Jumat, 19 Juni 2015

Makalah Individu dan Keluarga



MAKALAH
INDIVIDU DAN KELUARGA
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur Pada Mata Kuliah Ilmu Sosial Dasar
Dosen :
Drs. Idad Suhada, M.Pd
Buhori Muslim, M.Pd






Disusun Oleh :
Kelompok 6
Anggota :
Andri Andriansyah (1142080007)
Hazmi Fauzi ( 1142080031)

PRODI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2015



 
                                                    Individu dan keluarga

1.      Pengertian Individu
Individu merupakan unit terkecil pembentuk masyarakat. Dalam ilmu sosial, individu berarti juga bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak dapat dipisah lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Sebagai contoh, suatu keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Ayah merupakan individu dalam kelompok sosial tersebut, yang sudah tidak dapat dibagi lagi ke dalam satuan yang lebih kecil.
Pada dasarnya, setiap individu memiliki ciri-ciri yang berbeda.Individu yang saling bergabung akan membentuk kelompok atau masyarakat. Individu tersebut akan memiliki karakteristik yang sama dengan kelompok dimana dirinya bergabung.
Kata ”Individu” berasal dari kata latin, ”Individuum” artinya ”Yang Tidak Terbagi”. Maksud dari ”yang tidak terbagi” di sini adalah bukan manusia sebagai suatu keseluruhan yang tidak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan. Jadi, Individu adalahSeorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan dalam lingkungan sosial saja, melainkan memiliki kepribadian dan pola tingkah laku yang khas. Berkaitan antara individu dengan individu lainnya, suatu individu dapat dikatakan sebagai manusia apabila pola tingkah lakunya hampir identik atau sama dengan pola tingkah laku kelompok sosialnya sehingga muncullah sebuah proses individualitas atau aktualisasi diri. Proses individualitas ini merupakan sebuah proses yang dapat meningkatkan ciri-ciri individualitas seseorang sampai pada dirinya sendiri. Oleh karena itu, individu merupakan pribadi yang khas menurut corak kepribadiannya atau pola tingkah lakunya. Individu menurut konsep Sosiologis berarti manusia yang hidup berdiri sendiri. Individu sebagai mahkluk ciptaan Tuhan di dalam dirinya selalu dilengkapi oleh kelengkapan hidup yang meliputi Raga, Rasa, Rasio, dan Rukun.
  • Raga, merupakan bentuk jasad manusia yang khas yang dapat membedakan antara individu yang satu dengan yang lain, sekalipun dengan hakikat yang sama.  
  • Rasa, merupakan perasaan manusia yang dapat menangkap objek gerakan dari benda-benda isi alam semesta atau perasaan yang menyangkut dengan keindahan 
  • Rasio, atau akal pikiran, merupakan kelengkapan manusia untuk mengembangkan diri, mengatasi segala sesuatu yang diperlukan dalam diri tiap manusia dan merupakan alat untuk mencerna apa yang diterima oleh panca indera. 
  • Rukun atau Pergaulan Hidup, bentuk sosialisasi dengan manusia dan hidup berdampingan satu sama lain secara harmonis, damai dan saling melengkapi. Rukun inilah yang dapat membantu manusia membentuk suatu kelompok social yang sering disebut masyarakat.  
2.      Pertumbuhan Individu
Perumbuhan adalah suatu perubahan yang menuju ke arah yang lebih maju dan lebih dewasa. Perubahan ini lazimya disebut dengan istilah proses (Abu Ahmadi, 1991:76). Ada beberapa pendapat bahwa pertumbuhan pada dasarnya adalah proses asosiasi. Pada proses asosiasi yang primer adalah bagian-bagian. Bagian-bagian yang ada terlebih dahulu, sedang keseluruhan ada pada kemudian. Bagian-bagian ini terikat satu sama lain menjadi keseluruhan asosiasi. Jadi proses asosiasi yaitu terjadinya perubahan pada seseorang secara tahap demi tahap karena pengaruh baik dan pengalaman atau empiri luar melalui pancaindera yang menimbulkan sensations maupun pengalaman dalam mengenai keadaan batin sendiri yang menimbulkan reflexions.
Adapun aliran psikologi gestalt berpendapat bahwa pertumbuhan adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi yang pokok adalah keseluruhan, sedang bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian dari keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain.
Tahapan pertumbuhan individu sejak lahir sampai masa dewasa atau masa kematangan menurut psikologi melalui beberapa fase sebagai berikut:




1.      Masa vital yaitu 0.0 sampai kira-kira 2,0 tahun.
Pada masa vital ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Menurut freud tahapan pertama dalam kehidupan inividu itu sebagai masa oral, karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan ketidak-nikmatan.
2.      Masa estetik dari umur kira-kira 2,0 tahun sampai kira-kira 7,0 tahun.
Masa estetik ini dianggap sebagai masa pertumbuhan masa keindahan. Sebenarnya kata estetik diartikan bahwa pada masa inipertumbuhan anak yang terutama adalah fungsi pancaindra.
3.      Masa intelektual (masa keserasian bersekolah) dari kira-kira umur 7,0 tahun sampai kira-kira umur 13,0 atau 14,0 tahun.
Setelah anak melewati masa kegoncangan yang pertama, maka proses sosialisasinya telah berlangsung dengan lebih efektif, sehingga menjadi matang untuk dididik daripada masa-masa sebelum dan sesudahnya.
4.      Masa remaja kira-kira umur 13,0 tahun atau 14,0 tahun sampai kira-kira umur 20,0 tahun atau 21,0 tahun.
Masa reamja merupakan masa yang banyak menarik perhatian masyarakat karena mempunyai sifat-sifat khas dan yang menentukan dalam kehidupan individu dalam masyarakatnya. Karena manusia dewasa harus hidup dalam alam kultur dan harus dapat menempatkan dirinya diantara nilai-nilai (kultur) itu maka perlu mengenal dirinya sebagai pendukung maupun pelaksana nilai-nilai. Pada dasarnya ini masih dirinci ke dalam beberapa masa, yaitu :
a.      Masa pra remaja
Pada masa ini terdapat beberapa gejala yang dianggap sebagai gejala negatif misalnya tidak tenang, kurang suka bekerja, kurang suka bergerak, lekas lelah, kebutuhan tidur besar, hati sering murung, pesimistik dan non sosial.
b.      Masa remaja
Sebagai gejala pada masa ini adalah merindu puja. Dalam fase ini (masa negatif) untuk pertama kalinya remaja sadar akan kesepian yang tidak pernah dialaminya pada masa-masa sebelumnya. Kesejukan di dalam penderitaan yang nampaknya tidak ada orang yang dapat mengerti dan memahaminya dan menerangkannya. Sebagai reaksi pertama-tama terhadap gangguan ketenangan dan keamanan batinnya ialah protes terhadap sekitarnya yang dirasanya tiba-tiba bersikap mentelantarkan dan memusuhinya.
c.       Masa usia mahasiswa
Masa umur mahasiswa dapat digolongkan pemuda-pemuda yang berusia sekitar 18,0tahun sampai 30,0 tahun. Mereka dapat dikelompokkan pada masa remaja akhir sampai dewasa awal atau dewasa madya.
Pada masa usia mahasiswa banyak peristiwa-peristiwa yang perlu untuk diperhatikan, antara lain yaitu : bila dilihat dari segi pertumbuhan, tugas perkembangan pada usia mahasiswa ini adalah pemantapan pendirian hidup, yaitu pengujian lebih lanjut pendirian hidup serta penyiapan diri dengan keterampilan dan kemampuan-kemampuan yang digunakan untuk merealisasikan pendirian hidup yang telah dipilihnya.
Mahasiswa akan mengalami perubahan secara perlahan dengan sikap hidup yang idealistik ke sikap hidup yang realistik. Dengan demikian keinginan-keinginan yang kurang realistik dalam dirinya dan realitas dalam lingkungannya telah diganti dengan yang lebih berdasar kepada realisitik.
Manusia sebagai individu selalu berada di tengah-tengah kelompok individu yang sekaligus menerangkannya untuk menjadi pribadi. Proses dari individu untuk menjadi pribadi, tidak hanya didukung dan dihambat oleh dirinya, tetapi juga didukung dan dihambat oleh kelompok sekitarnya. (Abu Ahmadi, 991: 79-87)

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan
Dalam membahas pertumbuhan ada bermaca-macam aliran, namun pada garis besarnya dapat digolongkan ke dalam tiga golongan, yaitu :
1.      Pendirian Nativistik
Menurut golongan ini, bahwa pertumbuhan individu itu ditentukan semata-mata oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir.
2.      Pendirian Empiristik dan Environmentalistik
Berbeda dengan nativistik, aliran ini  berpendirian bahwa pertumbuhan individu semata-mata tergantung pada lingkungan sedang dasar tidak berperanan sama sekali. Pendirian ini menolak dasar dalam pertumbuhan individu dan lebih menekankan pada lingkungan dan konsekuensinya hanya lingkunganlah yang banyak dibicarakan. Oleh karena itu pendirian ini disebut juga environmentalistik. Pada hakekatnya, pendirian kelanjutan dari faham empirisme.
3.      Pendirian Konvergensi dan Interaksionisme
Konsep konvergensi ialah konsepsi interaksionisme yang berpandangan dinamis yang menyatakan bahwa interaksi antara dasar dan lingkungan dapat menentukan petumbuhan individu. Nampak lain dengan konsepsi konvergesi yang berpandangan statis yaitu menganggap pertumbuhan individu ditentukan oleh dasar (bakat) dan lingkungan. (Abu Ahmadi, 1991: 77-79)

3.Pengertian Keluarga 

Keluarga berasal dari Bahasa Sansekerta "Kulawarga". Kata kula berarti "Ras" dan warga yang berarti "Anggota" Keluarga adalah lingkungan di mana terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah. Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah Individu memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara individu tersebut. 
Pengertian Keluarga adalah Unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan Tipe keluarga. 
Ada beberapa tipe keluarga yaitu : 
  • Keluarga Inti yang terdiri dari Suami, Istri, dan anak atau anak-anak, 
  • Keluarga Konjugal yang terdiri dari pasangan dewasa (ibu dan ayah) dan anak-anak mereka, dimana terdapat interaksi dengan kerabat dari salah satu atau dua pihak orang tua. 
  • Keluarga Luas yang ditarik atas dasar garis keturunan di atas keluarga aslinya. meliputi hubungan antara paman, bibi, keluarga kakek, dan keluarga nenek. Peranan keluarga Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku antar pribadi, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan pribadi dalam posisi dan situasi tertentu.
4.      Fungsi – Fungsi keluarga
Individu individu itu pada mulanya berinteraksi dan tumbuh di dalam keluarga. Setelah sebuah keluarga terbentuk, anggota keluarga yang ada didalamnya memiliki tugas masing-masing. Suatu pekerjaan yang harus dilakukan dalam kehidupan keluarga, biasanya disebut fungsi. Fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan di dalam atau di luar keluarga itu.
Terdapat fungsi keluarga, diantaranya :
A.      Fungsi biologis
Fungsi ini berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan seksual suami istri.
B.      Fungsi Sosialisasi Anak
Fungsi ini menunjuk pada peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak.
C.      Fungsi Afeksi
Salah satu kebutuhan dasar manusia ialah kebutuhan kasih sayang atau rasa dicintai. Fungsi afeksi adalah fungsi dalam keluarga yang berperan dalam hal tersebut.
D. Fungsi edukatif
Keluarga merupakan guru pertama dalam mendidik manusia. Hal itu dapat dilihat dari pertumbuhan seorang anak, mulai dari belajar jalan-jalan, hingga mampu berjalan.
E. Fungsi Religius
Dalam masyarakat indonesia dewasa ini, fungsi keluarga semakin berkembang, di antaranya fungsi keagamaan yang mendorong dikembangkannya keluarga dan seluruh anggotanya menjadi insan-insan agamis yang penuh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
F. Fungsi Protektif
Keluarga merupakan tempat yang nyaman bagi para anggotanya, sehingga terciptanya rasa saling menjaga.

G. Fungsi Rekreatif
Fungsi ini bertujuan untuk memberikan suasana yang segar dan gembira dalam lingkungan keluarga.
H. Fungsi Ekonomis
Fungsi ini semakin pudar berkat canggihnya teknologi yang telah menyediakan berbagai peralatan rumah tangga. Kini, keluarga merupakan suatu kesatuan konsumsi ekonomis yang dipersatukan oleh persahabatan.
I. Fungsi Penentuan Status
Dalam sebuah keluarga, seorang menerima serangkaian status, baik ditentukan berdasarkan umur, urutan kelahiran, dan sebagainya.

5.      Bentuk-Bentuk Keluarga
Keluarga dibagi menjadi beberapa bentuk berdasarkan garis keturunan, jenis perkawinan, pemukiman, jenis anggota keluarga dan kekuasaan.

a.      Berdasarkan Garis Keturunan 

1.      Patrilinear adalah keturunan  sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.
2.      Matrilinear adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa ganerasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.

b.      Berdasarkan Jenis Perkawinan

1.      Monogami adalah keluarga dimana terdapat seorang suami dengan seorang istri.
2.      Poligami adalah keluarga dimana terdapat seorang suami dengan lebih dari satu istri.

c.       Berdasarkan Pemukiman

1.      Patrilokal adalah pasangan suami istri, tinggal bersama atau dekat dengan keluarga sedarah suami.
2.      Matrilokal adalah pasangan suami istri, tinggal bersama atau dekat dengan keluarga satu istri
3.      Neolokal adalah pasangan suami istri, tinggal jauh dari keluarga suami maupun istri.

d.      Berdasarkan Jenis Anggota Keluarga

1.      Keluarga inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.
2.      Keluarga besar (Extended Family) adalah keluarga inti ditambahkan dengan sanak saudara. Misalnya : kakak, nenek, keponakan, dan lain-lain.
3.      Keluarga Berantai (Serial Family) adalah keluarga yang terdiiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
4.      Keluarga Duda/janda (Single Family) dalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
5.      Keluarga berkomposisi (Composite) adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.
6.      Keluarga Kabitas (Cahabitation) adalah dua orang yang terjadi tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.

e.       Berdasarkan Kekuasaan

1.      Patriakal adalah keluarga yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah dipihak ayah.
2.      Matrikal adalah keluarga yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ibu.
3.      Equalitarium adalah keluarga yang memegang kekuasaan adalah ayah dan ibu.

6. Hubungan Individu dengan Keluarga
Individu memiliki hubungan mutlak dengan keluarga, ia dilahirkan dari keluarga, tumbuh dan berkembang untuk kemudian membentuk sendiri keluarga batihnya. Terjadi hubungandengan ayah,ibu,kakek,nenek, paman,bibi,kakak, dan adik. Hubungan ini dapat dilandasi oleh nilai, norma, dan aturan yang melekat pada keluarga yang bersangkutan. Dengan adanya hubungan antara keluarga ini, individu pada akhirnya memiliki hak dan kewajiban yang melekat pada dirinya dalam keluarga.
Dengan orang tua, dengan saudara-saudara sekandung, terjalin relasi biologis yang disusul oleh relasi psikologis dan sosial pada umumnya. Peranan-peranan dari setiap anggota keluarga merupakan hasil dari relasi biologis, psikologis dan sosial. Relasi khusus oleh kebudayaan lingkungan keluarga dinyatakan melalui bahasa, adat istiadat, kebiasaan, norma-norma, bahkan nilai-nilai agama.
Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap keluarga, diantaranya:
1.      Status Sosial Ekonomi Keluarga
2.      Faktor Kebutuhan Keluarga
3.      Sikap dan Kebiasaan Orangtua







Daftar Pustaka


Wahyu, Ramdani. 2008. ISD ( Ilmu Sosial Dasar). Bandung : Pustaka Setia.
Suhada, Idad. 2013. Ilmu Sosial Dasar. Bandung : Pustaka UIN Bandung.
Alvian, Fajar. Pengertian Individu, keluarga dan masyarakat. 2 Februari 2015.http://fajar-alvian.blogspot.com/2011/10/pengertian-individu-keluarga-dan.html
Riadi, Muchlisin. Definisi Fungsi dan Bentuk Keluarga. 2 Februari 2015. http://www.kajianpustaka.com/2012/11/definisi-fungsi-dan-bentuk-keluarga.html




0 komentar:

Posting Komentar