani M. Sugandhi. 2012. Perkembangan Peserta Didik. Depok: Raja
         Grafindo Persada.

0 komentar:

Posting Komentar