Jumat, 19 Juni 2015

Makalah Peduli Lingkungan

PEDULI LINGKUNGAN
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur Pada Mata Kuliah Ulumul Hadist
Dosen :
Dr. Moh. Sulhan, M.Ag.






Disusun Oleh :
Abdul Latif (1142080001)
Cyntia Putri Kurniawan (1142080014)
Hazmi Fauzi (1142080031)


SEMESTER 2A
PRODI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2015


KATA PENGANTAR


Segala puji  hanya milik Allah yang telah melimpahkan bermacam-macam nikmat dan karunia kepada hamba-Nya, baik kekuatan fisik-material maupun kekuatan intelektual, mental dan spiritual. Berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya, qudrah dan iradah-Nya akhirnya kami dapat menyelesaikan tugas laporan ini.
Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Nabi kita Muhammad Saw, penguhulu alam  yang telah merintis jalan kebenaran dan memberi petunjuk bagi terbukanya cakrawala ilmu dan pengetahuan, beserta para keluarganya, sahabatnya dan kita selaku umatnya yang setia hingga akhir zaman.
Makalah ini kami buat dalam rangka memenuhi salah satu tugas terstruktur pada mata kuliah Ulumul Hadist oleh Bapak Dr. Moh. Sulhan, M.Ag. Adapun makalah Ulumul Hadist yang kami sajikan ini berjudul “Peduli Lingkungan” yang diperoleh melalui tinjauan pustaka yang disadur dari berbagai sumber.
Melalui makalah  ini semoga pembaca dapat menambah wawasan yang lebih luas dan juga memperoleh manfaat baik tersurat maupun tersirat yang tertuang dalam makalah ini.
Disamping itu kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah yang senantiasa memberikan bimbingan dan motivasinya  dalam kelancaran penyusunan makalah ini.  Kepada seluruh anggota yang telah bekerja keras, kami juga haturkan terima kasih atas setiap kontribusinya sehingga makalah ini terselesaikan dengan baik.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan. Untuk itu kami mengharapkan masukan dan perbaikan dari dosen yang bersangkutan serta kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk lebih baiknya makalah ini. Demikianlah dan jika terdapat banyak kesalahan dalam makalah ini, kami selaku penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.


Penyusun



DAFTAR ISI

Kata Pengantar                                                                                                                       i
Daftar Isi                                                                                                                                 ii
BAB I  Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah                                                                                            1
1.2 Rumusan Masalah                                                                                                      2
1.3 Tujuan Penulisan                                                                                                        2
BAB II Pembahasan
     2.1 Apa Itu Peduli Lingkungan                                                                                         3
    2.2 Peduli Lingkungan Menurut Islam                                                                               3
     2.3 Tindakan Yang Termasuk  Peduli Terhadap Lingkungan                                            4
     2.4 Tindakan Yang Harus dihindari Dalam Upaya Peduli terhadap Lingkungan             12
     2.5 Kegiatan yang Dapat menumbuhkan Sikap Peduli Lingkungan                                 16       
     2.6 Kendala dalam Penbudayaan Karakter Peduli Lingkungan                                        17
BAB III Penutup
3.1  Kesimpulan                                                                                                                       19
3.2  Saran                                                                                                                                 19
Daftar Pustaka                                                                                                                         20


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam adalah agama rahmatan lil alamin yang didalamnya tidak hanya mengatur hubungan mannusia dengan tuhannya ( hablu minallah ) saja tapi pada lingkungan sosial dan juga pada lingkungan alam sekitar  ( hablu minannas ). Hal ini menunjukan islam merupakan agama yang mengatur segala aspek kehidupan baik secara vertikal maupun horizontal.
Lingkungan yang berada disekeliling kita baik berupa benda - benda hidup seperti binatang dan tumbuh - tumbuhan ataupun berupa benda - benda mati harus dijaga kelestariannya. Karena Apabila lingkungan yang berada disekeliling kita tidak kita pelihara , maka kemungkinan akan membawa mudarat bagi kita, sebaliknya jika linkungan kita dipelihara , maka akan dapat memberikan kesejah teraan bagi kita.
Keadaan alam yang sekarang ini sejatinya tidak hanya terjadi secara alamiah saja, melainkan ada campur tangan manusia selaku makhluk yang berakal dalam perubahan lingkungan tersebut. Alam secara tidak langsung akan memberikan respon bagi setiap perlakuan padanya. Jika manusia berbuat kebaikan , maka alam pun akan merespon dengan hal yang baik pula. sebaliknya,  jika manusia memperlakukan alam ini dengan semena-mena maka tentu hal buruk akan terjadi pada manusia itu sendiri entah itu berupa bencana, kerusakan alam ataupun yang lainnya. Hukum kausalitas akan selalu ada bagi setiap perlakuan manusia terhadap alam ini.
Dinegara kita yang subur ini allah telah menganugrahkan berbagai jenis tumbuh- tumbuhan yang dapat kita mamfaatkan , baik secara langsung maupun tidak langsung . dari tumbuh- tumbuhan dapat kita manfaatkan untuk makanan sehari- hari ,untuk obat- obatan ,untuk membuat rumah peralatan rumah tangga , dan sebgainya . Oleh karena itu maka selayaknya kita menjaga dan memelihara tumbuh- tumbuhan sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT dan agar manfaatnya bisa kita rasakan dan mencegah kerusakannya supaya kita terhindar dari mudarat akibat kerusakannya.

B. Rumusan Masalah
1.      Apa Itu Peduli Lingkungan ?
2.      Bagaimana Peduli Lingkungan Menurut Islam?
3.      Apa Saja Tindakan Yang Termasuk Ke Dalam Peduli Lingkungan?
4.      Apa Saja Tindakan Yang Harus Dihindari Dalam Peduli Lingkungan Ini?
5.      Apa Saja Sikap Yang Dapat Menumbuhkan Sikap Peduli Lingkungan?
6.      Apa Kendala Yang Dihadapi Dalam Penbudayaan Karakter Peduli Lingkungan?

C. Tujuan Penulisan
1.      Untuk Mengetahui Definisi Peduli Lingkungan .
2.      Untuk Mengetahui Peduli Lingkungan Menurut Islam.
3.      Untuk Mengetahui Tindakan Yang Termasuk Ke Dalam Peduli Lingkungan.
4.      Untuk Mengetahui Tindakan Yang Harus Dihindari Dalam Peduli Lingkungan Ini.
5.      Untuk Mengetahui Sikap Yang Dapat Menumbuhkan Sikap Peduli Lingkungan.
6.      Untuk Mengetahui Kendala Yang Dihadapi Dalam Penbudayaan Karakter Peduli Lingkungan.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Apa Itu Peduli Lingkungan
Peduli berarti mengindahkan; memperhatikan dan kepedulian adalah perihal sangat peduli; sikap mengindahkan (memprihatinkan); sikap mengindahkan (memprihatinkan) sesuatu yg terjadi dl masyarakat. Sedangkan Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut. Lingkungan juga dapat diartikan menjadi segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dan mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia.
Lingkungan terdiri dari komponen abiotik dan biotik. Komponen abiotik adalah segala yang tidak bernyawa seperti tanah, udara, air, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi. Sedangkan komponen biotik adalah segala sesuatu yang bernyawa seperti tumbuhan, hewan, manusia dan mikro-organisme (virus dan bakteri).
Jadi peduli lingkungan merupakan suatu sikap mengindahkan , memperhatikan segala sesuatu yang ada di lingkungan baik itu dengan komponen biotik maupun abiotik dengan selalu menjaga kelestariannya, keseimbangannya Dan juga tidak berbuat kerusakan pada lingkungan tersebut.

2.2 Peduli Lingkungan Menurut Islam
Islam memberikan rambu-rambu yang cukup jelas mengenai lingkungan hidup. Salah satu Hadis Rasul yang menjelaskan mengenai pemeliharaan lingkungan hidup dalam Sunan Abu Daud: “Barangsiapa yang memotong pohon sidrah maka Allah akan meluruskan kepalanya tepat ke dalam neraka.”
Pohon sidrah adalah pohon yang terkenal dengan sebutan al-sidr. Pohon ini tumbuh di padang pasir, tahan terhadap panas dan tidak memerlukan air. Pohon tersebut digunakan sebagai tempat berteduh oleh para musafir, orang yang mencari makanan ternak, tempat penggembalaan, atau untuk berbagai tujuan lainnya.
Ancaman neraka bagi orang yang memotong pohon sidrah menunjukkan perlunya menjaga kelestarian lingkungan hidup di sekitar kita. Hal ini dikarenakan keseimbangan (ekosistem) antara makhluk satu dengan lainnya perlu dijaga, sedangkan memotong pohon sidrah adalah salah satu bentuk perbuatan yang mengancam unsur-unsur alam yang sangat penting untuk keselamatan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa Islam cukup memberikan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Jika dilihat dalam rentang sejarah pada hakikatnya Islam telah lebih dahulu menggagas perlunya perlindungan dan penjagaan terhadap lingkungan hidup sebelum munculnya berbagai organisasi dunia yang menyerukan perlindungan dan pelestarian lingkungan (suaka alam), baik hutan ataupun lainnya sampai penetetapan hari lingkungan hidup.
Oleh karena itu, pada dasarnya apa yang dilakukan para penebang hutan secara liar (illegal loging), pencemaran udara,membuang sampah ke sungai, parit dan selokan dan seluruh perbuatan yang merusak lingkungan hidup adalah perbuatan yang tidak terpuji dan melanggar peraturan, baik itu peraturan pemerintah maupun aturan agama.
Dapat kita lihat penebangan hutan secara liar di tanah air sudah terjadi di mana-mana kendati pun sudah ada penanganan dari pemerintah. Padahal, yang meraup keuntungan hanya sekelompok orang saja sedangkan akibat yang dimunculkannya begitu fatal kepada masyarakat banyak yang tidak ikut campur dan tidak tahu sama sekali.
Oleh sebab itu, bencana yang dialami bangsa ini bukan karena benci dan murkanya Allah SWT, tetapi karena tindakan dan perilaku masyarakatnya yang telah melakukan pengrusakan terhadap tatanan alam yang sudah tertata secara alami. Akhirnya, alam menjadi tidak bersahabat dan akrab lagi dengan manusia dan menjadi hal yang manakutkan dan menyeramkan bagi manusia sendiri.
Dengan demikian, pesan Rasul dalam hadis di atas sekalipun begitu singkat tetapi padat makna sudah cukup menjadi bukti bahwa Islam sangat peduli dengan lingkungan hidup sekaligus untuk menciptakan masyarakat yang harus menjaga dan memahami betapa pentingnya peranan lingkungan hidup dalam kehidupan.

2.3 Tindakan Yang Termasuk  Pedulian Terhadap Lingkungan
A. Menanam Pohon Menurut Hadis Nabi
حَدَثَنَا قَتِيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٌ: حَدَثَنَا أَبُوْ عَوَانَة وَحَدَثَنِيْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ اْلمُبَارَكَ: حَدَثَنَا أَبُوْ عَوَانَةُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم:مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ، أَوْ إِنْسَانٌ، أَوْ بَهِيْمَةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ وَقَالَ لَنَا مُسْلِمٌ: حَدَّثَنَا أَبَانُ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ: حَدَّثَنَا أَنَسٌ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه البخارى)
 “Hadits dari Qatibah ibn Sa’id, hadits dari Abu ‘Awanah dan hadits ‘Abdur Rahman ibn Mubarak, hadits dari Abu ‘Awanah, dari Qatadah dari Anas ra. berkata: Rosulullah SAW. bersabda: “Tidaklah seorang musim menanam tanaman atau menumbuhkan tunbuhan lalu tumbuhan itu di makan oleh burung, manusia atau hewan ternak, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya.”
Berkata seorang muslim kepada kami, Aban telah menceritakan kepada kami, Qatadah telah menceritakan kepada kami, Anas telah menceritakan kepada kami dari Rosulullah Saw.

Isi kandungan
Hadits diatas mengandung pengertian bahwa betapa mulianya orang yang menanam pohon atau mengadakan reboisasi. Walaupun seolah-olah itu pekerjaan yang sepele tetapi sebenarnya sangat besar manfaatnya, misalnya dari hasil tanaman tersebut ia dapat memberi makan hewan juga manusia jika tanaman yang ia tanam itu menghasilkan makanan, selain itu juga kalau hasil tanamannya berupa pepohonan yang besar seperti yang ada di hutan-hutan akan sangat bermanfaat atas kelestarian air. Karena akar-akar dari pohon itu dapat menyerap air sehingga dapat menghasilkan sumber air.
Dan hal ini juga ditegaskan dengan adanya beberapa hadis lain yang juga memberi kabar bahwa menanam pohon adalah sadaqah walaupun pohon atau tanaman itu tidak dimakan oleh manusia atau mahluk allah yang lain hal inin sesuai dengan hadis nabi yang berbunyi ;
عن احمد والطبراني الجميع الكبير قال عن ابو د رداع ر ضي الله عنه الحشا مي قال من غرس غر سا لم ياء كل منه اد مي ولا خلق من خلق الله الا كان له صد قة
“Barang siapa mwnanam bibit tanaman (sekalipun ) yang tidak dimakan oleh manusia dan tidak pula oleh mahluk allah melainkan allah menuliskan sadaqah baginya.”
      Asbabul Wurud
Ada seorang laki- laki berpapasan dengan abu dardak ketika dia menanam bibit pohon didamaskus maka orang tersebut berkata kepadanya , apakah anda melakukan hal ini ? padahal jika anda adalah sahabat Rasulullah SAW ? maka Abu Dardak menjawab , janganlah terlalu terburu- buru memberi penilaian kepadaku , aku mendengar rasulullah SWA bersabda,
"Barang siapa menanam bibit tanaman (sekalipun ) yang tidak dimakan oleh manusiadan tidak pula oleh mahluk allah melaikan allah menuliskan sadaqah baginya.”
Dengan adanya hadis ini dapat mendorong seseorang untuk mengelola tanah dengan tanaman , atau dengan melakukan usaha pertanian ,atau dengan memanfaatkan tanah kosong untuk dijadikan sebuah kebun atau pekarangan , karena allah pasti akan menuliskan sebuah pahala sadaqah baginya . sehingga orang islam akan bersemangat untuk melakukan sesuatu yang bermamfaat baginya dan bagi alam sekitarnya , hal ini juga menunjukkan bahwa ajaran islam sangat memperdulikan lingkungan dan menunjukkan bahwa semua perbuatan orang islam tidak sia- sia dan perbuatannya pasti akan mendapatkankan pahala atau balasan yang setimpal sesuai dengan apa yang ia kerjakan , walaupun hanya dengan menanam sebuah bibit tanaman yang belum tentu dimakan oleh manusia atau hewan .subhanallah.
Pendapat para ulama
Al-Imam Abu Zakariyya Yahya Ibn Syarof An-Nawawiy -rahimahullah- berkata menjelaskan faedah-faedah dari hadits yang mulia ini, “Di dalam hadits-hadits ini terdapat keutamaan menanam pohon dan tanaman, bahwa pahala pelakunya akan terus berjalan (mengalir) selama pohon dan tanaman itu ada, serta sesuatu (bibit) yang lahir darinya sampai hari kiamat masih ada. Para ulama silang pendapat tentang pekerjaan yang paling baik dan paling afdhol. Ada yang berpendapat bahwa yang terbaik adalah perniagaan. Ada yang menyatakan bahwa yang terbaik adalah kerajinan tangan. Ada juga yang menyatakan bahwa yang terbaik adalah bercocok tanam. Inilah pendapat yang benar. Aku telah memaparkan penjelasannya di akhir bab Al-Ath’imah dari kitab Syarh Al-Muhadzdzab. Di dalam hadits-hadits ini terdapat keterangan bahwa pahala dan ganjaran di akhirat hanyalah khusus bagi kaum muslimin, dan bahwa seorang manusia akan diberi pahala atas sesuatu yang dicuri dari hartanya, atau dirusak oleh hewan, atau burung atau sejenisnya”.
Perhatikan, satu diantara perkara yang tak akan terputus amalannya bagi seorang manusia, walaupun ia telah meninggal dunia adalah sedekah jariyah, sedekah yang terus mengalir pahalanya bagi seseorang. para ahli ilmu menyatakan bahwa sedekah jariyah memiliki banyak macam dan jalannya, seperti membuat sumur umum, membangun masjid, membuat jalan atau jembatan, menanam tumbuhan baik berupa pohon, biji-bijian atau tanaman pangan, dan lainnya. jadi, menghijaukan lingkungan dengan tanaman yang kita tanam merupakan sedekah dan amal jariyah bagi kita walau telah meninggal selama tanaman itu tumbuh atau berketurunan.
Al-imam ibnu baththol -rahimahullah- berkata: "ini menunjukkan bahwa sedekah untuk semua jenis hewan dan makhluk bernyawa di dalamnya terdapat pahala". [lihat syarh ibnu baththol (11/473)] Hal ini juga selaras dengan hadis sebagai berikut :

"Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalannya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah (yang mengalir pahalanya), ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shaleh yang mendo’akan kebaikan baginya". [HR. Muslim dalam Kitab Al-Washiyyah (4199)]

Seorang muslim yang menanam tanaman tak akan pernah rugi di sisi allah -azza wa jalla-, sebab tanaman tersebut akan dirasakan manfaatnya oleh manusia dan hewan, bahkan bumi yang kita tempati. tanaman yang pernah kita tanam lalu diambil oleh siapa saja, baik dengan jalan yang halal, maupun jalan haram, maka kita sebagai penanam tetap mendapatkan pahala, sebab tanaman yang diambil tersebut berubah menjadi sedekah bagi kita.
Penghijauan merupakan amalan sholeh yang mengandung banyak manfaat bagi manusia di dunia dan untuk membantu kemaslahatan akhirat manusia. tanaman dan pohon yang ditanam oleh seorang muslim memiliki banyak manfaat, seperti pohon itu bisa menjadi naungan bagi manusia dan hewan yang lewat, buah dan daunnya terkadang bisa dimakan, batangnya bisa dibuat menjadi berbagai macam peralatan, akarnya bisa mencegah terjadinya erosi dan banjir, daunnya bisa menyejukkan pandangan bagi orang melihatnya, dan pohon juga bisa menjadi pelindung dari gangguan tiupan angin, membantu sanitasi lingkungan dalam mengurangi polusi udara, dan masih banyak lagi manfaat tanaman dan pohon yang tidak sempat kita sebutkan di lembaran sempit ini. jika demikian banyak manfaat dari reboisasi, maka tak heran jika agama kita memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan tanah dan menanaminya.

B. Menghidupkan Lahan Mati
Alam lingkungan yang didalamnya termasuk manisia merupakan jaringan kehidupan yang menunjukkan adanya saling ketergantungan antara mahluk yang satu dengan mahluk yang lainnya . misalnya tanaman memerlukan air dan tanah untuk hidup sedangkan tanah memerlukan tanaman untuk resapan air dan menjaga kesuburan tanah dan menghindari erosi .dengan demikian maka alam lingkungan memerlukan keseimbangan untuk tetap lestari ,jika salah satu bagian terganggu maka akan mempengaruhi bagian yang lain oleh karena hendaknya kita harus mengelola lingkungan agar kelestariannya tetap terjaga dan seimbang .
Jika didalam suatu pekrangan rumah tangga masih terdapat lahan yang kosong dan tidak untuk keperluan yang sudah direncanakan , maka sebaiknya pekarangan tersebut ditanami dengan pohon penyejuk atau pohon pelindung atau pohon- pohon yang dapat memberikan penghasilan bagi rumah tangga atau pohon produktif.
Lahan yang dipersiapkan untuk tanaman produktif baik berupa daratan maupun sawah harus dapat dimamfaakan dengan menanam pohon- pohon dan harus direncaaanakan secara intensif . dengan menana tanaman yang produktif yang dapat menghasilkan produksi yang sebesar- besarnya sehingga bisa membantu penghasialan rumah tangga .
Lahan intensifikasi baik berupa daratan maupun sawah sebaiknya diteliti terlebih dahulu ,agar kita tau tanaman produktif apa saja yang cocok ditanam diatas lahan itu ,karena dengan adanya penelitian maka insa alllah hasil dari tanaman tersebut akan lebih bagus dan berkulitas . Hal ini Sesuai dengan bunyi hadist berikut.

حَدِيْثُ جَابِرِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ رضى الله عنهما, قَالَ : كَانَتْ لِرِجَالٍ مِنَّا فُضُوْلُ اَرَضِيْنَ, فَقَالُوْا نُؤَاجِرُهَا بِالثُّلُثِ وَالرُّبُعِ وَالنِّصْفِ, فَقَالَ النَّبِىُّ ص.م. : مَنْ كَانَتْ لَهُ اَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا اَوْلِيَمْنَحْهَا اَخَاهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُمْسِكْ أَرْضَهُ.


“ Hadist Jabir bin Abdullah r.a. dia berkata : Ada beberapa orang dari kami mempunyai simpanan tanah. Lalu mereka berkata: Kami akan sewakan tanah itu (untuk mengelolahnya) dengan sepertiga hasilnya, seperempat dan seperdua. Rosulullah S.a.w. bersabda: Barangsiapa ada memiliki tanah, maka hendaklah ia tanami atau serahkan kepada saudaranya (untuk dimanfaatkan), maka jika ia enggan, hendaklah ia memperhatikan sendiri memelihara tanah itu“. (HR. Imam Bukhori dalam kitab Al-Hibbah)

Selain dari hadits diatas, ada juga bersumber dari Abu Hurairah r.a. dengan lafazd sebagai berikut :

حَدِيْثُ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قال: قال رسول الله عليه وسلم : مَنْ كَانَتْ لَهُ اَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا اَوْلِيَمْنَحْهَا اَخَاهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُمْسِكْ أَرْضَهُ.(اخرجه البخارى فى كتاب المزاعة)

Antara kedua tersebut terdapat persamaan, yaitu masing-masing ditakhrijkan oleh Imam Bukhori. Sedangkan perbedaannya adalah sumber hadits tersebut dari Jabir yang diletakkan dalam kitab Al-Hibbah yang satunya bersumber dari Abu Hurairah dan diletakkan dalam kitab Al-Muzara’ah.
Dari ungkapan Nabi S.a.w. dalam hadits diatas yang menganjurkan bagi pemilik tanah hendaklah menanami lahannya atau menyuruh saudaranya (orang lain) untuk menanaminya. Ungkapan ini mengandung pengertian agar manusia jangan membiarkan lingkungan (lahan yang dimiliki) tidak membawa manfaat baginya dan bagi kehidupan secara umum. Memanfaatkan lahan yang kita miliki dengan menanaminya dengan tumbuh-tumbuhan yang mendatangkan hasil yang berguna untuk kesejahteraan pemiliknya, maupun bagi kebutuhan konsumsi orang lain. Hal ini merupakan upaya menciptakan kesejahteraan hidup melalui kepedulian terhadap lingkungan. Allah S.w.t. telah mengisyaratkan dalam Al-Qur’an supaya memanfaatkan segala yang Allah ciptakan di muka bumi ini. Isyarat tersebut seperti diungkapkan dalam firman-Nya:

“ Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu semua.” (Qs. Al-Baqoroh : 29)

Dalam hadits dari Jabir di atas menjelaskan bahwa sebagian para sahabat Nabi S.a.w. memanfaatkan lahan yang mereka miliki dengan menyewakan lahannya kepada petani. Mereka menatapkan sewanya sepertiga atau seperempat atau malahan seperdua dari hasil yang didapat oleh petani. Dengan adanya praktek demikian yang dilakukan oleh para sahabat, maka Nabi meresponnya dengan mengeluarkan hadits diatas, yang intinya mengajak sahabat menanami sendiri lahannya atau menyuruh orang lain mengolahnya apabila tidak sanggup mengolahnya. Menanggapi permasalahan sewa lahan ini, para ulama berbeda pendapat tentang kebolehannya.
Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid menjelaskan bahwa segolongan fuqoha tidak membolehkan menyewakan tanah. Mereka beralasan dengan hadits Rafi’ bin Khuday yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam kitab Al-Muzara’ah :

اَنَّ النَّبِى ص.م. نَهَى عَنْ كَرَاءِ الْمَزَارَعِ. (رواه البخارى)

“ Bahwasanya Nabi S.a.w. melarang menyewakan lahan “ (HR. Bukhori)

Sedangkan jumhur ulama membolehkan, tetapi imbalan sewanya haruslah dengan uang (dirham atau dinar) selain itu tidak boleh. Ada lagi yang berpendapat boleh dengan semua barang, kecuali makanan termasuk yang ada dalam lahan itu. Berbagai pendapat yang lain seperti yang dikemukakan Ibnu Rusyd bahwa dilarang menyewakan tanah itu lantaran ada kesamaran didalamnya. Sebab kemungkinan tanaman yang diusahakan di atas tanah sewaan itu akan tertimpa bencana, baik karena kebakaran atau banjir. Dan akibatnya si penyewa harus membayar sewa tanpa memperoleh manfaat apapun daripadanya.
Terkait dengan hadits diatas, disini Rosulullah S.a.w. juga bersabda dalam kitab Al-Lu’lu’ wal Marjan tentang menyerahkan tanah kepada orang untuk dikerjakan kemudian memberikan sebagian hasilnya :

حَدِيْثُ ابْنُ عُمَرَ رضى الله عنه, اَنَّ النَّبِىَ ص.م. عَامَلَ خَيْبَرَ بِشَرْطٍ مَايَخْرُجُ مِنْهَا مِنْ ثَمَرٍ اَوْزَرْعٍ, فَكَانَ يُعْطِى اَزْوَاجَهُ مِائَةَ وِسْقٍ: ثَمَانُوْنَ وِسْقَ تَمْرٍ, وَعِشْرُوْنَ وِسْقَ شَعِيْرٍ : فَقَسَمَ عُمَرُ خَيْبَرَ فَخَيَّرَ اَزْوَاجَ النَّبِىِّ ص.م. اَنْ يُقْطِعَ لَهُنَّ مِنَ الْمَاءِ وَالاَرْضِ اَوْ يُمْضِىَ لَهُنَّ فَمِنْهُنَّ مَنِ اخْتَارَ الاَرْضَ وَمِنْهُنَّ مَنِ اخْتَارَ الوَسْقَ, وَكَانَتْ عَائِشَةُ اخْتَارَتِ الاَرْضَ. (اخرجه البخارى)

“ Ibnu Umar r.a. berkata : Nabi S.a.w. menyerahkan sawah ladang dan tegal di khaibar kepada penduduk Khaibar dengan menyerahkan separuh dari penghasilannya berupa kurma atau buah dan tanaman, maka Nabi S.a.w. memberi istri-istrinya seratus wasaq (1 wasaq=60 sha’. 1 sha’ =4 mud atau 2 ½ Kg), delapan puluh wasaq kurma tamar, dan dua puluh wasaq sya’er (jawawut). Kemudian dimasa Umar r.a. membebaskan kepada istri-istri Nabi S.a.w. untuk memilih apakah minta tanahnya atau tetap minta bagian wasaq itu, maka diantara mereka ada yang memilih tanah dan ada yang minta bagian hasilnya berupa wasaq.” (HR. Bukhori)

Allah swt berfirman dalam Al-Quran :

   وَءَايَةٌ لَهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ

“Dan suatu tanah (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati, Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka dari padanya mereka makan”.
Di ayat lain, tepatnya QS. al-Haj (22): 5-6 Allah swt, berfirman :
… وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيج ٍ(5) ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِي الْمَوْتَى وَأَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(6)

“… Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami telah menurunkan air diatasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbu-hkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dia lah yang hak dan sesungguhnya Dia lah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Kematian sebuah tanah akan terjadi kalau tanah itu ditinggalkan dan tidak ditanami, tidak ada bangunan serta peradaban, kecuali kalau kemudian tumbuh didalamnya pepohonan. Tanah dikategorikan hidup apabila di dalamnya terdapat air dan pemukiman sebagai tempat tinggal.
Menghidupkan lahan mati adalah ungkapan dalam khazanah keilmuan yang diambil dari pernyataan Nabi saw, dalam bagian matanhadis, yakni مَنْ أَحْيَا أَرْضًا مَيِّتَةً فَهِيَ لَهُ  (Barang siapa yang menghidupkan tanah (lahan) mati maka ia menjadi miliknya).
Dalam hadis ini Nabi saw, menegaskan bahwa status kepemilikan bagi tanah yang kosong adalah bagi mereka yang menghidupkannya, sebagai motivasi dan anjuran bagi mereka yang menghidupkannya. Menghidupkan lahan mati, usaha ini dikategorikan sebagai suatu keutamaan yang dianjurkan Islam, serta dijanjikan bagi yang mengupayakannya pahala yang amat besar, karena usaha ini adalah dikategorikan sebagai usaha pengembangan pertanian dan menambah sumber-sumber produksi. Sedangkan bagi siapa saja yang berusaha untuk merusak usaha seperti ini dengan cara menebang pohon akan dicelupkan kepalanya ke dalam neraka. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw sebagaimana dalam bagian matan hadis, yakni ; مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِي النَّارِ  (Barang siapa yang menebang pepohonan, maka Allah akan mencelupkannya ke dalam neraka).
Maksud hadis di atas, dijelaskan kemudian oleh Abu Daud setelah meriwayatkan hadis tersebut, yaitu kepada orang yang memotong pepohonan secara sia-sia sepanjang jalan, tempat para musafir dan hewan berteduh. Ancaman keras tersebut secara eksplisit merupakan ikhtiar untuk menjaga kelestarian pohon, karena keberadaan pepohonan tersebut banyak memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Kecuali, jika penebangan itu dilakukan dengan pertimbangan cermat atau menanam pepohonan baru dan menyiram-nya agar bisa menggantikan fungsi pohon yang ditebang itu.

2.4 Tindakan Yang Harus dihindari Dalam Upaya Peduli terhadap Lingkungan

a. Larangan mencemari air
Bentuk-bentuk pencemaran air yang dimaksud oleh ajaran Islam di sini seperti kencing, buang air besar dan sebab-sebab lainnya yang dapat mengotori sumber air. Rasululullah saw bersabda :
… اتَّقُوا الْمَلَاعِنَ الثَّلَاثَةَ الْبَرَازَ فِي الْمَوَارِدِ وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ وَالظِّلِّ

“Jauhilah tiga macam perbuatan yang dilaknat ; buang air besar di sumber air, ditengah jalan, dan di bawah pohon yang teduh.”(HR. Abu Daud)
Rasulullah saw, juga bersabda :  لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لَا يَجْرِي ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ  (Janganlah salah seorang dari kalian kencing di air yang diam yang tidak mengalir, kemudian mandi disana. HR. Al-Bukhari)

 Pendapat para ulama
Sekelompok ulama berpandapat bahwa kencing di air yang sedikit dan tidak mengalir hukumnya makruh. Ada juga yang mengatakan bahwa perbuatan tersebut hukumnya haram. Sebab kencing di air yang sedikit yang tidak mengalir bisa menyebabkan menjadi najis dan mubadzir karena tidak bisa dipergunakan lagi.
Ada juga sebagian ulama yang mengatakan bahwa hukumnya haram, sedangkan kencing di selain air yang tenang hanya berhukum makruh. Hal ini tergantung pada kondisi air itu sendiri. Apabila airnya berukuran banyak dan mengalir makatidak haram kencing di air tersebut.
Menurut Asy-syafi’i, kencing di air yang sedikit yang mengalir bisa menyebabkan air itu menjadi najis, sedangkan kalau kencing pada air yang kapasitasnya banyak dan mengalir, maka ukumnya hanya sebatas makruh.
Menurut Abu Hanifah dan orang-orang yang sependapat dengannya, yakni para ulama yang menganggap air dalam kolam yang hanya bisa bergerak dalam kolam itu tanpa ada saluran yang bisa membuatnya mengalir akan berubah menjadi najis apabila kemasukan benda najis.
Sedangkan menurut Dawud bin ‘Ali Azh-Zhahiri mengatakan bahwa larangan tersebut hanya berlaku khusus untuk  masalah buang air kecil. Menurutnya, masalah buang air besar tidak sama hukumnya dengan buang air kecil.
Pencemaran air di zaman modern ini tidak hanya terbatas pada kencing, buang air besar, atau pun hajat manusia yang lain. Bahkan banyak ancaman pencemaran lain yang jauh lebih berbahaya dan berpengaruh dari semua itu, yakni pencemaran limbah industri, zat kimia, zat beracun yang mematikan, serta minyak yang mengenangi samudra.
B. Penggunaan Air Secara Berlebihan
Ada bahaya lain yang berkaitan dengan sumber kekayaan air, yaitu penggunaan air secara berlebihan. Air dianggap sebagai sesuatu yang murah dan tidak berharga. Karena hanya manusia-manusia yang berfikir yang mengetahui betapa berharga kegunaan dan nilai air. Hal ini sejalan dengan QS. al-An’am (6), yakni وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ (Dan janganlah kalian israf (berlebih-lebihan). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlaku israf).Ayat di atas, didukung juga oleh salah satu hadis, yakni :
… أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِسَعْدٍ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَقَالَ مَا هَذَا السَّرَفُ يَا سَعْدُ قَالَ أَفِي الْوُضُوءِ سَرَفٌ قَالَ نَعَمْ وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهْرٍ جَارٍ

“… Nabi saw, pernah bepergian bersama Sa’ad bin Abi Waqqas. Ketika Sa’ad berwudhu, Nabi berkata : “Jangan menggunakan air berlebihan”. Sa’ad bertanya : “Apakah menggunakan air juga bisa berlebihan ?”. Nabi menjawab: “Ya, sekalipun kamu melakukannya di sungai yang mengalir”.

C. Menghindari Kerusakan dan Menjaga Keseimbangan Alam
Salah satu tuntunan terpenting Islam dalam hubungannya dengan lingkungan, ialah bagaimana menjaga keseimbangan alam/ lingkungan dan habitat yang ada tanpa merusaknya. Karena tidak diragukan lagi bahwa Allah menciptakan segala sesuatu di alam ini dengan perhitungan tertentu. Seperti dalam firman Nya dalam QS. al-Mulk (67):
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ
“Allah yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang. Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang.”
Inilah prinsip yang senantiasa diharapkan dari manusia, yakni sikap adil dan moderat dalam konteks keseimbangan lingkungan, tidak hiperbolis atau pun meremehkan, sebab ketika manusia sudah bersikap hiperbolis atau meremehkan, ia cenderung menyimpang, lalai serta merusak. Hiperbolis di sini maksudnya adalah berlebih-lebihan dan melewati batas kewajaran. Sementara meremehkan maksudnya ialah lalai serta mengecilkan makna yang ada. Keduanya merupakan sikap yang tercela, sedangkan sikap adil dan moderat adalah sikap terpuji.
Sikap adil, moderat, ditengah-tengah dan seimbang seperti inilah yang diharapkan dari manusia dalam menyikapi setiap persoalan. Baik itu berbentuk materi maupun inmateri, persoalan-persoalan lingkungan dan persoalan umat manusia, serta persoalan hidup seluruhnya.
Keseimbangan yang diciptakan Allah swt, dalam suatu lingkungan hidup akan terus berlangsung dan baru akan terganggu jika terjadi suatu keadaan luar biasa, seperti gempa tektonik, gempa yang disebabkan terjadinya pergeseran kerak bumi. Tetapi menurut al-Qur’an, kebanyakan bencana di planet bumi disebabkan oleh ulah perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab. Firman Allah swt yang menandaskan hal tersebut adalah QS. al-Rum (30):, sebagai berikut :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)”.
Selanjutnya Allah swt, berfirman di dalam QS. Ali Imran (3) dan QS. Al-Baqarah 204-205:
ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
“ (Adzab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba Nya.”

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ (٤٠٢) 
وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الأرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الْفَسَادَ (٥٠٢)
“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.”
Pada ayat ini sudah jelas bahwa Allah telah memperingatkan tentang kerusakan yang terjadi di alam dunia ini, baik di darat, laut maupun udara adalah akibat ulah perbuatan manusia itu sendiri. Kerusakan di darat seperti rusaknya hutan, hilangnya mata air, tertimbunnya danau-danau penyimpan air, lenyapnya daerah-daerah peresap air hujan dan sebagainya. Kerusakan di laut seperti pendangkalan pantai, menghilangkan tempat-tempat sarang ikan, pencemaran air laut karena tumpahan minyak, dan lain sebagainya. Allah memperingatkan itu, karena dampak negatifnya akan dirasakan manusia itu sendiri.
Tidak sepantasnyalah alam ini dirusak karena ini merupakan salah satu karunia Tuhan, untuk itu seharusnyalah manusia harus memperbaiki dan memanfaatkannya, hal ini sebagaimana firman Allah S.w.t. dalam surat Al-An’am ayat 141-142 yang artinya:

“ Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. makanlah dari rezki yang Telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Di abad ini, campur tangan umat manusia terhadap lingkungan cenderung meningkat dan terlihat semakin meningkat lagi terutama pada beberapa dasawarsa terakhir. Tindakan-tindakan mereka tersebut merusak keseimbangan lingkungan serta keseimbangan interaksi antar elemen-elemennya. Terkadang karena terlalu berlebihan, dan terkadang pula karena terlalu meremehkan. Semua itu menyebabkan penggundulan hutan di berbagai tempat, pendangkalan laut, gangguan terhadap habitat secara global, meningkatnya suhu udara, serta menipisnya lapisan ozon yang sangat mencemaskan umat manusia dalam waktu dekat.
Demikianlah, kecemasan yang melanda orang-orang yang beriman adalah kenyataan bahwa kezhaliman umat manusia dan tindakan mereka yang merusak pada suatu saat kelak akan berakibat pada hancurnya bumi beserta isinya.

2.5 Kegiatan yang Dapat menumbuhkan Sikap Peduli Lingkungan
Dengan karakteristik anak yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dalam penanaman sikap peduli terhadap lingkungan perlu metode yang sesuai agar anak termotivasi untuk melakukannya.
1. Membuang Sampah Pada Tempatnya
Pembuangan sampah pada tempatnya yang menjadi program atau kegiatan yang merupakan salah satu program kegiatan untuk pembudayaan karakter peduli lingkungan dalam lingkungan sekolah. Kegiatan ini membudayakan seluruh aparat sekolah dan siswa untuk membuang sampah pada tempat sampah. Sebelumnya, sampah dibedakan menjadi dua, yaitu: sampah basah dan sampah kering. Sampah basah dibuang pada tempat sampah warna biru, sedangkan sampah kering dibuang pada tempat sampah warna kuning. Dengan pengarahan dan bimbingan yang dilakukan oleh guru maka dengan kegiatan dapat dilakukan dengan baik.
2. Melakukan kegiatan satu hari bersih sampah
Kegiatan satu hari bersih sampah adalah merupakan kegiatan yang bisa dilakukan pada tiap sekolah dasar, yaitu dimana dalam setiap minggunya diadakan satu hari untuk kegiatan membersihkan lingkungan sekolah. Kegiatan seperti ini bisa dilakukan dengan cara:
a. Mengambil/mengumpulakan sampah dan kemudian membuang ketempat pembuangan sampah untuk dibakar
b. Membakar sampah dari bahan yang tidah mudah diurai tanah
c. Memilah sampah yang mungkin masih bisa dibuat kerajinan tangan atau daur ulang. 3. Membuat Jadwal Menyapu
Membuat jadwal menyapu untuk tiap kelas mungkin sudah menjadi kegiatan umum yang selalu dilaksakan disetiap sekolah, baik tingkat sekolah dasar, menengah maupun tingkat lanjutan. Dengan pembuatan jadwal menyapu kelas yang diterapkan di sekolah dasar seyogyanya dapat memberikan modal utama bagi anak untuk selalu membuat ruangan selalu bersih.
Dengan pemberian jadwal menyapu ini anak mendapat tanggung jawab untuk menjaga kelasnya dari sampah ataupun debu yang dapat menghambat proses pembelajaran karena ruangan tidak nyaman.
Dalam pemberian jadwal ini yang perlu diperhatikan adalah segi gender (jenis kelamin), karena tidak jarang ditemui anak laki-laki cenderung malas dalam melakukan kegiatan menyapu kelas ini. Sehingga dengan demikian perlu di adakan pengelompokan secara heterogen (campuran), dimana dalam kelompok daftar menyapu terdapat anak laki-laki dan anak perempuan bukan berdasarkan pengabjadan.
Dengan kebiasaan-kebiasaan seperti itu maka anak senantiasa terbiasa sehingga pada akhirnya anak akan melakukannya tidak hanya di lingkungan sekolah. Kegiatan untuk membiasakan bersih lingkungan merupakan salah satu kegiatan yang dapat menanamkan sikap peduli lingkungan sehingga lingkungan jadi terawat, bersih dan sehat. Lingkungan bersih dan sehat akan membuat setiap individu yang berada di lingkungan tersebut juga akan menjadi sehat. Sehingga pada akhirnya roses pembelajaran jadi nyaman dan kondusif.

2.6 Kendala dalam Penbudayaan Karakter Peduli Lingkungan
Dalam sistem pendidikan nasional (UU RI No.2 Tahun 1989) dikemukakan, bahwa pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esadan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Depdikbud, 1989).
Tujuan pendidikan tersebut tidaklah selalu tercapai, dan pendidikan tidak hanya tanggung jawab guru tetapi tanggung jawab bersama baik pemerintah, guru dan masyarakat. Seperti halnya tujuan pendidikan nasional tersebut tujuan pembentukan karakter peduli juga tidak 100% berhasil dan tidak mendapat kendala. Kendala yang dalam pembudayaan karakter peduli lingkungan acap kali terjadi dikarenakan oleh beberapa faktor.
Adapun faktor-faktor yang menjadi kendala dalam penenman karakter jujur pada anak sekolah dasar meliputi:

1. Faktor lingkungan
Lingkunagan dimana anak itu berada sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak. Anak yang tinggal dilingkungan yang masyarakatnya kurang menjaga lingkungan akan sulit untuk menerima perubahan walaupun perubahan itu kearah kebaikan. Lingkungan yang dimaksud bisa berupa lingkungan keluarga, masyarakat ataupun lingkungan sekitar. Misalnya dalam lingkungan keluarga, anak terbiasa meniru orang tuanya yang suka buang sampah/pembungkus makanan seenaknya didalan rumah atau di halaman. Orang tua tidak menyediakan tempat sampah dirumah juga menjadikan anak suka membuang sampah sembaranagan. Begitu juga di lingkungan lainnya. Anak usia sekolah dasar cenderung masih melakukan hal-hal yang sering dilihatnya. Sehingga untuk itu para orang tua hendaknya memberikan contoh yang baik terutama kepeduliannya terhadap lingkungan atau kebersihan.
2. Faktor hubungan sosial
Karena masyarakat mempunyai tata krama dan tradisi yang harus dijadikan sebagai habitat tempat tumbuh-kembangnya anak, agar kelak mereka mempraktekkannya, selain juga mereka bisa menghormatinya. Tidak seharusnya anak mengasingkan diri dari masyarakat, tetapi sebaliknya, harus berinteraksi. Ia harus mampu memberikan pengaruh, bukannya terpengaruh. Ia harus mempengaruhi masyarakat dengan akhlak yang mulia. Jangan sampai terpengaruh dengan tradisi dan sikap yang buruk seperti kurang peduli terhadap lingkungan dalam masyarakat tersebut. Kita harus mengarahkan anak agar tidak mengikuti pergaulan yang kurang peduli terhadap lingkungan.(Syaikh Muhammad Said Mursi: 2001;23). Pendidikan karakter peduli lingkungan yang paling dasar sebenarnya terjadi di lingkungan keluarga sehingga pendidikan disekolah makin terarah dan terminimalisir segala kendala yang bakal terjadi.




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Hadist Jabir bin Abdullah r.a. ini merupakan larangan menelantarkan lahan, karena hal ini termasuk perbuatan yang tidak bermanfaat.
2.      Dalam menelantarkan lahan, Rosulullah S.a.w. menyarankan untuk memanfaatkan dan mengupah orang lain untuk mengelolahnya.
3.      Reboisasi adalah merupakan salah satu perbuatan yang terpuji.
4.      Allah S.w.t. menggambarkan kerusakan alam merupakan akibat dari ulah manusia itu sendiri.
5.      Alam di dunia ini rusak diakibatkan ulah dari perbuatan manusia yang munafiq.

B.     Saran
Kita selaku manusia sudah seharusnya memperlakukan alam ini dengan baik dengan berbagai cara termasuk menjaganya, memeliharanya, merawatnya Dan juga tidak melakukan pengrusakan terhadapnya. Hukum kausalitas akan terus berlaku bagi kita manusia dalam interaksinya dengan alam, marilah kita mulai dari sekarang menjaga alam ini mulai dari hal-hal yang terkecil yang sering kita anggap sepele.




DAFTAR PUSTAKA

             Al-Qur’an dan terjemah
Fuad Abdul Baqi, Muhammad. 1996. Al-Lu’lu’ wal Marjan. Surabaya: PT. Bina Ilmu.

            Al-Asqalani , Ibnu Hajar. Al-Hafidz, Al-Imam “Fathul Baari”, terj. Amiruddin. Jakarta:
                    Pustaka Azzam. 2005
            An-Nawawi, Imam. “Shahih Muslim di Syarhin Nawawi”. terj. Wawan Djunaedi Soffandi.       
                    Jakarta: Mustaqiim.  2003
Rahmad , Edi. 2013. Tuntunan Islam Peduli Lingkungan. 28 April 2015. http://www.waspa  damedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=26164:tuntunan-islam-peduli-lingkungan&catid=61:mimbar-jumat&Itemid=230

Hidayani , Nurul. 2014. Makalah Hadist Menjaga Lingkungan. 28 April 2015. http://langit jinggadipelupukmatarumahmakalah.blogspot.com/2014/10/makalah-hadis-menjaga-lingkungan.html

Hidayat, Rahmat. 2012. Ayat dan Hadis Tentang Lingkungan Hidup. 28 April 2015.
http://rahmat zoom.blogspot.com/2012/12/ayat-dan-hadits-tentang-lingkungan-hidup.html

   Hadi, Syamsul. 2009. Peduli Lingkungan. 28 April 2015. hadirukiyah2.blogspot.com /2009/09/peduli-lingkungan.html
Lestari, bunga . 2013. Peduli Lingkungan. 28 April 2015. http://smapagreen.blogspot.com/
Ulum, Bahrul. 2011. Hadist-Hadist Tentang Upaya Pelestarian. http://bahrululummunir .blogspot.com/2011/03/hadits-tentang-upaya-pelestarian.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Lingkungan

http://www.artikata.com/arti-344153-peduli.html




0 komentar:

Posting Komentar