Jumat, 19 Juni 2015

Makalah Konsep Pertumbuhan dan Perkembangan




MAKALAH
KONSEP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur Pada Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik
Dosen :
Dra. Yuyun Yulianingsih, M.P.d.
  





Disusun Oleh :
Hazmi Fauzi (1142080031)
Semester 2 A

PRODI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2015



    1. Pertumbuhan
                        Dalam konsep perkembangan juga berlangsung pertumbuhan. Pertumbangn (growth) sendiri sebanarnya merupakan sebuah istilah yang lazim digunakan biologi, sehingga pengertiannya lebih bersifat biologis. C.P. Chaplin (2002), mengartikan pertumbuhan sebagai: suatu pertambahan atau kenaikan dalam ukuran dari bagian-bagian tubuh atau dari organisme  sebagai suatu keseluruhan. Menurut A.E. Sinolungan (1997), pertumabuhan menunjuk pada perubahan kuantitatif, yaitu yang dapat dihitung atau diukur, seperti panjang atau berat tubuh. Sedangkan Ahmad Thontowi (1993), mengartikan pertumbuhan sebagai perubahan jasad yang meningkat dalam ukuran (size) sebagai akibat dari adnya perbanyakan (multiplication) sel-sel.
                        Dari beberapa pengertian di atas dapat dipahami bahwa istilah pertumbuhan dalam konteks perkembangan merujuk perubahan-perubahan yang bersifat kuantitatif, yaitu peningkatan dalam ukuran dan struktur, seperti pertumbuhan badan, pertumbuhan kaki, kepala, jantung, paru-paru dan sebagainya. Dengan demikian, tidak tepat jika kita misalnya mengatakan pertumbuhan ingatan, pertumbuhan berfikir, pertumbuhan kecerdasan, dan sebagainya, sebab kesemuanya merupakan perubahan fungsi-fungsi rohaniah. Demikian juga tidak tepat, kalau dikatakan pertumbuhan kemampuan berjalan, pertumbuhan menulis, pertumbuhan pengindraan, dan sebagainya, sebab kesemuanya merupak perkembangan fungsi-fungsi jasmaniah.
                        Pertumbuhan fisik bersifat meningkat, menetap, dan kemudian mengalami kemunduran sejalan dengan bertambahnya usia. Ini berarti bahwa pertumbuhan fisik ada puncaknya. Sesudah suatu masa tertentu, fisik mulai mengalami kemunduran dan berakhir pada keruntuhan dihari tua, diaman kekuatan dan kesehatan berkurang, pancaindra menjadi lemah atau lumpuh sama sekali. Beberapa halnya dengan perkembangan aspek mental atau psikis yang relative berkelanjutan, sepanjang individu yang bersangkutan tetap memliharanya.
                        Dengan demikian, istilah “pertumbuhan” lebih cenderung menunjuk pada kemajuan fisik atau pertumbuhan tubuh yang melaju sampai pada suatu titii optimum dan kemudian menurun menuju pada keruntuhannya. Sedangkan istilah “perkembangan” lebih menuju pada kemajuan mental atau perkembangan rohani yang melaju terus sampai akhir hayat. Perkembangan rohani tidak terhambat walaupun keadaan jasmani sudah sampai puncak pertumbuhannya. Meskipun terdapat perbedaan penekanan dari kedua istilah tersebut, tetapi dalam literatuur psikologi perkembangan istilah “pertumbuhan” digunakan dalam pengertian yang sama dengan perkembangan. Bahkan menurut Witherington (1986), “pertumbuhan dalam pengertiannya yang luas meliputi perkembangan.” 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan dan Pertumbuhan
A.   Hereditas ( Keturunan/Pembawaan)
Hereditas merupakan faktor pertama yang mempengaruhi perkembangan individu. Dalam hal ini hereditas diartikan sebagai “totalitas karakteristik individu yang diwariskan orangtua kepada anak, atau juga segala potensi, baik fisik maupun psikis yang dimiliki individu sejak masa konsepsi (pembuahan ovum oleh sperma) sebagai pewarisan dari pihak orangtua melalui gen-gen”.
Setiap individu memulai kehidupannya sebagai organisme yang bersel tunggal yang bentuknya sangat kecil, garis tengahnya kurang lebih dari 1/200 inci (1/80). Sel ini merupakan perpaduan antara sel telur (ovum) yang berasal dari ibu dengan sperma (spermatozoid) yang berasal dari ayah. Di dalam rahim, sel benih ini (yang telah dibuahi) terus bertambah besar dengan jalan pembelahan sel menjadi organisme yang bersel dua, empat, delapan, dan seterusnya sehingga setelah kurang lebih sembilan bulan menjadi organisme yang sempurna.
1.    Proses Pembuahan Biasa (Normal)
Mengenai jenis kelamin dari hasil pembuahan, sangat bergantung pada perpaduan antara kromosom. Pada pria ada pasangan kromosom “xy” sedangkan pada wanita hanya memiliki pasangan “xx”. Apabila dalam pembuahan terjadi pasangan xy (x dari wanita dan y dari laki-laki) maka anak yang akan lahir laki-laki, sedangkan apabila xx maka yang lahir wanita.
2.    Proses Pembuahan Kembar
Proses pembuahan kembar terdiri dari kembar identik dan kembar bersaudara. Adapun yang diturunkan orangtua pada anaknya adalah sifat strukturnya bukan tingkah laku yang diperoleh sebagai hasil belajar atau pengalaman.  Penuruna sifat-sifat ini mengikuti prinsip-prinsip berikut.
a.       Reproduksi, berarti penuruna sifat-sifatnya hanya berlangsung melalui sel benih.
b.      Konformitas (keseragaman), proses penurunan sifat akan mengikuti pola jenis (species) generasi sebelumnya, misalnya manusia akan menurunkan sifat-sifat manusia kepada anaknya.
c.       Variasi, karena jumlah gen-gen dalam setiap kromosom sangat banyak, maka kombinasi gen-gen pada setiap pembuahan akan mempunyai kemungkinan yang banyak pula. Dengan demikian, untuk setiap proses penurunan sifat akan terjadi terjadi penurunan yang beraneka (bervariasi). Antara kakak dan adik mungkin akan berlainan sifatnya.
d.      Regresi Fillial, yaitu penurunan sifat cenderung ke arah rata-rata.
B.   Lingkungan
Urie Bronfrenbrenner & Ann Crouter (Sigelman & Shaffer. 1995 : 86) mengemukakan bahwa lingkungan perkembanagan merupakan berbagai peristiwa, situasi atau kondisi di luar organisme yang diduga mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perkembangan individu. Lingkungan ini terdiri atas: (1) Fisik, yaitu meliputi segala sesuatu dari molekul yang ada disekitar janin sebelum lahir sampai kepada rancangan arsitektur suatu rumah, dan (2) Sosial, yaitu meliputi seluruh manusia yang secara potensial mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perkembangan individu.
Lingkungan perkembangan siswa adalah keselurahan fenomena (peristiwa, situasi, atau kondisi) fisik atau sosial yang mempengaruhi atau dipengaruhi perkembangan siswa. Lingkungan perkembangan siswa yang akan dibahas yaitu menyangkut lingkungan keluarga, sekolah, kelompok sebaya (peer group), dan masyarakat.

1)      Lingkungan Keluarga
Menurut Sudardja Adiwikarta berpendapat bahwa keluarga merupakan unit sosial terkecil yang bersifat universal, artinya terdapat pada setiap masyarakat di dunia (universe) atau suatu sistem sosial yang terpancang (terbentuk) dalam sistem sosial yang lebih besar.
Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Perawatan orangtua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nialai-niali kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat.
Mengkaji lebih jauh tentang fungsi keluarga ini dapat dikemukakan bahwa secara psikososiologis keluarga berfungsi sebagai (1) Pemberi rasa aman bagi anak dan anggota keluarga lainnya, (2) Sumber pemenuhan kebutuhan, baik fisik maupun psikis, (3) sumber kasih sayang dan penerimaan, (4) Model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat yang baik, (5) Pemberi bimbingan bagi pengembangan perilaku yang secara sosial dianggap tepat, (6) Pembentuk anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam rangka menyesuaikan dirinya terhadapa kehidupan, (7) Pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan motorik, verbal dan sosial yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri, (8) Stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi, baik disekolah maupun di masyarakat, (9) Pembimbing dalam mengembangkan aspirasi, dan (10) Sumber persahabatan/teman bermain bagi anak sampai cukup usia untuk mendapatkan teman dari luar rumah, atau apabila persahabatan di luar rumah tidak memungkinkan.
2)       Lingkungan Sekolah
Mengenai peranan sekolah dalam mengembangkan keribadian anak, Hurlock (1986: 322) mengemukakan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak (siswa) baik dalam cara berpikir, bersikap ataupun cara berprilaku. Ada beberapa alasan mengapa sekolah memainkan peranan yiang berarti bag

2. Hakikat Perkembangan
                    Istilsh “perkembangan “ (development) dalam psikologi merupakan sebuah konsep yang cukup kompleks. Di dalamnya terkandung banyak dimensi. Oleh sebab itu, untuk dapat memahami konsep dasar perkembangan, perlu dipahami beberapan konsep lain yang terkandung di dalamnya, diantaranya: pertumbuhan, kematangan, dan perubahan.


1.     Perkembangan
                    Secara sederhana, Seifert & Hoffnung (1994) mendefinisikan perkembangan sebagai “long-term changes in person’s growth, feelings, patterns of thinking, social relationship, and motor skills”. Sementara itu, Chaplin (2002) mengartikan perkembangan sebagai: (1) perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme, dari lahir sampai mati, (2) pertumbuhan, (3) perubahan dalam bentuk dan dalam integrasi dari bagian-bagian jasmaniah ke dalam bagian-bagian fungsional, (4) kedewasaan atau kemunculan pola-pola asasi dari tingkah laku yang tidak dipelajari.
                        Menurut reni Akbar Hawadi (2001), “perkembangan secara lluas menunjukan pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang baru. Di dalam istilah perkembangan juga tercakup usia, yang diawali dari perubahan dan berakhir dengan kematian.”
                        Menurut F.J Monks, dkk, (2001), pengertian perkembangan menunjuk pada “suatu proses kea rah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat di ulang kembali. Perkembabngan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali”. Perkembangan juga dapat diartikan sebagai “proses yang kekal dan tetap yang menuju kea rah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan pertumbuhan, pemasakan, dan belajar.”
                        Santronck (1996), menjelaskan pengertian perkembangan sebagai berikut:
                        Development is the pattern of change that begins at conception and continues through the life span. Most development involves growth, althrough includes  decay (as in the death and dying). The pattern of of movement is complex because it is product of several processes-bilogical, cognitive, socioemotional.”
                        Kesimpulan umum yang dapat ditarik dari beberapa definisi diatas adalah bahwa berkebangan tidaklah terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar, melainkan di dalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah  yang dimiliki individu menuju ketahap pematangan melalui pertumbuhan, pemasakan, dan belajar.
                        Perkembangan menghasilkan bentuk-bentuk dan ciri-ciri kemampuan baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ketahap yang lebih tinggi. Perkembangan itu bergerak secara berangsur-angsur tetapi pasti, memalui suatu bentuk/tahap ke bentuk/tahp berikutnya, yang kian hari kian bertambah maju, mulai dari masa pembuahan dan berakhir dengan kematian.
                        Ini menunujukan bahwa sejak masa konsepsi sampai meninggal dunia, individu tidak pernah statis, malainkkan senantiasa mengalami perubahn-perubahan yang bersifat progresif dan berkesinambungan. Selama masa kanak-kanak sampai menginjak remaja misalnya, ia mengalami perkembangan dalam struktur fisik dan mental, jasmani dan rohania sebagai ciri-ciri memasuki jenjang kedewasaa. Demikian seterusnya, perubahan-perubahan diri individu itu terus berlangsung tanpa henti meskipun kemudian laju perkembangan semakin hari semakin pelan, setelah ia mencapai titik puncaknya. Ini berarti bahwa dalam konsep perkembangan juga tercakup makna pembusukan (decay) – seperti kematian.
                        Perkembangan dapat diartikan sebagai “perubahan yang progresif dan kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati” (The progresisive and continuous change in the organism from birth to death). Pengertian lain dari perkembangan adalah “perubahan=perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematanngannya (maturation) yang berlangsung secara sistematis progresif dan berkesinambungan, baik yang menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah).”
            Yang dimaksdu sistematis, progesif dan berkesinambungan itu adalah sebagai berikut.
1.      Sistematis, berarti perubahan dalam perkembangan itu bersifat itu saling kebergantunngan atau saling mempengaruhi antara bagian-bagian organisme (fisik dan psikis) dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Contoh prinsip ini, seperti kemampuan berjalan anak seiring dengan matangnya otot-otot kaki, dan keinginan remaja untuk memperhatian jenis kelamin lain seiring dengan matangnya organ-organ seksualnya.
2.      Progresif, berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat, dan mendalam (meluas) baik secara kuantitatif (fisik) maupun  kualitatif (psikis). Contohnya, seperti terjadinya perubahan proporsi dan ukuran fisik anak (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar); dan perubahan pengetahuan dan kemampuan anak dari yang sederhana sampai kepada yang kompleks (mulai  dari mengenal abjad atau huruf hijaiyah sampai kemampuan membaca buku, majalah, Koran, dan Alquran).
3.      Berkesinambungan, berarti perubahan pada bagian atau fungsi  organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan, tidak terjadi secara kebtulan atau loncat-loncat. Contohnya, untuk dapat berdiri seorang anak harus mengusai tahapan perkembangan sebelumnya, yaitu kemampuan duduk dan merangkak.


REFERENSI:
-          Desmita.2012.PSIKOLOGI PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK. Bandung: PT Remaja Rosakarya
-          Yusuf LN, Syamsu. 2002. PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK DAN REMAJA. Bandung: PT Remaja Rosakarya


0 komentar:

Posting Komentar