Jumat, 19 Juni 2015

Makalah Kelemahan Manusia



KELEMAHAN MANUSIA
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur
Pada Mata Kuliah Ilmu Tafsir
Dosen :
Dr. Moh. Sulhan, M.Ag.

  

Disusun Oleh :
Andri Andriansyah/1142080007
Hazmi Fauzi/1142080031
Ami Ratnapuri/1142080006
Erna Dwi Susanti/1142080025

Kelas A/Semester 1
Pendidikan Kimia

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2014-2015



KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadiratAllah SWT yang telah menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk dan hikmah bagi manusia, pedoman bagi umat muslim dan juga atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, qudrah dan iradah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda alam, Rasulullah SAW beserta para keluarganya, sahabatnya dan kita selaku umatnya yang setia hingga akhir zaman.
Makalah ini kami buat dalam rangka memenuhi salah satu tugas terstruktur pada mata kuliah ilmu tafsir oleh Bapak Dr. Moh. Sulhan, M.Ag. Adapun makalah tafsir yang kami sajikan ini berjudul “kelemahan manusia” yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Quran. Penjelasan mengenai judul tersebut kami sajikan melalui beberapa tafsir, diantaranya tafsir Attarbawi, Atthabari, Al-Misbah dan Shafwatut Tafasir.
Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah yang senantiasa memberikan bimbingan dan motivasinya  dalam kelancaran penyusunan makalah ini. Juga  kepada seluruh anggota yang telah bekerja keras sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Melalui makalah ini, semoga pembaca dapat menambah wawasan yang lebih luas mengenai Al-Quran dan juga memperoleh manfaat baik tersurat maupun tersirat dalam makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan. Untuk itu kami mengharapkan masukan dan perbaikan dari dosen yang bersangkutan serta kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk lebih baiknya makalah ini. Demikianlah dan jika terdapat banyak kesalahan dalam makalah ini, kami selaku penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya.



 



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Al-Quran adalah ayat Allah yang agung, hujjah-Nya yang abadi. Al-Quran telah dan akan terus mewakili Rasulullah sejak wafatnya. Ia merupakan mukjizat terbesar yang dimiliki Rasulullah SAW  yang keotentikanya terjaga hingga akhir zaman. Didalamnya terdapat berbagai macam hal yang menyangkut kehidupan manusia di bumi ini. Diantaranya menyangkut tauhid (ketuhanan), ibadah, muamalah (interaksi), Hukum, sejarah, hikmah, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Namun seiring dengan bergeraknya zaman, umat muslim sudah mulai melupakan bahkan menjauh dari Al-Quran. Hal itu dapat kita lihat dari sisi bergesernya moral pemuda-pemuda kita yang telah terbuai dengan peradaban barat. Westernisasi semakin meluas di zaman global yang hampir tak ada batasnya ini. Paham sekularisme dan hedonisme seakan menjalar ke setiap seluk beluk umat manusia. Tak jarang banyak diantara mereka yang telah mendewakan akal mereka dalam memandang setiap gejala-gejala di alam ini.Padahal jika kita merenung sejenak, betapa rendahnya diri kita ini. Betapa lemahnya kita ini sebagai manusia.
Manusia memang diciptakan Allah sebagai makhluk yang terbaik dari segi penciptaanya. Manusia dianugerahi akal dan nafsu yang karenanya bisa membawanya pada kebahagiaan termasuk juga pada kesengsaraan, baik didunia terutama di akhirat. Namun dalam kesempurnaanya tersebut terselip juga celah kelemahan dan kekurangan manusia yang harus dipelajari, diketahui dan diantisipasi. Tidak mampu mengenali kelemahan diri akan berakibat fatal yaitu akan menghantarkan pada konsekwensi kedua diatas, yaitu kesengsaraan. Berbicari mengenai kelemahan manusia, hal ini sudah termaktub 14 abad yang lalu dalam kitab suci Al-Quran dimana kelemahan-kelemahan manusia yang di jelaskan oleh Allah lebih kepada sifat, sikap atau perilaku manusia itu sendiri.
Namun untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendetail dalam menggali isi dari Al-Quran, kita dapat menggunakan Ilmu tafsir yang dapat lebih menspesifikkan dari setiap kandungan yang kita tuju, karena pada dasarnya redaksi Al-Quran masih bersifat mujmal (universal) sehingga kita memerlukan ilmu tafsir untuk mendapatkan kejelasan yang lebih rinci. Dengan adanya pembahasan dalam makalah ini, kita sebagai generasi muda islam hendaknya lebih mengenal, memahami dan mempelajari Ilmu Tafsir karena dengan mempelajari ilmu tafsir ini, kita akan lebih mengetahui siapa diri kita dan bagaimana kita seharusnya, agar tidak tersesat dalam menjalani kehidupan ini.


B.  Rumusan Masalah
2.  Apa saja  Sifat manusia menurut Al-Qur’an ?
3. Apa hikmah yang dapat kita ambil dari kelemahan manusia sebagai makhluk Allah?

C. Tujuan
2.  Untuk mengetahui sifat manusia menurut Al-Qur’an.
3.  Untuk mengetahui hikmah dari kelemahan manusia sebagai makhluk Allah.




BAB II
ISI PEMBAHASAN


A. Q.S An-nahl 78
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (78)
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.
Penjelasan Tafsir :
·         Tafsir Shafwatut Tafasir
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun”; Allah mengeluarkan kalian dari rahim ibu tanpa kalian tahu apa-apa sama sekali . “Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”; Allah menciptakan untuk kalian indera–indera yang denganya kalian mendengar, melihat, dan berpikir supaya kalian bersyukur kepada-Nya atas nikmat dan memuji-Nya.
·         Tafsir Atthabari
Dalam ayat ini terdapat ajakan untuk mengembangkan potensi edukasi yang kita miliki, dengan mengembangkan potensi-potensi yang kita miliki maka kita akan lebih bersyukur kepada Allah dengan segala kemurahan-Nya. Maksud ayat ini adalah, Allah mengajari kalian apa yang sebelumnya tidak kalian ketahui, yaitu sesudah Allah mengeluarkan dari perut ibu kalian tanpa memahami dan mengetahi sesuatu apa pun. Allah mengkaruniakan kepada kalian akal untuk memahami dan membedakan antara yang baik dan yang buruk. Allah membuka mata kalian untuk melihat apa yang tidak kalian lihat sebelumnya, dan memberi kalian telinga untuk mendengar suara- suara sehingga sebagian dari kalian memahami perbincangan kalian, serta memberi kalian mata utuk melihat berbagai sosok, sehingga kalian dapat saling mengenal dan membedakan. وَالأفْئِدَةَmaksudnya adalah hati yang kalian gunakan untuk mengenal segala sesuatu, merekamnya dan memikirkannya sehingga kalian memahaminya.
Lafadz لَعَلَّكُمْتَشْكُرُونَ  ‘’agar kamu bersyukur’’, maksudnya adalah kami berbuat demikian pada kalian, maka bersyukurlah kalian kepada Allah atas hal-hal yang dikaruniakan-Nya kepada kalian, bukan bersyukur kepada tuhan-tuhan dan tandingannya. Janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah dalam bersyukur, karena Allah tidak memiliki sekutu dalam melimpahkan nikmat-nikmatnya kepada kalian.[[1]]

B. Q.S Al-Maarij 19-27
إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21) إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22) الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23) وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24) لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25) وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26) وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ (27)
19. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
20. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,
21. dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,
22. kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat,
23. yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya,
24. dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu,
25. bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),
26. dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan,
27. dan orang-orang yang takut terhadap azab tuhanya.
Penjelasan Tafsir :
·         Tafsir Shafwatut Tafasir

            Allah menjelaskan watak manusia yaitu sangat tamak untuk mengumpulkan harta benda. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir”; manusia berwatak asli keluh kesah, tidak sabar terhadap musibah dan tidak bersyukur atas nikmat. Ulama tafsir berkata, “yakni sangat tamak dan sedikit sabar”. Yang dimaksudkan adalah manusia secara umum. Buktinya, ada pengecualian selanjutnya. Kemudian Allah menjelaskan dengan firman: “apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah”; jika dia ditimpa sesuatu yang dia benci berupa kemelaratan, sakit atau ketakutan, dia sangat mengeluh dan banyak mengeluh serta putus asa. “dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”; jika dia memperoleh kebaikan berupa kekayaan, kesehatan dan rezeki melimpah, dia sangat kikir dan bakhil. Jika ditimpa kemelaratan dia tidak sabar dan jika diberi kekayaan oleh Allah, dia tidak berinfak. Ibnu kiisan berkata, “Allah menciptakan manusia cenderung mencintai apa yang menyenangkanya dan menghindar lari dari apa yang dia benci”.
Namun Allah menyuruhnya beribadah, menginfakkan apa yang di sukai dan bersabar atas apa yang dia benci.“kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat”; Allah mengecualikan orang yang shalat dari kalangan manusia yang memiliki sifat mengeluh kikir. Ini dikarenakan, shalat mendorong mereka hanya sedikit mempedulikan urusan duniawi, sehingga mereka tidak mengeluh jika tertimpa keburukan dan tidak kikir ketika memperoleh kebaikan. “yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya”; mereka senantiasa menunaikan shalat dan tidak ada hal yang mengganggu dalam hal itu. Itu disebakan jiwa mereka jernih dari keruhnya kehidupan karena mereka mengharap anugrah Allah. “ dan orang-orang yang dalm hartanya tersedia bagian tertentu”; didalam harta mereka terdapat bagian khusus yang diwajibkan Allah, yaitu zakat.
“bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”; yakni untuk orang miskin yang meminta-minta dan orang miskin yang enggan meminta-minta, sehingga dia disangka kaya. Ini senada dengan firman Allah, “orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta”. (Al-Baqarah:273) “dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan”; mereka beriman kepada hari perhitungan dan pembalasan serta meyakini kebenaran terjadinya hari itu dengan keyakinan kuat tanpa tercampur oleh kebimbangan dan keraguan. Karena itu, mereka memeprsiapkan diri denga amal-amal shaleh.”dan orang–orang yang takut terhadap adzab Tuhanya”; mengkhawatirkan dirinya dari siksa Allah. Mereka mengharapkan pahala dan takut siksa.

·         Tafsir Attarbawi

”Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan keluh kesah”. Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna dan melengkapinya dengan sifat yang unggul. Keunggulannya dibandingkan seluruh makhluk sebagaimana ditunjukkan oleh kemampuan intelektualnya yang khas dalam berpikir dan memahami, dan kesiapannya untuk belajar dan mengembangkan budaya tidak perlu dipertanyakan lagi. Menurut Al-Dhahhak, manusia disini khusus orang kafir.[6] Dalam ayat-ayat yang menjadi materi pengecualian (mustatsna) atau yang menjadimukhashshish dari keumuman lafal al-Insan tersebut. Kelompok manusia yang pertama menjadimukhashshish adalah orang-orang yang mendirikan sholat (al-mushallin), dimana sholat merupakan pembeda pokok antara seorang Muslim dengan seorang Kafir. Jadi, jika pendapat al-Dhahhak ini diikuti, maka tafsiran ayat ini adalah “sesungguhnya orang kafir diciptakan dalam keadaan bersifat keluh kesah”. Mafhum mukholafahnya adalah, orang Islam yang mendirikan sholat tidaklah bersifat demikian.
Maksud dari  kata “Halu’a”  (Keluh Kesah) yaitu, menurut Ibnu Kisan menafsirkan ayat ini dengan ; “Allah menciptakan manusia dengan sifat selalu menyukai perkara-perkara yang menyenangkan, dan selalau tidak menyukai perkara-perkara yang tidak menyenangkan. Tidak mau memberikan sesuatu yang disenanginya dan tidak sabar atas sesuatu yang dibencinya.”
Ayat berikutnya yaitu : Al-Syarr ‘kejelekan’, ‘kesusahan’, ‘kerugian’, adalah sesuatau yang dibenci dan sangat tidak dikehendaki oleh manusia. Sedangkan Al-Khair ‘kebaikan’, ‘kesenangan’, ‘keuntungan’, merupakan sesuatu yang dikehendaki dan diinginkan oleh manusia. Namun demikian suka atau tidak suka, keduanya yang sangat bertentangan itu merupakan bagian dari realitas kehidupan manusia yang mesti dihadapi secara bijaksana. Kebaikan, kesenangan, dan keuntungan yang merupakan bagian dari anugerah Allah hendaknya diterima dengan hati penuh syukur kepada-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Sebaliknya, keburukan, kesusahan, dan kerugian, hendaknya disikapi dengan jiwa yang penuh kesabaran dan ketabahan disertai tawakal kepada-Nya.
”Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya”. Ini adalah ayat yang mentakhshishkeumuman lafal al-Insan. Artinya, bahwa orang-orang yang tetap mengerjakan sholattidak termasuk manusia yang menolak kebaikan dengan tidak mensyukurinya dan menyesali kejelekan dengan tidak sanggup bersikap sabar menghadapinya. Orang yang selalu mendirikan sholat memiliki hubungan dan ketergantungan vertikal yang sangat kuat kepada Allah SWT. dan akan selalu memposisikan kebaikan dan keburukan yang menimpanya sebagai batu ujian keimanan, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Anbiyaa ayat 35 :
”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.”

Klausa da-imun dalam ayat diatas menegaskan bahwa shalat yang akan menetralisir manusia sebagai mahluk yang berkeluh kesah adalah sholat yang dilakukan secara terus menerus. Dalam bahasa Arab, da-imun berarti mengerjakan sesuatu secara terus menerus dan tidak pernah berhenti. Jadi, shalat da-im ialah shalat yang dilaksanakan selamanya dan tanpa henti. Shalat da-im maksudnya melaksanakan dan mengaplikasikan ruh dan nilai-nilai dari ajaran ritualitas shalat kedalam gerakan hidup sehari-hari sejak bangun pagi hingga beranjak tidur.
Menurut penjelasan dari ayat diatas, bahwa orang yang setia melaksanakan shalat dan berusaha menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari adalah orang yang tidak akan berkeluh kesah menghadapi sesulit apapun kehidupan ini.Kelompok orang yang tidak akan mengalami keluh kesah, yaitu (1) orang-orang yang memberikan sebagian hak kekayaannya kepada fakir miskin, (2) orang-orang yang membenarkan akan datangnya hari pembalasan, (3) orang-orang yang merasa takut akan siksaaan Allah, (4) orang-orang yang memelihara kemaluannya selain kepada istri-istrinya, (5) orang-orang yang memelihara amanat, (6) orang-orang yang selalu memberikan kesaksian yang benar.
Dikatakan juga bahwa shalat ideal ialah shalat yang amampu membentuk akhlaq al-karimah bagi pelakunya baik secara individual maupun secara sosial. Shalat yang seperti inilah yang secara psikologis akan mampu melahirkan keseimbangan batin dan ketahanan mental dalam menghadapi situasi kehidupan sesulit apapun.
Kelemahan manusia sebagai mahluk yang suka berkaluh kesah yang digambarkan dalam ayat diatas, sebetulnya sekaligus juga menjadi kelebihannya. Sebab, melalui kelemahan tersebut manusia mampu melakukan introspeksi diri dan akan selalu berusaha menutupi kelemahannya.
Karena itu, kelemahan ini tidak harus menjadi penghalang bagi manusia dalam memproses dirinya menuju ‘kesempurnaan’ dan kematangan sebagai mahluk yang telah dipercaya memikul amanat khilafah di muka bumi. Pesan substantif dari ayat-ayat tersebut, Allah SWT. tidak bermaksud ‘mempermalukan’ manusia melalui sifat keluh kesahnya, melainkan bahwa shalat berikut indikator-indikator yag ditimbulkannya, adalah sebagai mi’raj mu’minin, sesuai nama surahnya, Al-Ma’arij. Selebihnya melalui ayat-ayat ini Allah SWT mengajarkan kepada manusia tentang sifat sportif dan berlapang dada untuk menunjukkan kelemahan dan kekurangan serta menerima masukan dan kritikan dari orang lain sebagaian dari proses perbaikan dirinya.

C. Q.S Al-‘Alaq 6-7
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآَهُ اسْتَغْنَى (7)
6. Ketauhilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
7. Karena dia melihat dirinya serba cukup.
Penjelasan Tafsir :
·         Tafsir Shafwatut Tafasir

Kemudian Allah menjelaskan penyebab kedurhakaan manusia. “ketauhilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas”. Sungguh manusia melampaui batas dalam kedurhakaan dan mengikuti hawa nafsu serta sombong kepada tuhanya. “karena dia melihat dirinya serba cukup”; karena dia memandang dirinya kaya dan banyak harta, dia sombong dan congkak. Kemudian Allah mengancamnya.
·         Tafsir Attarbawi
Dalam ayat-ayat ini Allah mengungkapkan keanehan sikap manusia pada umumnya. Manusia bila ia berkuasa dan mempunyai harta, sikapnya berubah dari yang seharusnya. Ia menjadi takabur, segan menghambakan dirinya kepada Allah dan menganggap dirinya yang paling baik. Padahal dia dan orang lain itu adalah anggota satu keluarga yang harus bantu membantu dan tolong-menolong dalam kesenangan dan kesengsaraan serta mengingini kebaikan bagi anggota keluarga lainnya sebagaimana ia mencintai kebaikan untuk dirinya.
Nabi SAW. bersabda:
المؤمنللمؤمنكالبنيانيشدبعضهبعضا
Artinya:
"Orang mukmin sesama mukmin lainnya seolah-olah suatu bangunan yang saling kokoh mengokohkan". (H.R. Bukhari) 
Telah diriwayatkan pula bahwa Sayidina Ali menasihati anaknya Hasan. Ia berkata: "Inginkanlah kebaikan bagi orang lain sebagaimana engkau menginginkannya untuk dirimu dan jangan menginginkan bagi orang lain apa yang tidak engkau inginkan untuk dirimu".
Pada umumnya manusia itu bila merasa kuat dan mempunyai kekayaan dia berbuat melampaui batas, berlainan dengan orang yang bertakwa, kekayaannya akan menjadi sumber kebaikan dengan tujuan membantu mereka untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, karena mereka akan menggunakannya menurut keridaan Allah yang kegunaannya bermanfaat untuk agama dan dunia mereka.

D. Q.S Azzumar 8 dan 48
وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِهِ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ (8)
“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada tuhanya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila tuhan memberika nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkanya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka”.
وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (48)
“Dan (jelaslah) bagi mereka akibat  buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkanya“.
 Penjelasan Tafsir :
·         Tafsir Shafwatut Tafasir

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan”; jika orang yang kafir tertimpa kesulitan, kemelaratan, sakit dan musibah, “dia memohon (pertolongan) kepada tuhanya dengan kembali kepada-Nya”; dia merendahkan diri dengan taat kepada Allah agar kesulitan itu dihilangkan.”Kemudian apabila tuhan memberika nikmat-Nya kepadanya”; lantas ketika Allah memberinya nikmat dan menghilangkan kesulitan itu, “lupalah dia akan kemudaratan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkanya) sebelum itu”; dia lupa kesulitan yang dia bermohon kepada Allah agar disinarkan dan dia durhaka kepada-Nya. “dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya”; dia menjadikan beberapa sekutu bagi Alah dalam menyembah untuk menghalangi orang lain dari agama-Nya.”katakanlah: Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu”; ini perintah bernada ancaman. Maksudnya, nikmatilah hidup duniawi yang fana ini dan bersenang-senanglah dalam keadan kafir dalam waktu yang singkat dan sebentar.”Sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka”; sebab tempat kembalimu adalah neraka jahannam dan kamu termasuk orang-orang yang kekal didalamnya.
“Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat “; pada hari kiamat yang menakutkan itu, perbuatan buruk yang mereka kerjakan dahulu didunia menjadi tampak jelas bagi mereka. “Dan mereka diliputi pembalasan yang mereka dahulu selalu meperolok-olokkanya”; dan dari segala penjuru mereka dikelilingi oleh balasan (siksa) atas sesuatu yang mereka tertawakan sewaktu didunia. Ibnu katsir berkata, “maksudnya, mereka dikelilingi siksa dan hukuman atas apa yang mereka tertawakan di dunia dulu”.
·         Tafsir Attarbawi
Sesudah itu Allah SWT menjelaskan sikap orang yang mengingkari nikmat Allah. Apabila ia ditimpa kemudaratan baik berupa penyakit ataupun penderitaan yang menimpa kehidupannya, ia memohon pertolongan kepada Allah, agar penyakitnya atau penderitaannya dilenyapkan daripadanya. Iapun menyatakan diri bertobat, meminta ampun atas perbuatan buruknya di masa yang telah lalu. Akan tetapi apabila ia mendapatkan nikmat di mana penyakit dan penderitaannya telah hilang lenyap, lupalah ia akan perkataan yang ia ikrarkan pada saat dia berdoa. Kemudian mereka mengada-adakan tuhan-tuhan yang lain sebagai sekutu bagi Allah. Mereka tidak saja menyesatkan diri mereka, tetapi menyesatkan pula orang lain, menghalang-halangi orang yang mengikrarkan dirinya sebagai orang yang beragama tauhid. 
Di akhir ayat Allah SWT memerintahkan kepada Rasul-Nya agar mengatakan kepada orang yang mengingkari nikmat Allah itu, "puaskanlah dirimu dengan melaksanakan keinginanmu sewaktu hidup di dunia, nikmatilah kelezatannya yang tidak lama masanya, hingga ajal merenggut jiwamu. Tetapi pada saat itu kamu akan menyesali perbuatanmu. Pada hari berhisab nanti, kamu akan mengetahui dengan pasti bahwa kamu akan menjadi penghuni neraka yang penuh dengan siksaan".
Dan nampak jelaslah bagi mereka, ketika disodorkan kepada mereka kitab-kitab mereka yang memuat catatan amal perbuatan mereka ketika hidup di dunia, bahwa mereka melihat amal perbuatan mereka yang buruk itu tercantum semuanya dalam kitab itu, dan mereka yakin bahwa pelanggaran mereka itu akan dihisab dan diperhitungkan satu demi satu dan sebagai akibatnya akan menerima azab yang pedih yang meliputi seluruh penjuru, yang semuanya tidak lain karena mereka selalu memperolok-olokkan ajaran agama Allah.

E. Q.S Arrum 54
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ (54)
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”.
Penjelasan Tafsir :
·         Tafsir Al-Misbah
Allah SWT berfirman“Allah menciptakan kamu dari keadaan lemah” , yakni setetes air hina (sperma) yang bertemu dengan indung telur. Lalu tahap demi tahap meningkat dan meningkat hingga kemudian setelah melalui tahap bayi, anak-anak, remaja.
“Dia menjadikan kamu sesudah kelemahan itu kekuatan” sehingga menjadi dewasa dan sempurna umur, inipun berlangsung cukup lama. Kemudian setelah itu “Dia menjadikan kamu sesudah menyandang kekuatan itu menderita kelemahan kembali dengan hilangnya sekian banyak potensi dan tumbuhnya uban.
Ayat ini melukiskan pertumbuhan fisik, kendati kelemahan dan kekuatan berkaitan juga dengan mental. Contoh : ada manusia yang apabila di berikan cobaan atau ujian oleh Allah SWT, ia tidak kuat dan semangatnya mengendor akibat kelemahannya, disisi lain ada pula kekuatan yang dianugrahkan Allah SWT berupa kekuatan jiwa kepada manusia, sehingga ia kuat dan mampu menghadapi godaan juga tantangan.
Tentu saja kekuatan ataupun kelemahan jiwa dan mental seseorang tergantung pada diri masing-masing dan tentunya berbeda-beda pula. Perlu dicatat, apa yang di kemukakan ayat di atas adalah uraian tentang tahapan-tahapan hidup manusia secara umum.
Kesimpulan ayat di atas adalah bahwa kelemahan manusia pada umumnya ketika manusia itu di ciptakan sampai ia menuju dewasa tentunya atas bantuan atau bimbingan orangtua, lalu manusia akan mengalami kelemahan ketika ia menginjak masa tua, disaat segala potensi yand di miliki perlahan melemah. Kedunya masa dimana manusia itu mengalami kelemahan berkaitan erat juga dengan fisik dan psikis manusia tersebut.
·         Tafsir Attarbawi

Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna dan melengkapinya dengan sifat yang unggul. Keunggulannya dibandingkan seluruh makhluk sebagaimana ditunjukkan oleh kemampuan intelektualnya yang khas dalam berpikir dan memahami, dan kesiapannya untuk belajar dan mengembangkan budaya tidak perlu dipertanyakan lagi. Pernahkah kita berpikir, mengapa meski memiliki seluruh sifat yang unggul ini manusia memiliki tubuh yang sangat rentan, yang selalu lemah terhadap ancaman dari luar dan dalam? Mengapa begitu mudah terserang mikroba atau bakteri, yang begitu kecil bahkan tidak tertangkap oleh mata telanjang? Mengapa ia harus menghabiskan waktu tertentu setiap harinya untuk menjaga dirinya bersih? Mengapa ia membutuhkan perawatan tubuh setiap hari? Dan mengapa ia bertambah usia sepanjang waktu?
Manusia bukan makhluk super, walaupun manusia makhluk yang diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna, tetapi manusia adalah makhluk yang paling lemah diantara makhluk-makhluk lainnya. Dengan makhluk yang tidak bernyawa seperti angin,air,tanah dan api pun manusia tidak bisa melawannya. Angin jika telah menjadi angin puting beliung akan mengancam jiwa manusia. Air jika menjadi air bah dan tsunami akan melenyapkan peradaban manusia. Tanah jika bergunjang dan longsor akan mengubur manusia. dan api jika telah berkobar membara akan menghanguskan manusia. Tak ada yang patut disombongkan pada diri manusia. La haula wala quwata illah Billah. Tiada daya dan upaya melainkan dari Allah.


F. Q.S Al-Ahzab 72
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا (72)
“Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit,bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.
Penjelasan Tafsir :

·         Tafsir Al-misbah

Allah SWT mengingatkan mereka tentang tugas mereka sebagai mukallaf yang diembankan kepada mereka sebagai manusia. Allah SWT berfirman:
“sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya” inti ayat ini adalah menggambarkan besarnya amanat  dan beratnya memikulnya. Abu Su’ud berkata: amanat itu saking besarnya menjadi bahan pembicaraan dan mereka  mempunyai perasaan serta nalar untuk memelihara amanat itu maka mereka tidak mau menerimanya dan takut untuk memikulnya. Menurut Ibnul jauzi berkata: yang dimaksud firman “maka semuanya enggan” bukanlah menentang, namun maksudnya mereka menolak karena takut dan kuatir, sebab penawaran itu bersifat menyuruh memilih bukan mengharuskan.
“Dan di pikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh”, manusia mau memikul amanat itu. Dia sungguh menganiaya dirinya sendiri dan sangat tidak tahu kesudahan perkara. Menurut Ibnu Jazzi amanat itu adalah tugas-tugas yang diberikan kepada setiap mukallaf, yaitu untuk selalu taat dan menjauhi maksiat. ada pula yang menyebutkan amanat itu adalah harta benda, namun yang tepat amanat itu mencakup seluruh tugas mukallaf.
Kesimpulan ayat di atas bahwa manusia dapat di katakan sangat bodoh (lemah pemikiran) karena manusia mau memikul amanat yang sangat berat itu sedangkan langit, bumi dan gunung enggan untuk menerima amanat itu karena mereka merasa takut dan khawatir.
·         Tafsir Attarbawi

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah melakukan komunikasi dengan menawarkan al-Amanat kepada langit, bumi dan gunung sebelum kemudian diterima oleh manusia.
Dalam Mufradat fi Ghorib Al-Qur’an, Raghib al-Isfahany mengartikan al-Amanat dengan akal, karena dengan akallah pengertia tauhid, keadilan, pelajaran huruf-huruf hijaiyah, segala yang dapat diketahui dan diperbuat manusia tentang keindahan. Dengan akal, manusia diunggulkan diatas mahluk-mahluk lain. Sedangkan al-Zamakhsyari lebih memilih makna ketaatan sambil mentakwilkan kata al-haml dalam rangka penolakan. Sementara Ibn Jarir al-Thabrani, didalam tafsirnya, memilih memaknai amanat didalam agama, dan amanat-amanat dalam kehidupan manusia.
Kata amanat alam bentuk tunggal muncul dalam Al-Qur’an hanya satu kali, yaitu pada QS. Al-Baqarah : 283, dalam kaitannya dengan pencatatan hutang:
”Kalau kamu dalam perjalanan dan kamu tidak menemukan seorang penulis, hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang, tetapi bila kedua belah pihak sudah saling mempercayai, hendaklah yang dipercayai menunaikan amanatnya.”
Apabila ktia memperhatikan kata amanat dengan kaitan kontekstualnya pada surat Al-Ahzab :72, ada beberapa qarinah yang membedakan artinya dengan arti amanat, yaitu : Pertama,sebagaiamana telah sering disinggung bahwa kata amanat pada ayat ini dalam bentuk tunggal dan diawali dengan al yang menunjukan kekhususan. Kedua, kata al-amanat dikaitkan dengan kata al-insan , bahwa al-amanat itu ditawarkan kepada manusia dalam pengertian al-Insan dimana ia sendiri sanggup menerima dan memikulnya. Dan ketiga, langit, bumi, dan gunung-gunung yang untuk pertama kalinya menerima tawaran tersebut, semua menolaknya.
            Setiap alam semesta selain manusia, berjalan dengan hukum alamnya secara terpaksa dan penuh kepatuhan, tanpa harus menanggung resiko dari apa yang telah diperbuatnya. Seandainya langit menghujani bumi dengan gemuruh petirdan menahan turunnya hujan sehingga bumi rusak kekeringan tidak ada tanaman, atau seandainya langit berbaik hati menyirami bumi sehingga hidup kembali, maka langit sama sekali tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya itu.
Sama halnya seandainya bumi berguncang merusak pemukiman dan segenap hidup, kemudian memuntahkan lahar panas dan menghancurkan yang ada, atau dia berbaik hati dengan mengeluarkan barang-barang tambang yang berharga dan minyak yang melimpah sehingga penduduknya makmur sejahtera.
            Hanya manusialah yang bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, yang menghasilkan pahala atau siksa. Tak seorang pun yang menanggung akibat perbuatan orang lain. Dan tidak satupun perbuatan yang tanpa balasan. In khairan fa khairan wa in syarran fa syarrun !.

G. Q.S Annisa 28-29
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا (28) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (29)
28. Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.
29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
Penjelasan Tafsir :
·         Tafsir Shofwatu at Tafsir
            “Allah hendak memberikan keringanan”;Allah hendak memberikan kemudahan kepada kalian dalam syariat- syariatnya. “Manusia dijadikan lemah”; lemah dalam melawan hawa nafsunya, dia cenderung tidak bersabar atas ajakan hawa nafsunya.
            Kemudiaan Allah memperingatkan orang beriman agar tidak memakan harta manusia dengan cara batil. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil”; Hai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian lainya dengan cara yang batil, yaitu dengan caara yang tidak diperbolehkan syariat seperti mencuri, korupsi , gasab, riba, perjudian dan sejenis itu semua. “kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu”; kecuali dengan cara yang terhormat seperti dagang atau Perniagaan yang dihalalkan oleh Allah. Ibnu katsir berkata “terdapat pengecualian”; bermakna  janganlah kamu melakukan tindakan-tindakan yang diharamkan dalam mencari harta, akan tetapi lakukanlah perniagaan yang dilakukan atas dasar keridaan masing-masing pihak .”Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”; ungkapan dalam ayat ini menggunakan kalimat membunuh diri, untuk meyatakan sifat berlebih-lebihan dalam bebuat dosa. Dalam makna zahirnya bermakna bunuh diri . larangan ini termasuk diantara rahmat Allah.
·         Tafsir Attarbawi

            Manusia menganggap semua kebutuhan ini adalah fenomena alami. Namun, sebagai manusia, keperluan perawatan tersebut memiliki tujuan tersendiri. Setiap detail kebutuhan manusia diciptakan secara khusus. Kebutuhan manusia yang tanpa batas diciptakan dengan sengaja, agar ia mengerti bahwa dirinya adalah hamba Allah dan bahwa dunia ini adalah tempat tinggalnya yang sementara.
            Manusia tidak memiliki kekuasaan apa pun terhadap tanggal dan tempat kelahirannya. Sebagaimana halnya, ia tidak pernah mengetahui di mana atau bagaimana ia akan meninggal. Lebih lanjut lagi, seluruh usahanya untuk membatasi faktor-faktor yang berpengaruh negatif bagi hidupnya adalah sia-sia dan tanpa harapan.
            Manusia memang memiliki sifat rentan yang membutuhkan banyak perawatan untuk tetap bertahan. Ia pada hakikatnya tidak terlindungi dan lemah terhadap kecelakaan tiba-tiba dan tak terduga yang terjadi di dunia. Sama halnya, ia tidak terlindungi dari risiko kesehatan yang tidak dapat diperkirakan, tak peduli apakah ia penghuni peradaban yang tinggi atau pedesaan di gunung yang terpencil dan belum maju. Sepertinya setiap saat manusia dapat mengalami penyakit yang tak tersembuhkan atau mematikan. Kapan pun, dapat terjadi suatu kecelakaan yang menyebabkan kerusakan tak tersembuhkan pada kekuatan fisik atau daya tarik seseorang yang tadinya membuat cemburu. Lebih jauh, hal ini terjadi pada seluruh manusia: apa pun status, kedudukan, ras, dan sebagainya, tidak ada pengecualian terhadap akhir tersebut. Baik kehidupan seorang pesohor dengan jutaan penggemar dan seorang penggembala biasa dapat berubah secara drastis pada suatu saat karena kecelakaan yang tidak terduga.
            Tubuh manusia adalah organisme lemah yang terdiri dari tulang dan daging dengan berat rata-rata 70-80 kg. Hanya kulit yang lemah melindunginya. Tidak diragukan, kulit yang sensitif ini dapat dengan mudah terluka dan memar. Ia menjadi pecah-pecah dan kering ketika terlalu lama terkena sinar matahari atau angin. Untuk bertahan terhadap berbagai gejala alam, manusia harus berjaga-jaga terhadap dampak lingkungan.
            Meskipun manusia dilengkapi dengan sistem tubuh yang luar biasa, "bahan-bahan" nya (daging, otot, tulang, jaringan saraf, sistem kardiovaskuler dan lemak) cenderung meluruh. Bila manusia terdiri dari bahan lain, bukan daging dan lemak, bahan yang tidak memberi jalan bagi penyusup dari luar seperti mikroba dan bakteri, tidak akan ada kesempatan untuk menjadi sakit. Bagaimanapun, daging adalah zat yang paling lemah: ia menjadi busuk bahkan berulat bila dibiarkan pada suhu ruang untuk beberapa waktu.Untuk senantiasa mengingatkan kepada Allah, manusia acap kali merasakan kebutuhan pokok tubuhnya. Jika terkena cuaca dingin, misalnya, ia mengalami risiko kesehatan; sistem kekebalan tubuhnya perlahan-lahan "jatuh". Pada saat tersebut, tubuhnya mungkin tidak dapat menjaga temperatur tubuh konstannya (37ºC) yang penting untuk kesehatan yang baik. Satu Laju jantungnya melambat, pembuluh-pembuluh darahnya berkontraksi, dan tekanan darah meningkat.



BAB III
PENUTUP
 

A.     Kesimpulan
Manusia yang memiliki dimensi fisik dan psikisatau bisa disebut biologis dan psikologis akan mengalami evolusi perkembangan. Secara biologis manusia dilahirkan dengan penuh keterbatasan. Berbeda dengan beberapa hewan yang setelah dilahirkan oleh induknya dapat langsung berdiri dan berjalan. Bahkan mereka bisa langsung hidup sendiri terlepas dari induknya. Coba bandingkan dengan manusia, apakah mungkin manusia bisa mempertahankan kehidupan tanpa seorang pengasuh? Jawabanya tidak, karena manusia tidak memiliki kemandirian dan naluri lebih ketika lahir dibandingkan dengan hewan. Organ-organ manusia ketika masih bayi begitu lemah dan rentan sehingga membutuhkan bantuan orang lain dalam bentuk latihan-latihan untuk bisa menyempurnakan evolusi biologisnya.
Meski begitu manusia dapat disebut sebagai bagian dari hewan mamalia. Namun perbedaan yang paling mendasar ialah bahwa manusia memiliki akal (kecerdasan). Dalam Al-Quran manusia merupakan makhluk yang mulia dan tinggi, disisi lain juga menyebutkan kelemahan-kelemahanya, antara lain :

1.      Tidak dapat menjalani hidup secara mandiri
Hal ini tertuang dalam QS. Annahl: 78 bahwa ketika lahir, manusia tidak mengetahui apa-apa dan akan selalu butuh bantuan dari orang lain untuk keberlangsungan hidupnya hingga dewasa.

2.      Bodoh
Manusia pada dasarnya tidak memiliki pengetahuan tentang apapun sejak lahir. (QS. Annahl: 78)

3.      Bersifat keluh kesah dan kikir
Katakanlah, "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya." Dan adalah manusia sangat kikir (QS. Al-Isra:100).
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir” (QS. al-Ma'arij:19-20).

4.      Lupa Terhadap Allah

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”(QS. Yunus:12).

5.      Melampaui Batas Ketika Dirinya Merasa Cukup
“Ketauhilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, Karena dia melihat dirinya serba cukup” (Q.S Al-‘Alaq: 6-7).

6.      Lemah
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”(QS. Arrum: 54).
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah” (QS. Annisa: 28).

7.      Kufur Nikmat
“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada tuhanya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila tuhan memberika nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkanya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka” (QS. Azzumar: 8).

8.      Zalim
“Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit,bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”(QS. Al-Ahzab: 72).

9.      Terbuai dengan kesenangan dunia
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”(Ali Imran:14).

10.  Menyuruh kepada Keburukan
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya diri itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali diri yang diberi rahmat oleh tuhanku”(QS. Yusuf : 53).

B.      Penutup
Demikianlah penjelasan dari makalah kami, yang kami susun melalui beberapa tafsir yang sudah diterjemahkan terlebih dahulu kedalam bahasa indonesia. Semoga makalah tafsir ini dapat bermanfaat bagi semua kalangan, tidak terbatas hanya untuk mahasiswa saja. Dan yang terpenting setidaknya uraian-uraian dalam makalah ini dapat memberikan motivasi untuk senantiasa mengamalkanya.
Semoga makalah ini mendapat apresiasi penuh dan dukungan dari para pembaca. Sehingga kami mendapat masukan positif yang membangun, untuk meningkatkan kualitas makalah kami ke depan. Akhir kata, kami mohon maaf atas segala kekurangan, khususnya isi dari makalah ini dan juga kami ucapkan terima kasih kepada bapak dosen, atas segala motivasi dan apresiasinya dan juga dari para anggota kelompok yang telah bekerja keras.
Hanya kepada Allah SWT lah kita menyerahkan segala usaha dan karya kita dan semoga kita ada selalu dalam lindungan dan magfirah-Nya, juga taufik dan hidayah-Nya kita selalu diberi kekuatan untuk mengamalkan Al-Quran ini.






DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’anul Karim
Tim Penerjemah Indonesia. Al-Qur'an dan Terjemahnya. Departemen Agama Republik Indonesia.
Yasin. Terjemahan shafwatut tafasir karya Syaikh Muhammad Ali Asshabuni. Jakarta Timur : Pustaka Al-kautsar, 2011.
Al-falasany, Judi. Pendidikan dalam Al-Qur’an.  Semarang: Wicaksana, 1989.
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati, 2010.
http://roeslihamzah.blogspot.com/2012/07/pembuatan-model-molekuler.html



[1] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari (16), Jakarta:Pustaka Azzam, 2009, h.248-249


0 komentar:

Posting Komentar