Jumat, 19 Juni 2015

Makalah Masyarakat dan Kebudayaan



MAKALAH
MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur Pada Mata Kuliah Ilmu Sosial Dasar
Dosen :
Drs. Idad Suhada, M.Pd
Buhori Muslim, M.Pd





Disusun Oleh :
Kelompok 6
Anggota :
Andri Andriansyah (1142080007)
Hazmi Fauzi ( 1142080031)
Semester 2 A

PRODI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2015



1.      Jenis-Jenis Masyarakat
Emile Durkheim membagi jenis masyarakat kepada dua yaitu solidaritas mekanik dan solidaritas organik.
A.      Masyarakat dengan ciri solidaritas mekanik ialah masyarakat yang masih sederhana. Masing-masing kelompok dapat memenuhi kebutuhan mereka masing-masing tanpa memerlukan bantuan atau kerjasama dengan kelompok di luarnya. Mereka tinggal tersebar dan hidup terpisah satu dengan yang lainnya. Masing-masing anggota dapat menjalankan peran yang diperankan anggota lain. Pembagian kerja pada umumnya belum berkembang. Peran semua anggota sama sehingga ketidakhadiran seorang anggota kelompok tidak mempengaruhi kelangsungan hidup kelompok karena peran anggota tersebut dapat dijalankan orang lain. Setiap kelompok dapat mandiri sehingga kelangsungan hidupnya tidak bergantung pada kelompok lain. Yang diutamakan adalah persamaan perilaku dan sikap. perbedaan tidak dibenarkan. Seluruh warga masyarakat diikat oleh  kesadaran kolektif. Kesadaran kolektif tersebut mempersatukan para warga masyarakat, pelanggaran terhadap kesadaran bersama ini menimbulkan sanksi.
B.      Masyarakat dengan ciri solidaritas organik ialah bentuk solidaritas yang mengikat masyarakat kompleks yaitu masyarakat yang telah mengenal pembagian kerja yang rinci dan dipersatukan oleh saling ketergantungan antar bagian. Tiap anggota menjalankan peran berbeda dan menimbulkan saling ketergantungan antar bagian-bagian suatu organisme biologis. Ketidakhadiran satu bagian menimbulkan gangguan. Ikatan utama dalam kelompok ini adalah kesepakatan yang terjalin di antara berbagai kelompok profesi, bukan kesadaran bersama.
W.G Sumner membagi jenis masyarakat kepada kelompok dalam (in-group) dan kelompok luar (out-grup). Kelompok dalam (in-group) sering diartikan kelompok kita. Sedangkan kelompok luar (out-group) sering diartikan kelompok mereka. Sehingga keduanya saling berlawanan satu sama lain. (Sunarto 2000:132)

2. Bentuk-Bentuk Masyarakat
Atas dasar ketergantungan seorang kepada orang lain dan untuk mencari tujuan bersama, setiap orang bekerja sama dengan orang lain. Hubungan yang terjalin antar beberapa orang ini kemudian melahirkan kelompok orang atau masyarakat yang terjalin dalam satu ikatan perbedaan prinsip, nilai, kepentingan tujuan antar kelompok masyarakat melahirkan bermacam-macam bentuk masyarakat. Dari segi pengelompokannya, masyarakat terbagi atas masyarakat paguyuban (Gemein Schaft) dan masyarakat patembayan (Gesel Schaft).
1.      Masyarakat Paguyuban (Gemein Schaft)
Masyarakat paguyuban dapat diartikan Sebagai persekutuan hidup. P.J Bouman (1976) lebih mengemukakan arti masyarakat paguyuban ini Sebago suatu persekutuan manusia yang disertai perasaaan setia kawan dan keadan kolektif yang besar.
Ciri masyarakat paguyuban ini dapat dilihat dari adanya ketaatan, kesetiaan, dan kerelaan berkorban sebagaimana yang terdapat pada keluarga. Untuk mencapai tujuan mereka bersama, masing-masing anggotanya rela berkorban untuk kepentingan bersama menurut kapasitas dan kemampuan masing-masing sehingga keterkaitan antar keluarga menjadi sangat erat. Bouman mengumpamakan hal ini dengan ikatan organis antar sel-sel dalam tubuh tanaman, atau seperti alat-alat tubuh yang secara fungsional bekerja sama. Demikian juga individu dalam suatu persekutuan hidup masyarakat paguyuban yang bertalian sangat erat satu dan lainnya. Mereka memang dapat dipisahkan hanya saja keterpisahannya akan menimbulkan kesedihan dan kekalutan, dan sebagainya.
Hal ini membuktikan bahwa keterpisahan dalam kelompoknya sangat tidak disenanginya. Dengan demikian, individu Sebagai bagian unsur dari kelompoknya, merupakan unsur ciri yang vital. Ciri-ciri masyarakat paguyuban ini diantaranya:
1)      Rela Bberkorban untuk kepentingan bersama.
2)      Pemenuhan hak tidak selalu dikaitkan dengan kapasitas pemenuhan kewajibannya.
3)      Solidaritas yang sangat kokoh dan besifat permanen.
2. Masyarakat Patembayan  (Gessel Schaft)
Bila dibandingkan dengan masyarakat paguyuban, masyarakat patembayan mempunyai pertalian yang lebih renggang. P.J. Bouman (1976) mengibaratkan pertalian masyarakat patembayan ini seperti tumpukan pasir, yang tiap butir-butirnya pasir dapat terpisah dari butir lainnya. Contoh masyarakat patembayan ini adalah organisasi masyarakat dalam berbagai bentuk dan ragamnya. Keterikatan mereka hanya diletakan pada dasar untuk mencapai tujuan bersama. Hak seseorang diberikan dengan memperhitungkan pemenuhan kewajibannya yang diberikan kepada organisasi sehingga sifat kekakuan indvidu pada masyarakat patembayan ini masih sangat menonjol, bahkan tidak jarang tiap individu masih membawa misi dan kepentingan sendiri.
Ciri masyarakat ini diantaranya:
1.      Pemenuhan hak seseorang didasarkan pada pemenuhan kewajiban.
2.      Solidaritas antara anggota tidak terlalu kuat dan hanya bersifat sementara.
Demikian bentuk masyarakat asal ditinjau dari keterkaitannya antara satu dan anggota lainnya.  

3. Pengertian Masyarakat Desa
Desa menurut definsi universal, adalah sebuah anglomerasi pemukiman di area pedesaan (rural). Di indonesia, desa adalah pembagian wilayah administratif di bawah kecamatan, yang dipimpin oleh kepala desa.
Sejak diberlakukanya otonomi daerah, istilah desa disebut dengan nama lain, misalnya di sumatra barat disebut dengan istilah  nagari, dan di papua disebut dengan istilah kampung. Begitu pula, segala istilah dan institusi di desa disebut dengan nama lain sesuai dengan karakteristik adat-istiadat desa tersebut. Hal ini merupakan salah satu pengakuan dan penghormatan pemerintah terhadap asal-usul dan adat-istiadat setempat.
Menurut peraturan pemerintah nomor 57 tahun 2005 tentang desa, desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan negara kesatuan republik Indonesia.
Desa bukanlah bawahan kecamatan karena kecamatan merupakan bagian dari perangkat daerah kabupaten/kota, dan desa bukan merupakan bagian dari perangkat daerah. Berbeda dengan kelurahan, desa memiliki hak mengatur wilayahnya lebih luas. Namun, dalam perkembanganya, sebuah desa dapat ditingkatkan statusnya menjadi kelurahan.
Kewenangan desa adalah:
1.      Menyelenggarakan urusan pemerintahan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul desa.
2.      Menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota yang diserahkan pengaturanya kepada desa, yakni urusan pemerintahan yang secara langsung dapat meningkatkan pelayanan masyarakat.
3.      Tugas pembantuan dari pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota.
4.      Urusan pemerintahan lainnya yang diserahkan kepada desa.
5.      Desa memiliki pemerintahan sendiri. Pemerintahan desa terdiri atas pemerintahan desa (yang meliputi kepala desa dan perangkat desa) dan Badan permusyawaratan Desa (BPD).

4.      Pengertian Masyarakat Kota
Kota, menurut definisi universal, adalah sebuah area urban yang berbeda dari desa ataupun kampung berdasarkan ukurannya, kepadatan penduduk, kepentingan, atau status hukum.
Dalam konteks administrasi pemerintahan di Indonesia, kota adalah pembagian wilayah adminsitratif di Indonesia setelah provinsi, yang dipimpin oleh seorang walikota. Selain kota, pembagian wilayah administratif setelah provinsi adalah kabupaten. Secara Umum, baik kabupaten dan kota memiliki wewenang yang sama. Kabupaten bukanlah bawahan dari provinsi, karena itu bupati atau walikota tidak bertanggung jawab kepada gubernur. Kabupaten maupun kota merupakan daerah otonom yang diberi wewenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahannya sendiri.
Dahulu, di Indonesia dikenal istilah kota dikenal dengan daerah tingkat II kotamadya. Sejak diberlakukanya undang-udang Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, isitilah daerah tingkat II kotamadya pun diganti dengan kota saja. Istilah ‘kota” di provinsi Nangroe Aceh Darusslaam disebut juga dengan “banda”.
Kota adalah sebuah teritori yang pengertiannya terus berubah sejalan dengan dinamika kota itu sendiri. Dalam konsep jawa, contohnya, tak dikenal dengan istilah kota. Yang ada hanya nagara, dan wilayah itu adalah ke mana pun “orang pergi ke luar tanpa melintasi sawah”. Sementara orang melayu menyebutnya bandar: tempat persinggahan kapal-kapal, bongkar muat barang, transaksi jual beli dan dari sini pula umumnya peradaban tumbuh, sebuah kota berkembang. Pemahaman ini tentunya datang dari mereka yang akrab dengan laut, wilayah kepulauan, yang mengaindaikan bandar/kota sekadar lokasi transit: tempat masuk dan keluar, datang untuk kemudian pergi lagi. Bandar/kota dalam hal ini adalah gerbang. Beberapa definisi (secara etimologis) “kota” dalam bahasa lain yang agak pas dengan pengertian ini, seperti dalam bahasa cina, kota dinding, dan dalam bahasa Belanda kuno, kota, tuin, bisa berarti pagar. Dengan demikian, kota dalah suatu batas.

5.      Perbedaan Masyarakat perkotaan dan Pedesaaan
Pertentangan antara kota dan desa, awal mulanya bukan sesuatu hal yang harus dibesar-besarkan. Sifatnya komplemen. Kota acapkali merupakan tempat raja bersemayam, teritori dimana tidak lagi dijumpai sawah-sawah, tempat peribadatan, pusat perdagangan. Dua hal, desa dan kota, merupakan sebentuk kehidupan yang utuh dan saling melanjutkan. Namun, ketika muncul gairah produksi ala modern, cara pandang dan gaya hidup berubah menjadi era industri (produksi), manusia hanya unsur dari gegap sistem produksi tenaga kerja. Hanya salah satu dari alat produksi yang lain seperti modal, SDA, teknologi dan lain-lain.
Lain halnya dengan kehidupan sebelumnya atau kehidupan desa yang menyebut manusia adalah sesama, keluarga, tetangga, dan saudara. Dari sinilah, dikotomi kota dan desa mulai muncul. Klasifikasi termasyhur Ferdinand Tonnies, membentangkan kota dan desa menjadi pengertian gamaenschaft dan gesselschaft, merupakan penjelasan klasik yang populer untuk memaparkan definisi desa, kota di dunia ketiga.
Apabila kita mengamini dikotomi antara pedesaan-perkotaan, terdapat perbedaan yang mendasar atas keduanya. Desa digambarkan, secara sosio-kultural, masyarakat bersifat homogen atau terbatas pada latar belakang identitas seperti etnis, ras, kelompok, atau komunitas sosial, agama ataupun budaya tertentu. Sebaliknya, kondisi perkotaan mengadaikan keberagaman latar belakang identitas baik etnis, bangsa, ras dan sebagainya, sehingga tak salah apabila ia, perkotaan, diandaikan Sebagai melting pot, wadah percampuran antara orang-orang dan/atau masyarakat memilki pelbagai perbedaan latar belakang indentitas. Di sana, mereka dengan perbedaan yang melatar belakanginya, pada tataran ideal, saling menghargai atau toleran terhadap keberagaman yang hadir di tengah-tengah mereka. Galibnya, kondisi ini memprasyaratkan terbentuknya kesederajatan antar masyarakat perkotaan.
Di dalam masyarakat pedesaan dan perkotaan, terdapat perbedaan dalam perhatian, khususnya terhadap keperluan hidup. Di desa, yang diutamakan adalah perhatian khusus terhadap keperluan utama kehidupan, hubungan untuk memerhatikan fungsi pakaian, makanan, rumah dan sebagainya, sedangkan kota memandang penggunaan kebutuhan hidup, sehubungan dengan pandangan masyarakat sekitarnya. Kalau menghidangkan makanan misalnya, yang diutamakan adalah kesan yang muncul dari makanan yang dihidangkan, apakah makanan yang dihidangkan itu memiliki kedudukan sosial yang tinggi atau tidak. Jika ada tamu hidangkan makanan dalam kaleng. pada orang-orang desa, hal seperti itu tidak mendapat perhatian, mereka masak makanan sendiri tanpa memedulikan apakah tamunya suka atau tidak. Pada orang kota, makanan yang dhidangkan harus terlihat mewah dan terhormat. Di sini, terlihat perbedaan penilaian, orang desa menilai makanan Sebagai suatu alat untuk memenuhi kebutuhan biologis, sedangkan pada orang kota Sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan sosial.
Demikian pula, dalam hal pakaian. Bagi orang desa, bentuk dan warna pakaian tidak jadi soal karena yang terpenting adalah fungsi pakaian tiu dapat melindungi diri dari panas dan dingin. Bagi orang kota, nilai pakaian adalah alat kebutuhan sosial. Mahalnya bahan pakaian yang dipakai merupakan perwujudan dari kedudukan sosial si pemakai.
kenyataan di atas menunjukkan bahwa dalam kehidupan masyarakat kota dan desa terdapat segi-segi perbedaan yang mencolok.

6.      Pengertian Kebudayaan
Budaya menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), budaya diartikan sebagai akal budi, pikiran atau adat-istiadat. Jadi jika dikatakan menurut tata bahasa, arti dari kebudayaan ini diturunkan dari makna kata budaya dan cenderung mengarah kepada pola pikir manusia. Sehingga Pengertian Kebudayaan sendiri adalah sebagai segala sesuatu yang berkaitan pada akal atau pikiran manusia serta bisa pula menunjuk terhadap perilaku, pola pikir dan karya fisik untuk sekelompok manusia.
Sedangkan Pengertian Kebudayaan menurut Koentjaraningrat yang sebagaimana telah dikutip oleh Budiono K yaitu menegaskan bahwa, “menurut antropologi, kebudayaan ialah seluruh sistem gagasan, rasa, tindakan dan karya yang dihasilkan oleh manusia dalam kehidupan masyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar”. Maka berdasarkan pengertian tersebut ini berarti bahwa ada pewarisan budaya-budaya leluhur lewat sebuah proses pendidikan.
Budaya dan kebudayaan sudah ada ketika manusia berpikir, berkarya dan berkreasi. Bahkan akan senantiasa menunjukkan mengenai pola pikir dan interpretasi manusia pada lingkungannya. Dalam kebudayaaan ini pula terkandung nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat setempat dan hal ini menuntun untuk memaksa manusia dalam berperilaku yang sesuai dengan budayanya. Di antara kebudayaan yang satu dengan lainnya ternyata mempunyai sebuah perbedaan dalam menentukan nilai-nilai hidup dan berperan serta pada adat istiadat atau tradisi yang dihormati. Adat istiadat atau tradisi yang berbeda inilah antara yang satu dengan lainnya tak dapat dikatakan tentang benar atau salahnya, karena hal ini merupakan sebuah penilaian yang selalu terikat pada kebudayaan tertentu.
Kebudayaan sangat berpengaruh besar pada kepribadian seseorang. Dan sebaliknya juga yaitu bahwa dalam pengembangan kepribadian manusia dibutuhkan kebudayaan dan  kebudayaan ini akan terus berkembang lewat kepribadian tersebut. Jadi untuk sebuah masyarakat yang maju, yang menjadi kekuatan penggeraknya ialah individu-individu yang ada di dalamnya. Maka semakin tinggi sebuah kebudayaan masyarakat akan bisa dilihat melalui karakter, kualitas dan kemampuan individunya.
Manusia dan kebudayaan merupakan dua hal yang saling berkaitan erat. Seseorang yang memiliki perilaku berdasarkan nilai-nilai budaya, terutama nilai moral dan etika maka akan disebut sebagai manusia yang berbudaya. Kemudian berkenaan pada perkembangan diri manusia juga tidak bisa terlepas oleh nilai-­nilai kebudayaan yang berlaku. Kebudayaan dan masyarakat mempunyai kekuatan yang mampu dalam pembentukan dan pengontrolan individu. Bahkan ditambah lagi manusia yang sebagaimana sebagai makhluk individu juga merupakan makhluk sosial, sehingga perkembangan dan perilaku individu cenderung dipengaruhi oleh kebudayaan. Atau dapat dikatakan juga sebagai peran untuk membentuk karakter manusia yang tepat dengan menggunakan pendekatan budaya.

7.      Jenis-Jenis Kebudayaan
Kebudayaan dapat dibagi menjadi 3 macam dilihat dari keadaan jenis-jenisnya:
  • Hidup-kebatinan manusia, yaitu sesuatu yang menimbulkan tertib damainya hidup masyarakat dengan adat-istiadatnya,pemerintahan negeri, agama atau ilmu kebatinan
  • Angan-angan manusia, yaitu sesuatu yang dapat menimbulkan keluhuran bahasa, kesusasteraan dan kesusilaan.
  • Kepandaian manusia, yaitu sesuatu yang menimbulkan macam-macam kepandaian tentang perusahaan tanah, perniagaan, kerajinan, pelayaran, hubungan lalu-lintas, kesenian yang berjenis-jenis; semuanya bersifat indah (Dewantara; 1994).
A.       Kebudayaan Berdasarkan Wujudnya
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga,yaitu:
·         Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
·         Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
·         Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:
·         Kebudayaan material
Kebudayaan material adalah kebudayaan yang mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Contoh kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
·         Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

B.  Kebudayaan secara umum dapat dibagi menjadi dua macam yaitu :
1. Kebudayaan Daerah
Kebudayaan Daerah adalah kebudayaan dalam wilayah atau daerah tertentu yang diwariskan secara turun temurun oleh generasi terdahulu pada generasi berikutnya pada ruang lingkup daerah tersebut. Budaya daerah ini muncul saat penduduk suatu daerah telah memiliki pola pikir dan kehidupan sosial yang sama sehingga itu menjadi suatu kebiasaan yang membedakan mereka dengan penduduk – penduduk yang lain. Budaya daerah mulai terlihat berkembang di Indonesia pada zaman kerajaan – kerajaan terdahulu. Hal itu dapat dilihat dari cara hidup dan interaksi sosial yang dilakukan masing-masing masyarakat kerajaan di Indonesia yang berbeda satu sama lain.
Dari pola kegiatan ekonomi kebudayaan daerah dikelompokan beberapa macam yaitu:
·         Kebudayaan Pemburu dan Peramu
Kelompok kebudayaan pemburu dan peramu ini pada masa sekarang hampir tidak ada. Kelompok ini sekarang tinggal di daerah-daerah terpencil saja.
·         Kebudayaan Peternak
Kelompok kebudayaan peternak/kebudayaan berpindah-pindah banyak dijumpai di daerah padang rumput.
·         Kebudayaan Peladang
Kelompok kebudayaan peladang ini hidup di daerah hutan rimba. Mereka menebang pohon-pohon, membakar ranting, daun-daun dan dahan yang ditebang. Setelah bersih lalu ditanami berbagai macam tanaman pangan. Setelah dua atua tiga kali ditanami, kemudian ditinggalkan untuk membuka ladang baru di daerah lain.
·         Kebudayaan Nelayan
Kelompok kebudayaan nelayan ini hidup di sepanjang pantai. Desa-desa nelayan umumnya terdapat di daerah muara sungai atau teluk. Kebudayaan nelayan ditandai kemampuan teknologi pembuatan kapal, pengetahuan cara-cara berlayar di laut, pembagian kerja nelayan laut.
·         Kebudayaan Petani Pedesaan
Kelompok kebudayaan petani pedesaan ini menduduki bagian terbesar di dunia. Masyarakat petani ini merupakan kesatuan ekonomi, sosial budaya dan administratif yang besar. Sikap hidup gotong royong mewarnai kebudayaan petani pedesaan.
2. Kebudayaan Nasional
Kebudayaan Nasional adalah gabungan dari budaya daerah yang ada di Negara tersebut. Itu dimaksudkan budaya daerah yang mengalami asimilasi dan akulturasi dengan dareah lain di suatu Negara akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan-kebiasaan dari Negara tersebut. Misalkan daerah satu dengan yang lain memang berbeda, tetapi jika dapat menyatukan perbedaan tersebut maka akan terjadi budaya nasional yang kuat yang bisa berlaku di semua daerah di Negara tersebut walaupun tidak semuanya dan juga tidak mengesampingkan budaya daerah tersebut. Contohnya Pancasila sebagai dasar negara, Bahasa Indonesia dan Lagu Kebangsaan yang dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 12 Oktober 1928 yang diikuti oleh seluruh pemuda berbagai daerah di Indonesia yang membulatkan tekad untuk menyatukan Indonesia dengan menyamakan pola pikir bahwa Indonesia memang berbeda budaya tiap daerahnya tetapi tetap dalam satu kesatuan Indonesia Raya dalam semboyan “bhineka tunggal ika”.








DAFTAR PUSTAKA

Suhada, Idad. 2014. Ilmu sosial Dasar. Bandung: Insan Mandiri.
Ramdani, Wahyu. 2007. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Pustaka Setia.
Mawardi dan Nur Hidayati. 2009. Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar.      
            Bandung: Pustaka Setia.
Isma, Nurul. Pengertian Kebudayaan. 17 Februari 2015. http://isma-ismi.com/pengertian-kebudayaan.html
https://dzumanjipunya.wordpress.com/2011/12/31/jenis-jenis-kebudayaan/

0 komentar:

Posting Komentar