Jumat, 19 Juni 2015

Makalah Konsep IBD dalam Agama



MAKALAH
KONSEP IBD DALAM AGAMA
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur Pada Mata Kuliah Ilmu Sosial Dasar
Dosen :
Drs. Idad Suhada, M.Pd
Buhori Muslim, M.Pd




Disusun Oleh :
Kelompok 6
Anggota :
Andri Andriansyah (1142080007)
Hazmi Fauzi ( 1142080031)

KELAS A/ SEMESTER 2
PRODI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2015



1. Pengertian Ilmu Budaya Dasar

Secara sederhana IBD adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang diekembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Istilah IBD dikembangkan petama kali di Indonesia sebagai pengganti istilah basic humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa Inggris “the Humanities”. Adapun istilah humanities itu sendiri berasal dari bahasa latin humnus yang astinya manusia, berbudaya dan halus. Dengan mempelajari th humanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Dengan mempelajari the humanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa the humanities berkaitan dengan nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya. Agar manusia menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu yaitu the humanities disamping tidak meninggalkan tanggungjawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri.
Untuk mengetahui bahwa ilmu budaya dasar termasuk kelompok pengetahuan budaya lebih dahulu perlu diketahui pengelompokan ilmu pengetahuan. Prof Dr.Harsya Bactiar mengemukakan bahwa ilmu dan pengetahuan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar yaitu :

a. Ilmu-ilmu Alamiah ( natural scince ). Ilmu-ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah. Caranya ialah dengan menentukan hukum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk menentukan suatu kualitas. Hasil analisis ini kemudian digeneralisasikan. Atas dasar ini lalu dibuat prediksi. Hasil penelitian 100 5 benar dan 100 5 salah.
b. Ilmu-ilmu sosial ( social scince ) . ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antara manusia. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah. Tapi hasil penelitiannya tidak 100 5 benar, hanya mendekati kebenaran. Sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antara manusia initidak dapat berubah dari saat ke saat.
c. Pengetahuan budaya ( the humanities ) bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan kenyataankenyataanyang bersifat unik, kemudian diberi arti. Pengetahuan budaya (the humanities) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup keahlian (disilpin) seni dan filsafat. Keahlian inipun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai hiding keahlian lain, seperti seni tari, seni rupa, seni musik,dll. Sedangkan ilmu budaya dasar (Basic Humanities) adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan perkataan lain IBD menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran serta kepekaan mahasiswa dalam mengkaji masalah masalah manusia dan kebudayaan.

Ilmu budaya dasar berbeda dengan pengetahuan budaya. Ilmu budaya dasar dalam bahasa Inggris disebut basic humanities. Pengetahuan budaya dalam bahas inggris disebut dengan istilah the humanities. Pengetahuan budaya mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai mahluk berbudaya (homo humanus). Sedangkan ilmu budaya dasar bukan ilmu tentang budaya, melainkan mengenai pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan budaya.

2. Tujuan Ilmu Budaya Dasar

Penyajian mata kuliah ilmu budaya dasar tidak lain merupakan usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan demikian mata kuliah ini tidak dimaksudkan untuk mendidik ahli-ahli dalam salah satu bidang keahlian yang termasuk didalam pengetahuan budaya (the humanities) akan tetapi IBD semata-mata sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nlai budaya, baik yang menyangkut orang lain dan alam sekitarnya, maupun yang menyangkut dirinya sendiri. Untuk bisa menjangkau tujuan tersebut IBD diharapkan dapat:

      1. Mengusahakan kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka. Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas pandangan mereka tentang masalah kemansiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.
      2. Mengusahakan agar mahasiswa, sebagai calon pemimpin bagnsa dan Negara serta ahli dalam bidang disiplin masing-masing tidak jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengkotakan disiplin yang ketat. Mengusahakan wahana komunikasi para akademisi agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain. Denganmemiliki satu bekal yang sama, para akademisi diharapkan akan lebih lancar dalam berkomunikasi.

3. Ruang Lingkup Ilmu Budaya Dasar

Bertitik tolak dari kerangka tujuan yang telah ditetapkan, dua masalah pokok bisa dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup kajian mata kuliah IBD. Kedua masalah pokok itu adalah :
Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (the humanities), baik dari segi masing-masing keahlian (disiplin) didalam pengetahuan budaya, maupun secara gabungan (antar bidang) berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya. Hakekat manusia yang satu atau universal, akan tetapi yang beraneka ragam perwujudannya dalam kebudayaan masing-masing jaman dan tempat.
Menunjuk kedua pokok masalah yang bisa dikaji dalam mata kuliah IBD, nampak dengan jelas bahwa manusia menempati posisi sentral dalam pengkajian. Manusia tidak hanya sebagai obyek pengkajian. Bagaimana hubungan manusia dengan alam, dengan sesame, dirinya sendiri, nilai-nilai manusia dan bagaimana pula hubungan dengan sang pencipta menjadi tema sentral dalam IBD. Pokok-pokok bahasan yang dikembangkan adalah :
1. Manusia dan cinta kasih
2. Manusia dan Keindahan
3. Manusia dan Penderitaan
4. Manusia dan Keadilan
5. Manusia dan Pandangan hidup
6. Manusia dan tanggungjawab serta pengabdian
7. Manusia dan kegelisahan
8. Manusia dan harapan
Mahasiswa dapat memahami dan menghayati berbagai kenyataan yang diwujudkan oleh kebudayaan dan dapat mengkaji semua hubungan antara manusia dan kebudayaan, mengetahui hakekat manusia,mengerti tentang semua unsur-unsur kebudayaan Mahasiswa dapat menjelaskan tentang unsur-unsur yang membangun manusia.
Tujuan Instruksional Khusus :
• Mahasiswa dapat menjelaskan hakekkat manusia
• Mahasiswa dapat menjelaskan tentang kepribadian bangsa timur
• Mahasiswa dapat menunjukan bagan psiko-sosiogram manusia
• Mahasiswa dapat mendefinisikan kebudayaan
• Mahasiswa dapat menyebutkan 7 unsur kebudayaan universal
• Mahasiswa dapat menyebutkan 3 wujud kebudayaan menurut dimensi wujudnyaManusia
Dipandang dari segi ilmu eksakta, manusia adalah kumpulan dari partikel-partikel atom yang membentuk jaringan system yang dimiliki oleh manusia (ilmu kimia). Manusia merupakan kumpulan dari berbagai sistem fisik yang saling terkait satu sama lain dan merupakan kumpulan dari energi (ilmu fisika). Manusia merupakan mahluk biologis yang tergolong dalam golongan mahluk mamalia (biologi). Dalam ilmu-ilmu sosial, manusia merupakan mahluk yang ingin memperoleh keuntungan atu selalu memperhitungkan setiap kegiatan, sering disebut homo economicus (ilmu ekonomi). Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri (sosiologi), mahluk yang selalu ingin mempunyai kekuasaan ( politik ). Dan lain sebagainya.

1. Manusia itu terdiri dari empat unsur yang saling terkait, yaitu :
• Jasad; yaitu badan kasar manusia yang nampak pada luarnya, dapat diraba, dan difoto, dan menempati ruang dan waktu.
• Hayat; yaitu mengandung unsure hidup, yang ditandai dengan gerak
• Ruh; yaitu bimbingan dan pimpinan Tuhan, daya yang bekerja secara spiritual dan memahami kebenaran, suatu kemampuan mencipta yang bersift konseptual yang menjadi pusat lahirnya kebudayaan.
• Nafas; dalam pengertian diri atau keakuan, yaitu kesadaran tentan diri sendiri
2. Manusia sebagai satu kepribadian yang mengandung 3 unsur yaitu :
• Id. Yang merupakan struktur kepribadian yang paling primitive dan paling tidak nampak. Id merupakan libido murni, atau energi psikis yang menunjukkan cirri alami yang irrasional dan terkait masalah sex, yang secara instingtual menentukan proses-proses ketidaksadaran. Id tidak berhubungan dengan lingkungan luar diri, tetapi terkait dengan struktur lain kepribadian yang pada gilirannya menjadi mediator antara insting Id dengan dunia luar.
• Ego. Merupakan bagian atau struktur kepribadian yang pertama kali dibedakan dari Id, seringkali disebut sebagai kepribadian “eksekutif” karena peranannya dalam menghubungkan energi Id ke dalam saluran sosial yang dapat dimengerti oleh orang lain.
• Superego. Merupakan struktur kepribadian yang paling akhir, muncul kira-kira pada usia limat tahun. Dibandingkan dengan Id dan ego, yang berkembang secara internal dalam diri individu, superego terbentuk dari lingkungan eksternal. Jadi superego menunjukkan pola aturan yang dalam derajat tertentu menghasilkan control diri melalui sistem imbalan dan hukuman yang terinternalisasi.
Dari uraian diatas dapat mengkaji aspek tindakan manusia dengan analisa hubungan antara tindakan dan unsure-unsur manusia. Seringkali misalnya orang senang terhadap penyimpangan terhadap nilai-nilai masyarakat dapat diidentifikasi bahwa orang tersebut lebih dikendalikan oleh Id dibandingkan super-egonya. Atau seringkali ada kelainan yang terjadi pada manusia, misalnya orang yang berparas buruk dan bertubuh pendek berani tampil ke muka umum, dapat diterangkan dengan mengacu pada unsur nafsu (kesadaran diri ) yang dimilikinya. Kesemuanya tersebut dapat digunakan sebagai alat analisa bagi tingkah laku manusia.
Hakekat Manusia :
1. Mahluk ciptaan Tuhan yagn terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
2. Mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, jika dibandingkan denan mahluk lainnya.
3. Mahluk biokultural yaitu mahluk hayati yagn budayawi.
4. Mahluk Ciptaan Tuhan yagn terkait dengan lingkungan, mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya.

4. Pengertian Agama Dalam IBD
Agama merupakan suatu keyakinan yang berkaitan dengan Tuhan. Atau dalam bahasa lain, agama merupakan jelmaan dari sebuah keyakinan dasar tentang realitas keberadaan manusia itu sendiri.[1][1] Agama sendiri bertujuan untuk mencapai kedamaian rohani dan kesejahteraan jasmani. Jadi secara umum maksud dari keber-agama-an sangatlah baik. Karena di samping fungsinya yang untuk pencerahan kepada Tuhan yang bersifat horizontal, masing-masing agama juga mengajarkan kebaikan sesama dengna konsepnya masing-masing.
Menurut Qurasy Shihab dalam karyanya “Wawasan al-Qur’an”, tidaklah mudah mendefinisikan agama, karena pandangan   tentangnya ditentukan pula oleh pemahaman atas agama tersebut.  Agama merupakan fitrah yang ada pada diri manusia. hal ini sejalan dengan ayat al-Qur’an yang artinya : Fitrah Allah yang menciptakan manusia atas fitrah itu (QS Ad-Rum [30]: 30).
Beliau menilai bahwa agama merupakan kebutuhan yang bersifat rohaniyah, jadi manusia tidak akan mampu melepaskan diri dari agama.[2][2] Meskipun terjadi penangguhan pemenuhan ber-agama namun pada akhirnya, menjelang ajalnya manusia akan membutuhkan agama ini. Orang yang selalu percaya pada Tuhan Yang Maha Esa akan merasa dilindungi dan tidak perlu takut menghadapi situasi apapun. Mereka yakin bahwa tidak ada upaya dan pertolongan selain dari Tuhan sehingga merasa aman, tentram dan damai hatinya. Kebutuhan akan rasa aman inilah yang menyebabkan agama mempunyai peran dan posisi yang sangat penting dalam upayanya mempengaruhi manusia.
Proses keyakinan beragama mempunyai konsep yang berubah-ubah sesuai dengan pola pikir dan perkembangan zaman. Kalau dahulu orang bisa meyakini Tuhan mereka adalah bintang, bulan matahari dan sebagainya, maka kemdian muncullah Nabi-Nabi yang membawa wahyu sebagai bagian dari risalah Tuhan. Risalah tersebut berupa seruan-seruan untuk berimbadah serta mengimani Tuhan Yang Esa. Dengan begitu manusia tidak perlu takut lagi menghadapi kehidupan setelah kematian. Manusia juga harus membawa persiapan yakni Iman, Amal, dan Ibadah.[3][3]
Agama merupakan komponen terpenting yang menentukan arah gerak manusia. Agama tidak hanya meliputi tuntunan dalam spiritualitas namun juga meliputi seluruh seluk-beluk persoalan manusia. Masing-masing agama mempunyai pedoman dan tuntunan dasar atas berbagai aspek kehidupan manusia. "Selama manusia masih memiliki naluri cemas dan mengharap, selama itu pula ia beragama (berhubungan dengan Tuhan)." Itulah sebabnya mengapa perasaan takut merupakan salah satu dorongan yang terbesar untuk beragama.
Selain itu, kesadaran akan kelemahan diri juga mendorng manusia untuk mencari kekuatan diluar dirinya. Dengan begitu manusia berharap dapat selalu terlindungi dari ancaman-ancaman, baik yang bersifat fisik seperti penyakit maupun non-fisik seperti kegelisahan, ketakutan, dan lain sebagainya. Akhirnya “suatu kekuatan” yang berasal dari bukan dirinya adalah tentang Tuhan dan Agama.[4][4]
Jadi, bagaimanapun hebatnya seorang manusia, ia tetap memiliki kelemahan, ketakutan, kegelisahan yang membuat manusia secara instinktif akan mencari sesuatu tempat ia bersandar, berpedoman dasar tentang kehidupan dan harapan dari segala kepelikan permasalahan hidup. Hal tersebut terdapat dalam konsep-konsep keber-agama-an. Jelaslah disini bahwa manusia memerlukan agama , karena agamalah yang menunjukkan mana yang baik dan mana yang buruk. Antara agama dan Tuhanpun tidak dapat dipisahkan. Masing-masing yakni Tuhan-agama-manusia mempunyai keterkaitan erat dalam upaya manusia menuju hal terbaik yang mampu ia lakukan.

5. Fungsi Agama dalam Ilmu Budaya Dasar
Agama memegang peranan penting dalam mempengaruhi norma, perilaku, dan sikap hidup individu maupun masyarakat. Nilai-nilai keagamaan sekarang mengalami universalisme sehingga memperluas partisipasi dalam masyarakat kepada semua anggotanya. Agama diyakini menjalankan beberapa fungsi dalam masyarakat, seperti fungsi edukatif, fungsi penyelamatan, fungsi memupuk persaudaraan, fungsi pengawasan sosial, serta fumgsi transformatif. Berikut ini akan dibahas masing-masing fungsi tersebut:
1. Fungsi edukatif
Fungsi edukatif merupakan salah satu tujuan utama agama. Dalam pengajarannya agama selalu mendorong agar setiap individu selalu patuh dan taat serta mempraktekan ajaran dan perintah sesuai dengan agamanya. Melalui kehidupan rohani agamanya, seseorang diajarkan agar dapat tumbuh dewasa dan mengembangkan kepribadian yang baik sejalan dengan aturan dan nilai-nilai keagamaan. Dalam proses mengedukatif, unsur-unsur keagamaan telah mencakup kedalam bidang politik. Beberapa landasan dan dasar pemikiran politis berpegang kepada agama, sehingga menyebabkan timbulnya perpaduan nilai keagamaan dan politik. Atas peran edukatif ini, agama semakin semaki dipandang sebagai suatu keharusan dalam tindakannnya untuk memberikan konstribusi kepada masyarakat dalam bentuk pengajaran dan bimbingan.
2. Fungsi penyelamatan
Agama yang merupakan pegangan dan pedoman hidup manusia diyakini merupakan jaminan yang paling utama dalam memperoleh keselamatan. Melalui ajaran agama diajarkan dan disebutkan cara dan aturan yang harus dipatuhi, ditaati, dan dijalankan agar dapat memperoleh keselamatan. Fungsi penyelamatan juga mencakup kehidupan manusia setelah berakhir d dunia dan harus memasuki duni akhirat. Agama mengajarkan kepada umatnya agar selalu berbuat baik sesuai dengan perintah dan nilai-nilai agama sehingga perbuatan baik tersebut akan membawanya ke “tempat bahagia”.
3. Fungsi memupuk persaudaraan
Agama bersifat universal dan penganutnya terdapat dimana-mana dibelahan dunia manapun dan penganutnya berasal dari latar belakang sosial yang berbeda, suku, ras, warna kulit, gender, derajat sosial, pekerjaan, dan kasta yang berbeda-beda. Hal ini tercantum dalam al Qur’an, surat Hujuratayat 13 yang artinya: ”Hai manusia, sesungguhnya kami jadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulya disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”. Agama dapat dikatakan berfungsi memupuk rasa persaudaraan diantara sesama manusia dalam menjalani hubungan erat.
Menurut Glock dan Stark (Robertson, 1998), ada lima macam dimensi keberagamaan, yaitu:
1. Dimensi keyakinan.
Dimensi ini berisi penharapan dimana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrin tertentu.
2. Dimensi praktik agama.
Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang dilakukan untuk menunjukan komitmen terhadap agama yang dianutnya.
3. Dimensi penghayatan.
Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pengharapan tertentu, meski tidak tepat jika dikatakan bahwa seseorang ang beragama dengan baik pada sewaktu-waktu akan mencapai pengetahuan subyektif dan langsung mengenai.
4. Dimensi pengetahuan agama.
Dimensi in mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama harus memiliki minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, kitab suci, dan tradisi-tradisi.
5. Dimensi pengalaman.
Dimensi mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakian keagamaan, praktik, pengalaman, dan pengetahuan seseorang dari hari-kehari.


Referensi :
Widoyo Nugroho, Ilmu Budaya Dasar; Gunadarma, Jakarta. 1996.
Mustopo, M. Habib, Ilmu Budaya Dasar, Surabaya; Usaha Nasional          
            Shihab, Quraish Wawasan al-Qur’an, Bandung: Penerbit Mizan, 1996

Naqya, Lutfya. Konsep Ilmu Budaya Dasar Dalam Agama. 14 April 2015. http://lutfyanaqya.blogspot.com/2013/07/konsep-ilmu-budaya-dasar-dalam-agama-by.html
Jihadi, Hilman. Makalah Ilmu Budaya Dasar. 14 April 2015. http://hart94isd.blogspot.com/2012/03/makalah-ilmu-budaya-dasar.html




0 komentar:

Posting Komentar