Jumat, 19 Juni 2015

Makalah Perkembangan Moral dan Keagamaan Anak II



MAKALAH
PERKEMBANGAN MORAL DAN KEAGAMAAN ANAK – II
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur Pada Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik
Dosen :
Dra. Yuyun Yulianingsih, M.P.d.






Disusun Oleh :
Hazmi Fauzi (1142080031)
Semester 2 A

PRODI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2015



A.    Konsep Perkembangan Moral dan Kegamaan Anak
Pieget Dan Norman J.Bull berpendapat bahwa pendidikan moral akan berhasil , apabila pendidikan itu dilakukan sesuai dengan tahap perkembangan moral anak. Dengan kata lain kedua ahli ini mencita-citakan adanya strategi pendidikan moral yang disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan moral anak.
Pieget mendefinisikan perkembangan moral Sebagai berikut:
1.      Pre-moral yaitu anak tidak merasa wajib untuk menaati peraturan.
2.      Heteronomi, yaitu anak merasa bahwa yang benar adalah patuh pada peraturan dan harus menaati kekuasaan.
3.      Autonomi, yaitu anak telah mempertimbangkan tujuan dan konsekuensi ketaatanya kepada peraturan.
Adapun Norman J.Bull (1969) berkesimpulan bahwa tahap perkembangan moral itu adalah:
1.      Anomi , yaitu anak tidak merasa wajib untuk menaati peraturan.
2.      Heteronomi, yaitu anak merasa bahwa yang benar adalah patuh pada peraturan yang sesuai dengan peraturan kelompok.
3.      Autonomi, yaitu anak telah mempertimbangkan konsekuensi ketaatanya pada peraturan.
Dalam perkembangan moral itu titik heteronomi dan autonomi leih menggambarkan proses perkembangan darpiada toatalitas mental individu. Melalui pergaulannya anak menegmbangkan pemahamanya mengenai tujuan dan sumber aturan . Pada tahap autonomi anak menyadari akan aturan dan menghubungkanya dengan pelaksanaanya. Tahap berikutnya adalah pelaksanaan autonomi.

B.     Tahapan Perkembangan Moral dan Keagamaan Anak

1.      Tahapan Perkembangan Moral Anak
Kohlberg mengemukakan teori perkembangan moral berdasar teori Piaget, yaitu dengan pendekatan organismik (melalui tahap-tahap perkem-bangan yang memiliki urutan pasti dan berlaku secara universal). Selain itu Kohlberg juga menyelidiki struktur proses berpikir yang mendasari perilaku moral (moral behavior).Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya seperti yang diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg. Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis, mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget,yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. Kohlberg memperluas pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan,walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya. Kohlberg menggunakan cerita-cerita tentang dilema moral dalam penelitiannya, dan ia tertarik pada bagaimana orang-orang akan menjustifikasi tindakan-tindakan mereka bila mereka berada dalam persoalan moral yang sama.

Tiga Level dan Enam Tahap Penalaran Moral menurut Kohlberg
Level
Rentang Usia
Tahap
Esensi Penalaran Moral

Level 1 : Moralitas prakonvensional
Ditemukan pada anak-anak prasekolah, sebagian besar anak-anak SD, sejumlah siswa SMP, dan segelintir siswa SMU
Tahap 1 : Hukuman – penghindaran dan kepatuhan (Punishment – avoidance and obedience)
Orang membuat keputusan berdasarkan apa yang terbaik bagi mereka, tanpa mempertimbangkan kebutuhan atau perasaan orang lain. Orang mematuhi peraturan hanya jika peraturan tersebut dibuat oleh orang-orang yang lebih berkuasa, dan mereka mungkin melanggarnya bila mereka merasa pelanggaran tersebut tidak ketahuan orang lain. Perilaku yang “salah” adalah perilaku yang akan mendapatkan hukuman


Tahap 2 : Saling memberi dan menerima (Exchange of favors)
Orang memahami bahwa orang lain juga memiliki kebutuhan. Mereka mungkin mencoba memuaskan kebutuhan orang lain apabila kebutuhan mereka sendiri pun akan memenuhi perbuatan tersebut (“bila kamu mau memijat punggungku; aku pun akan memijat punggungmu”). Mereka masih mendefinisikan yang benar dan yang salah  berdasarkan konsekuensinya bagi diri mereka sendiri.
Level 2 : Moralitas konvensional
Ditemukan pada segelintir siswa SD tingkat akhir, sejumlah siswa SMP, dan banyak siswa SMU (Tahap 4 biasanya tidak muncul sebelum masa SMU)
Tahap 3 : Anak baik (good boy/good girl)
Orang membuat keputusan melakukan tindakan tertentu semata-mata untuk menyenangkan orang lain, terutama tokoh-tokoh yang memiliki otoritas (seperti guru, teman sebaya yang populer). Mereka sangat peduli pada terjaganya hubungan persahabatan melalui sharing, kepercayaan, dan kesetiaan, dan juga mempertimbangkan perspektif serta maksud orang lain ketika membuat keputusan.


Tahap 4 : Hukum dan tata tertib (Law and keteraturan).
Orang memandang masyarakat sebagai suatu tindakan yang utuh yang menyediakan pedoman bagi perilaku. Mereka memahami bahwa peraturan itu penting untuk menjamin berjalan harmonisnya kehidupan bersama, dan meyakini bahwa tugas mereka adalah mematuhi peraturan-peraturan tersebut. Meskipun begitu, mereka menganggap peraturan itu bersifat kaku (tidak fleksibel); mereka belum menyadari bahwa sebagaimana kebutuhan masyarakat berubah-ubah, peraturan pun juga seharusnya berubah.
Level 3 : Moralitas postkonvensional
Jarang muncul sebelum masa kuliah
Tahap 5 : Kontrak Sosial (Social contract).
Orang memahami bahwa peraturan-peraturan yang ada merupakan representasi dari persetujuan banyak individu mengenai perilaku yang dianggap tepat. Peraturan dipandang sebagai mekanisme yang bermanfaat untuk memelihara keteraturan social dan melindungi hak-hak individu, alih-alih sebgai perintah yang bersifat mutlak yang harus dipatuhi semata-mata karena merupakan “hukum”. Orang juga memahami fleksibilitas sebuah peraturan; peraturan yang tidak lagi mengakomodasi kebutuhan terpenting masyarakat bisa dan harus dirubah.






Tingkat 6 : Prinsip etika universal (tahap ideal yang bersifat hipotetis, yang hanya dicapai segelintir orang)
Orang-orang setia dan taat pada beberapa prinsip abstrak dan universal (misalnya, kesetaraan semua orang, penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia, komitmen pada keadilan) yang melampaui norma-normadan peraturan-peraturan yang spesifik. Mereka sangat mengikuti hati nurani dan karena itu bisa saja melawan peraturan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip etis mereka sendiri.

2.      Tahapan Perkembangan Keagamaan Anak
Adapun dalam pandangan para psikolog agama, perkembangan keberagamaan pada anak melalui tiga tahapan penting, yaitu sebagai berikut :
  1. The Fairy Tale Stage (tingkat dongeng). Hal ini ditandai dengan kesenangan anak-anak bercerita hal-hal yang luar biasa seperti kebesaran, kehebatan, dan kekuatan Tuhan. Tidak jarang anak membandingkan Tuhan dengan tokoh-tokoh yang ia kenal seperti Power Rangers.
  2. The Realistic Stage (Tingkat Kenyataan). Ini tampak dengan mulai pahamnya anak-anak tersebut tentang wujud Allah swt sebagai sosok yang Maha Besar dan Maha Kuat, serta pencipta. Dari sini anak menyadari bahwa kepatuhan kepada-Nya adalah suatu yang lumrah dan mesti. Inilah yang menyebabkan mereka bergairah mengikuti acara-acara keagamaan.
  3. The Individual Stage (Tingkat Individu). Tanda ini terlihat pada sensitivitas keberagamaan anak. Tahap ini dibagi kepada tiga golongan :
    1. Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif. Anak takut kemurkaan Allah; dan neraka; sedangkan orang baik akan dimasukkah surga, sebuah  taman bermain yang indah.
    2. Konsep ketuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pendangan yang bersifat personal (perorangan). Di sini anak ingin meniru Tuhan dan dekat dengan-Nya; Ingin merasakan sentuhan kasih Tuhan dan menampung internalisasi kekuatan Tuhan.
    3. Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik. Tanda ini tampak pada pengakuan mereka akan pentingnya keadilan. Buruknya perbuatan jahat, sehingga jika melakukannya anak akan gelisah, bingung, sedih, dan juga malu.
 Adapun ciri dan sifat keberagamaan pada anak-anak sebagai berikut :
  1. Unreflective (tidak mendalam). Ini kentara sekali pada ciri antropomorfisme, yang mengungkapkan Tuhan seperti makhluk lainnya, misalnya punya mata, punya telinga, dan lainnya.
  2. Egosentris (Egocentric Orientation). Anak mengharapkan adanya imbalan bagi semua aktivitas yang dilakukannya. Pada sisi lain anak cenderung tidak mau disalahkan, tetapi senang mendapat pujian.
  3. Eksperimentasi (Experimentation). Anak mengharapkan pembuktian akan keyakinan yang ada dibenaknya.
  4. Inisiatif (Initiative), misalnya ditandai dengan pikiran bahwa ia mudah keluar dari kepungan api neraka, karena pengalamannya setiap berbuat kesalahan tidak mendapatkan azab yang sering ditakut-takutan.
  5. Spontanitas (Spontaneity). Misalnya, tampak pada pertanyaan atau jawaban yang dilontarkan anak dengan polosnya. Dia mengemukakan persis seperti apa yang diberitahukan guru atau orang tuanya.
  6. Verbalis dan Ritualis, yang diindikasikan dengan hapalan-hapalan yang tanpa makna. Saat ditanyakan “Apakah marah itu perbuatan baik atau buruk?” Mereka menjawab, “Buruk!”. Kemudian saat diajukan proposisi logis, “kalau begitu Allah, dan orang tuanya sering berbuat buruk karena sering marah-marah.” Anak bingung dan gelisah.
  7. Imitatif, tampak pada peniruan yang nyata dilakukan anak, seperti berdoa dan salat. Pembiasaan keluarga sangat berpengaruh pada anak, seperti berdoa mau makan, tidur, senang ke mesjid beramai-ramai.
  8. Rasa Heran dan Kagum, yaitu ditandai dengan keinginan kuat anak menjadi sakti dan mendapat limpahan kekuatan Tuhan. Mempertanyakan kehebatan dan kebesaran Tuhan yang menjadi pencipta manusia.
Sedangkan alur pembentukan pengetahuan keagamaan anak tersebut terjadi dalam enam tahap, sebagai berikut :
  1. Fitrah yang merupakan format khusus penciptaan manusia. Meskipun awalnya tidak mendalam, tetapi menjadi model dan modal yang berharga bagi perkembangan keberagamaan anak.
  2. Pengetahuan imajinatif yang membuat anak penuh khayalan-khayalan. Imajinasi ini menjadikan anak manafsirkan secara sendiri akan berbagai informasi yang diterimanya selama ini dari lingkungan sekitarnya.
  3. Pencarian dialektik yang dilakukan dengan melemparkan berbagai pertanyaan dan menanggapi secara spontanitas berbagai jawaban yang diberikan untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak.
  4. Pencarian maknawiyah yang diindikasikan dengan perilaku religius dan ritual-ritual yang fantastis, penuh eksperimentasi, inisiatif, dan imitative. Pencarian maknawiyah ini memberikan peran penting untuk membentuk sikap dan pandangan anak terhadap agama, karena hal ini berhubungan secara langsung dengan pengalaman dirinya sendiri saat memasuki ranah keberagamaan dengan berbagai ajaran dan ritual-ritualnya.
  5. Internalisasi pengetahuan ke dalam pikiran dan benak anak sehingga menjadi bagian dari kehidupan dan keyakinannya. Ini bermanfaat untuk memberikan respon terhadap informasi-informasi baru. Respon ini bisa lahir dalam bentuk kompromi, complaince, atau juga konfrontatif.
  6. Keyakinan yang dipegang teguh. Prinsip ini juga berbeda pada tiap anak yang secara sederhana dapat digolongkan kepada dua yaitu keyakinan yang bersifat statis dan keyakinan yang bersifat dinamis. Keyakinan yang statis berarti adalah keyakinan yang tidak berkembang dan sulit menerima informasi baru yang menggugat keyakinannya. Sedangkan keyakinan dinamis merupakan keyakinan yang penuh dengan kreatifitas, selektifitas, dan analisis kritis terhadap informasi-informasi baru yang diterimanya.
Dengan memahami hal-hal di atas semoga para orang tua dapat mendidik jiwa keagamaan anak-anaknya dengan lebih baik. Karena tidak ada bekal yang paling berharga di dunia dan di akhirat bagi anak-anak kita kecuali bekal agama. Dengan bekal agama itulah, anak akan meniti kehidupannya dengan tubuh yang sehat, pikiran yang jernih, sikap yang tulus, dan hati yang suci. 

C.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap
Di dalam usaha membentuk tingkah laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup tertentu ternyata faktor lingkungan memegang peranan penting, terutama unsur lingkungan berbentuk manusia yang langsung dikenal atau dihadapi oleh seseorang. Bagi anak-anak usia 12 dan 16 tahun, gambaran-gambaran ideal yang diidentifikasi adalah orang-orang dewasa yang simpatik, teman-teman, orang-orang terkenal, dan hal-hal yang ideal yang diciptakan sendiri.
Menurut psikoanalisis moral dan nilai menyatu dalam konsep superego. Superego dibentuk melalui jalan internalisasi larangan-larangan atau perintah-perintah yang datang dari luar (khusunya dari orang tua) sedemikian rupa sehingga akhirnya terpencar dalam diri sendiri. Karena itu, orang-orang yang tak mempunyai hubungan yang harmonis dengan orang tuanya di masa kecil, kemungkina besar tidak mampu mengembangkan superego yang cukup kuat, sehingga mereka bisa menjadi orang yang sering melanggar norma masyarakat. Teori-teori lain yang non-psikoanalisis beranggapan bahwa hubungan anak – orang tua bukan satu-satunya sarana pembentuk moral. Para sisiolog beranggapan bahwa masyarakat sendiri mempunyai peran penting dalam pembentukan moral. Tingkah laku yang terkendali disebabkan oleh adanya kontrol dari masyarakat itu sendiri yang mempunyai sanksi-sanksi tersendiri buat pelanggar-pelanggarnya (Salito,1992:92).
Teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Kohlberg menunjukkan bahwa sikap moral bukan hasil sosialisasi atau pelajaran yang diperoleh dari kebiasaan dan hal-hal yang berhubungan dengan nilai kebudayaan. Tahap-tahap perkembangan moral terjadi dari aktivitas spontan pada anak-anak (Singgih G.1990:202). Anak memang berkembang melalui interaksi sosial, tetapi interaksi ini mempunyai corak yang khusus dimana faktor pribadi, faktor si anak dalam membentuk aktivitas-aktivitas ikut berperan. Dalam perkembangan moral, Kohlberg menyatakan adanya tahap-tahap yang berlangsung sama pada setiap kebudayaan. Penahapan yang dikemukakan bukan mengenai sikap moral yang khusus, melainkan berlaku pada proses penalaran yang didasarinya. Moral sifatnya penalaran menurut Kohlberg, perkembangannya dipengaruhi oleh perkembangan nalar sebagaimana dikemukakan oleh Piaget. Makin tinggi tingkat penalaran seseorang menurut tahap-tahap perkembangan Piaget, makin tinggi pula tingkat moral seseorang.

D.    Proses Pembelajaran untuk Membantu Perkembangan Nilai
Berdasarkan sejumlah hasil penelitian, perkembangan internalisasi niali-nilai terjadi melalui indetifikasi dengan orang-orang yang dianggapnya Sebagai  model, pada umumnya orang-orang dewasa yang simpatik, orang-orang terkenal dan hal-hal ideal yang diciptakan sendiri. Syamsu Yusuf (2007:133) menyatakan bahwa “perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya, terutama orangtuanya”.
Oleh karena itu, agar perkembangan moral anak dapat berkembang dengan baik, sebaiknya keluarga utamanya ayah dan ibu memperhatikan hal-hal sebatgai berikut.
1.      konsisten dalam mendidik
Ayah dan Ibu harus memiliki sikap dan perlakuan yang sama dalam melarang dan mebolehkan tingkah laku tertentu pada anak. Ketidakkompakkan orangtua dalam mendidik anaknya berakibat kurang baik terhadap moral anak. Biasanya anak bingung membedakan mana yang baik dan mana yang buruk , mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, patuh pada aturan ayah atau ibu, dan lain sebagainya.
2. Sikap orangtua dalai keluarga
Dalam  lingkungan keluarga , terjadi proses peniruan ( imitasi). Anak merekam sikap ayah pada ibu begitu juga sebaliknya, sikap tetangga tetangga sekitarnya akan mudah ditiru oleh anak. Sikap otoriter orangtua akan membuahkan sikap yang sama pada anak. Sebaliknya, sikap kasih sayang, keterbukaan, musyawarah dan konsisten juga akan membuahkan sikap yang sama pada anak.
3. Penghayatan Dan pengalaman agama yang dianut
orangtua mempunyai peran dan berkewajiban menanamkan nilai-nilai agama  yang dianutnya kepada anak, baik berupa bimbingan-bimbingan ataupun  contoh implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.
Keteladanan orangtua dalam menjalankan moral keagamaan merupakan cara yang paling baik dalam menanamkan nilai moral keagamaaan anak.

Referensi :
Hartina, sitti. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Reflika Aditama.

Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Suhada, Idad dan Heri Gunawan. 2013. Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Insan Mandiri.

http://liputanislam.com/keluarga/tahap-tahap-perkembangan-keagamaan-pada-anak/
https://docs.google.com/document/d/1wgIafjSRBeFkwfn9lPmSQFg9COL6hhTaC0u_1oIWVSM/edit

0 komentar:

Posting Komentar