Jumat, 19 Juni 2015

Laporan Penelitian Observasi Laboratorium Kimia


OBSERVASI LABORATORIUM KIMIA

SMA NEGERI 24 BANDUNG

LAPORAN PENELITIAN



Diajukan sebagai salah satu tugas terstruktur

mata kuliah Pengelolaan Laboratorium



Dosen Pembimbing:

Dr. Hj. Yunita, M.Pd.

Sari, S.Pd.





Disusun Oleh:

Rifatul Qiftiyah         (1132080065)

Suharyadi                  (1132080078)

Kelas II B



PRODI PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SGD BANDUNG

2014


KATA PENGANTAR



Alhamdulillahirabbilalamin, segala puji bagi Allah swt. yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat  menyelesaikan laporan penelitian ini dengan tepat waktu. Shalawat dan salam senantiasa kita panjatkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW yang kita harapkan syafaatnya di hari akhir nanti, amin.
Penyusunan laporan penelitian ini dibuat guna memenuhi tugas mata kuliah Pengelolaan Laboratorium. Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan penelitian ini, kepada Ibu Dr. Hj. Yunita, M.Pd. dan Ibu Sari, S.Pd. yang telah membimbing dan mendukung dalam penyelesaian laporan penelitian ini.
Penulis menyadari penyusunan laporan penelitian belum sempuna. Oleh sebab itu, penulis memohon kepada pembaca atas kritik dan saran guna melengkapi dan perbaikan di masa mendatang. Semoga laporan penelitian ini dapat bermanfaat dalam menambah wawasan bagi pembaca pada umumnya dan penulis sendiri secara khusus.





                                                                                                                Bandung,   Juni 2014
                                                                                               
                       
                                                                                                                           Penulis


 


BAB I

PENDAHULUAN


I.1        Latar Belakang
            Laboratorium dan jenis peralatannya merupakan sarana dan prasana penting untuk menunjang proses pembelajaran di sekolah. Laboratorium adalah suatu tempat dimana percobaan dan penyelidikan dilakukan. Dalam arti sempit, laboratorium sebagai tempat berupa gedung yang dibatasi oleh dinding dan atap yang di dalamnya terdapat sejumlah alat dan bahan praktikum. Dalam pendidikan sains kegiatan laboratorium merupakan bagian integral dari kegiatan belajar mengajar, khususnya kimia.
            Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang unit produksi, ruang kantin, tempat olahraga, beribadah, bermain, berkreasi, dan tempat lain yang diperlakukan untuk menunjang proses pembelajaran.
            Standar keragaman jenis peralatan laboratorium ilmu pengetahuan alam (IPA), laboratorium bahasa, laboratorium komputer, dan peralatan pembelajaran lain pada satuan pendidikan dinyatakan dalam daftar yang berisi jenis minimal peralatan yang harus tersedia. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peranan kegiatan laboratorium untuk mencapai tujuan pendidikan sains.

I.2        Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini, yaitu:
a.       Bagaimana kelengkapan laboratorium?
b.      Bagaimana organisasi laboratorium?
c.       Bagaimana penataan alat di laboratorium?
d.      Bagaimana pengetahuan bahan kimia?
e.       Bagaimana kelengkapan administrasi?
f.       Bagaimana keselamatan kerja di laboratorium?

I.3        Tujuan Penelitian
             Tujuan penelitian ini, yaitu:
a.        Mengetahui kelengkapan laboratorium.
b.       Mengetahui organisasi laboratorium.
c.        Mengetahui penataan alat di laboratorium.
d.       Mengetahui pengetahuan bahan kimia.
e.        Mengetahui kelengkapan administrasi.
f.        Mengetahui keselamatan kerja di laboratorium.

I.4        Waktu dan Tempat Penelitian
            Waktu dan tempat penelitian ini, yaitu:
      hari            :  Senin - Selasa
      tanggal      :  5 - 6 Mei 2014
      waktu        :  11.00 WIB s.d. selesai
      tempat       :  SMA Negeri 24 Bandung
        
I.5        Metode Penelitian
            Metode yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu:
a.       Observasi; yaitu mengamati secara langsung keadaan laboratorium dari berbagai aspek dikaitkan dengan konsep pengelolaan laboratorium yang telah dipelajari.
b.      Wawancara; yaitu bertanya secara langsung kepada guru yang bersangkutan mengenai hambatan, kritik, saran dan harapan terhadap laboratorium yang ada sekarang.
c.       Dokumentasi; yaitu mengambil gambar beberapa bagian laboratorium untuk melengkapi hasil pengamatan.

I.6        Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini dilakukan dengan membagi tulisan menjadi empat bagian, yaitu:

BAB I    PENDAHULUAN
Bab ini berisi teori tentang penjelasan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, waktu dan tempat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II   TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi tentang konsep umum mengenai laboratorium dan cara pengelolaanya dilihat dari segi tata ruang, keselamatan kerja, dan berbagai ilmu kimia yang berhubungan.

BAB III  PEMBAHASAN
Bab ini berisi tentang pembahasan kelengkapan laboratorium, organisasi laboratorium, penataan alat di laboratorium, pengetahuan bahan kimia, kelengkapan administrasi, dan keselamatan kerja.

BAB IV  PENUTUP
Bab ini berisi tentang penjelasan mengenai kesimpulan yang dapat ditarik berdasarkan pembahasan dari tinjauan pustaka yang disampaikan dan saran yang dapat diberikan untuk menunjang perbaikan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1      Pengertian Laboratorium
Laboratorium adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali. Menurut Emha (2002), laboratorium diartikan sebagai suatu tempat untuk mengadakan percobaan, penyelidikan, dan sebagainya yang berhubungan dengan ilmu fisika, kimia, dan biologi atau bidang ilmu lain.
            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), laboratorium diartikan sebagai tempat mengadakan percobaan, penyelidikan, dan sebagainya. Menurut Soejitno (1983) laboratorium dapat diartikan dalam bermacam-macam segi, yaitu:
a.       Laboratorium dapat merupakan wadah, yaitu tempat, gedung, ruang dengan segala macam peralatan yang diperlukan untuk kegiatan ilmiah. Dalam hal ini laboratorium dilihat sebagai perangkat keras (hardware).
b.      Laboratorium dapat merupakan sarana media dimana dilakukan kegiatan belajar mengajar. Dalam pengertian ini laboratorium dilihat sebagai perangkat lunaknya (software).
c.       Laboratorium dapat diartikan sebagai pusat kegiatan ilmiah untuk menemukan kebenaran ilmiah dan penerapannya.
d.      Laboratorium dapat diartikan sebagai pusat inovasi. Dengan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sebuah laboratorium diadakanlah kegiatan ilmiah, eksperimentasi sehingga terdapat penemuan-penemuan baru, cara-cara kerja, dan sebagainya.

Istilah laboratorium akhir-akhir ini menjadi sangat luas, namun sebelum kita ikut menerjemahkan secara kebablasan maka lihat definisi menurut Procter, (1981). Laboratorium adalah tempat atau ruangan dimana para ilmuwan bekerja dengan peralatan untuk penyelidikan dan pengujian terhadap suatu bahan atau benda. Sedangkan menurut ISO/IEC Guide 2 1986, laboratorium adalah instansi atau lembaga yang melaksanakan kalibrasi dan atau pengujian.
Berdasarkan definisi tersebut, laboratorium adalah suatu tempat yang digunakan untuk melakukan percobaan maupun pelatihan yang berhubungan dengan ilmu fisika, biologi, dan kimia atau bidang ilmu lain, yang merupakan suatu ruangan tertutup, kamar atau ruangan terbuka seperti kebun dan lain-lain.

II.2      Pengelolaan Laboratorium
Pengertian pengelolaan adalah kegiatan menggerakkan sekelompok orang, keuangan, peralatan, fasilitas dan atau segala obyek fisik lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan atau sasaran tertentu yang diharapkan secara optimal. Pengelolaan laboratorium merupakan suatu proses pendayagunaan sumber daya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu sasaran yang diharapkan secara optimal dengan memperhatikan keberlanjutan fungsi sumber daya. Pengelolaan laboratorium berkaitan dengan pengelola dan pengguna, fasilitas laboratorium (bangunan, peralatan laboratorium, spesimen biologi, bahan kimia), dan aktivitas yang dilaksanakan di laboratorium yang menjaga keberlanjutan fungsinya.
            Pada dasarnya pengelolaan laboratorium merupakan tanggung jawab bersama baik pengelola maupun pengguna. Oleh karena itu, setiap orang yang terlibat harus memiliki kesadaran dan merasa terpanggil untuk mengatur, memelihara, dan mengusahakan keselamatan kerja. Mengatur dan memelihara laboratorium merupakan upaya agar laboratorium selalu tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan upaya menjaga keselamatan kerja mencakup usaha untuk selalu mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan sewaktu bekerja di laboratorium dan penanganannya bila terjadi kecelakaan.
Selama ini pengelolaan laboratorium sekolah belum dapat dilakukan sebagaimana mestinya. Bahkan terkesan ruang laboratorium yang dibangun tidak berfungsi. Tidak sedikit ruangan yang dibangun bagi kegiatan laboratorium sekolah ada yang berubah fungsi. Tentu saja hal tersebut sangat disayangkan dan merugikan bagi berbagai pihak terutama siswa.
Banyak faktor-faktor yang menyebabkan bergesernya laboratorium sebagai tempat untuk mengamati, menemukan, dan memecahkan suatu masalah manjadi ruang kelas ataupun gudang, antara lain:
1.      Kurangnya kemampuan dalam mengelola laboratorium sekolah.
2.      Terbatasnya kemampuan guru dalam penguasaan mata pelajaran.
3.      Kurangnya pemahaman terhadap makna dan fungsi laboratorium sekolah serta dan perbaikan sistem pembelajaran IPA. Ironisnya keberadaan laboratorium sekolah dianggap membebani sehingga jarang dimanfaatkan sebagai mana mestinya.

Untuk itulah pemahaman tentang pengelolaan laboratorium sangat penting untuk dimilki oleh pihak-pihak yang terkait dengan laboratorium, baik secara langsung maupun tidak.

II.3      Tata Ruang Laboratorium
Pemakai laboratorium hendaknya memahami tata letak atau layout bangunan laboratorium. Pembangunan suatu laboratorium tidak dipercayakan begitu saja kepada seorang arsitektur bangunan. Bangunan laboratorium tidak sama dengan bangunan kelas. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan sebelum membangun laboratorium. Faktor-faktor tersebut antara lain lokasi bangunan laboratorium dan ukuran-ukuran ruang.
Persyaratan lokasi pembangunan laboratorium antara lain tidak terletak pada arah angin yang menuju bangunan lain atau pemukiman. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari penyebaran gas-gas berbahaya. Bangunan laboratorium tidak berdekatan atau dibangun pada lokasi sumber air. Bangunan laboratorium jangan terlalu dekat dengan bangunan lainnya. Lokasi laboratorium harus mudah dijangkau untuk pengontrolan dan memudahkan tindakan lainnya misalnya apabila terjadi kebakaran, mobil kebakaran harus dapat menjangkau bangunan laboratorium.
Selain persyaratan lokasi, perlu diperhatikan pula tata letak ruangan. Ruangan laboratorium untuk pembelajaran sains umumnya terdiri dari ruang   utama dan ruang-ruang pelengkap. Ruang utama adalah ruangan tempat para siswa atau mahasiswa melakukan praktikum. Ruang pelengkap umumnya terdiri dari ruang persiapan dan ruang penyimpanan. Ruang persiapan digunakan untuk menyiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang akan dipakai praktikum atau percobaan baik untuk siswa maupun untuk guru.
Laboratorium harus ditata sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi dengan baik. Tata ruang yang sempurna, harus dimulai sejak perencanaan gedung sampai pada pelaksanaan pembangunan. Tata ruang yang baik mempunyai:
a.       pintu masuk, pintu keluar, pintu darurat (emergency exit).
b.      ruang persiapan (preparation room).
c.       ruang peralatan, ruang penangas (fume hood).
d.      ruang penyimpanan (storage room).
e.       ruang staf, ruang teknisi (technician room).
f.       ruang bekerja (activity room).
g.      ruang istirahat, ruang ibadah.
h.      ruang prasarana kebersihan, ruang toilet.
i.        lemari praktikan, lemari gelas (glass rack)
j.        lemari alat-alat optik (optical rack)
k.      pintu dan jendela diberi kawat kasa, agar serangga dan burung tidak dapat masuk ke laboratorium.



BAB III
PEMBAHASAN

III.1     Kelengkapan Laboratorium
Di SMA Negeri 24 Bandung terdapat laboratorium kimia, fisika, dan biologi yang mana tempat laboratorium tersebut ada pada satu ruangan yang cukup luas. Akan tetapi, untuk penataan, penyimpanan, pengelolaan alat dan bahan dibedakan menurut pelajaran masing-masing sehingga menempati tiga ruang yang berbeda sesuai bidangnya tersendiri.
Ruang laboratorium khusus digunakan untuk kegiatan yang berhubungan dengan pembelajaran yang memerlukan pembuktian secara langsung mengenai konsep-konsep dalam pembelajaran kimia. Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah kelengkapan sarana dan prasarana dalam laboratorium. Untuk kelengkapan laboratorium kimia di SMA Negeri 24 Bandung sudah hampir semuanya tersedia seperti perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, dan perlengkapan lain.
Kelengkapan perabot seperti kursi, meja, lemari, bak cuci sudah ada dan dalam keadaan bagus. Dalam hal ini untuk meja terdapat meja kerja, meja demonstrasi, dan meja persiapan, sedangkan untuk lemari ada lemari alat, lemari bahan, dan lemari asam semuanya sudah lengkap dan kondisi perabot dalam keadaan baik. Kelengkapan media pendidikan yaitu adanya papan tulis dan di laboratorium SMA Negeri 24 Bandung juga disediakan LCD sebagai pendukung dalam media pendidikan. Kondisi ruangan (penerangan, ventilasi, kebersihan, dan keamanan) juga baik, begitupun untuk jaringan air dan listrik memadai.
Kapasitas laboratorium ini sudah memadai yang bisa menampung lebih dari 40 siswa atau satu kelas bisa melakukan praktikum secara bersamaan. Akan tetapi, dalam kelengkapan labororatorium ini tidak ada tempat khusus untuk ruang timbang sehingga disediakan tempat tertentu dan saat praktikum penimbangan dilakukan di atas meja yang terletak pada meja paling depan. Rak penyimpanan tas dan buku siswa saat praktikum juga belum ada, sehingga siswa-siswi yang akan praktikum harus menyimpan tas dan bukunya di kelas masing-masing.

III.2     Organisasi Laboratorium
Guru kimia selain memberi pembelajaran kepada siswa, juga harus mampu mengelola alat dan bahan, terlebih yang diberi tugas mengelola dan mengorganisasi hingga semua pekerjaan dan keamanan dapat berjalan dengan baik. Pengelola tidak hanya berhadapan dengan siswa yang diajarnya tetapi juga berhadapan dengan guru-guru yang menggunakan laboratorium serta dengan kepala sekolah yang menjadi penanggungjawab seluruh sekolah.
Kegiatan di laboratorium harus dilaksanakan dengan baik. Beberapa komponen yang mempunyai wewenang sesuai dengan bidang, yaitu kepala sekolah, wakasek kurikulum yang mengatur jadwal kegiatan, wakasek sarana prasarana yang mengatur pembelian alat dan bahan, koordinator IPA (guru kimia, fisika, dan biologi) yang mengkoordinasi guru mata pelajaran untuk mengusulkan kepada penanggung jawab laboratorium dalam pengadaan alat dan bahan. Laboran yang bertanggung jawab mempersiapkan dan menata kembali alat/bahan yang sudah dipakai, dan siswa yang melakukan eksperimen. Penugasan ini diberikan setiap tahun secara bergiliran.
Organisasi laboratorium dalam hal ini yaitu adanya peran dari kepala sekolah, penanggung jawab teknis, koordinator laboratorium, adanya tenaga teknisi dan petugas khusus kebersihan yang mempunyai peran, tugas, dan tanggung jawab masing-masing. Adanya organigram dan tata tertib dalam laboratorium sangat dibutuhkan, yang bertujuan melatih kedisiplinan siswa bahkan semua yang bekerja di laboratorium. Kedisiplinan harus tetap dijaga untuk kepentingan diri sendiri dan orang lain yang sama-sama bekerja, karena terdapat bahan yang menimbulkan bahaya.
Di SMA Negeri 24 Bandung untuk kelengkapan organisasi sudah ada, tetapi untuk laboran dan tenaga teknisi belum ada tenaga ahli di bidangnya sehingga tugas dari laboran dan tenaga teknisi ini masih dipegang oleh guru mata pelajaran kimia. Tentunya guru kimia dalam hal ini dituntut untuk bekerja lebih rajin, karena selain sebagai pengajar juga tenaga ahli di laboratorium. Dan antar petugas laboratorium harus saling berkomunikasi.

III.3     Penataan Alat
Penataan alat sangat bergantung kepada fasilitas dan kepentingan pemakaian. Fasilitas yang dimaksud adalah adanya ruang penyimpanan khusus, ruang persiapan, dan tempat-tempat penyimpanan seperti pengelompokan alat berdasarakan jenis bahan dan lemari penyimpana alat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menata alat dan bahan, yaitu:
1.      Menyimpan alat harus dalam keadaan bersih;
2.      Mendata, memeriksa alat dan bahan sesuai dengan jenis, jumlah, sifat fisik, harga, dan lain sebagainya;
3.      Mengelompokkan alat dan bahan sesuai dengan kelompok mata pelajaran (Fisika, Kimia, dan Biologi) sesuai dengan katalog yang dirujuk.
Alat-alat laboratorium IPA/Kimia umumnya terbuat dari beberapa jenis bahan diantaranya kaca, listrik, karet, porselen, dan logam. Pada penyimpanannya perlu diperhatikan alat-alat seperti dari kaca yang mudah pecah karena benturan, sedangkan alat dari logam mudah terkena berkarat jika berdekatan dengan bahan kimia tertentu. Di samping itu, berat ringannya alat-alat ikut menentukan pula pada tempat penyimpanannya.
Di SMA Negeri 24 Bandung dalam pengelompokan alat berdasarkan jenis bahan seperti kaca, karet, porselen dan logam sudah dilakukan akan tetapi untuk bahan listrik belum dilakukan. Pengelompokkan tersebut dimaksudkan agar mempermudah dalam mengambil ketika dibutuhkan, tetapi penataan di laboratorium belum rapih dan jarang dibersihkan sehingga ada beberapa alat yang berdebu dan kotor. Hal itu jika dibiarkan akan mengakibatkan kerusakan atau tidak berfungsinya bagian tertentu dari alat tersebut.
Lemari penyimpanan alat khusus untuk timbangan sudah ada dan untuk power supply dan listrik (voltmeter, multimeter) di laboratorium kimia SMA Negeri 24 Bandung masih meminjam alat-alat listrik ini dari bidang fisika sehingga laboratorium kimia di sekolah ini tidak ada lemari dan pengelompokan alat berdasarakan bahan listik.

III.4     Pengetahuan Bahan Kimia
Pengetahuan bahan kimia yang terkait yakni adanya tempat penyimpanan bahan praktik, rak zat padat, rak zat cair, ada gudang penyimpanan alat/bahan stok dan ada simbol tentang sifat dan bahaya yang ditimbulkan oleh bahan kimia seperi korosif, beracun, mudah terbakar, iritasi dn lain-lain.
Pada umumnya zat kimia yang ada di laboratorium sekolah berpotensi membahayakan. Beberapa hal harus diketahui adalah: wujud, warna, bentuk kristal, bau, kelarutan dan titik nyala (mudah terbakar atau tidak). Ada yang bersifat racun, higroskopis, sensitif terhadap cahaya, merusak kulit, kayu, ubin, kertas, mudah terurai, teroksidasi dengan udara, mudah menguap/menyublim, mudah meledak atau nudah terbakar, dan mudah bereaksib dengan zat tertntu. Dalam hal ini pengetahuan yang mendasar yaitu harus adanya tempat penyimpanan bahan yang khusus yang disesuakan dengan sifat bahan masing-masiang.
Penyimpanan bahan kimia dapat dikelompokkan berdasarkan:
1.      Keadaan fasa/wujudnya: padat dan cair;
2.      Kelompok asam, basa dan garam;
3.      Sifat bahayanya: higroskopis, toksik, korosif, iritatif, mudah terbakar, pengoksidasi, dan mudah meledak.
Klasifikasi atau penggolongan bahan-bahan kimia berbahaya diperlukan untuk memudahkan pengenalan serta cara penangan dan transportasi. Pada botol zat harus dilengkapi dengan label yang jelas dan menyatakan isi label tersebut. Pada label dilengkapi dengan tanda bahaya dari zat tersebut.
Di SMA Negeri 24 Bandung untuk laboratorium kimia dalam pengetahuan bahan kimia sudah ada dan sudah dilengkapi yaitu dengan tersedianya sarana  tempat penyimpanan bahan praktik, rak zat padat, rak zat cair, ada gudang penyimpanan alat/bahan stok dan ada simbol tentang sifat dan bahaya yang ditimbulkan oleh bahan kimia seperi korosif, beracun, mudah terbakar, iritasi dan lain-lain, yang kesemuannya dalam kondisi yang baik.

III.5     Kelengkapan Administrasi
Tujuan dari pengadministrasian alat dan bahan agar dengan mudah dapat diketahui beberapa hal berikut, yaitu:
1.      Jenis alat atau bahan yang ada;
2.      Jumlah masing-masing alat dan bahan;
3.      Jumlah yang pecah, hilang atau habis.
Kelengkapan administrasi di SMA Negeri 24 Bandung sudah sedikit memenuhi yaitu seperti dengan adanya daftar iventarisasi alat dan bahan, format permintaan alat/bahan, tersedianya kartu alat dan buku/daftar alat yang pecah, rusak, hilang akan tetapi untuk kartu reparasi belum ada. sekolahan ada alokasi dana khusus untuk laboratorium dalam perencanaan program.
Modul/paket materi praktik yang dikembangkan oleh sekolah (LKS dan sejenisnya) sendiri belum ada namun daftar judul praktikum sudah disesuaikan dengan KTSP, jadi dalam kegiatan praktikumnya masih mengikuti ketentuan dari buku paket sesuai KTSP karena sekolah SMA Negeri 24 Bandung belum mengadakan adanya modul untuk praktikum.dan untuk kelancaran saat praktikum di laboratorium sudah disediakan petunjuk pemakaian alat.
Buku laporan kegiatan di SMA Negeri 24 Bandung dilakukan laporan kegiatan harian dan mingguan. Dan program kegiatan lab/jurnal sudah ada, hal ini tentunya bertujuan untuk menghindari adanya jam praktikum yang bersamaan antara kelas satu dengan kelas lainnya. Buku-buku laporan ini tentunya memiliki tujuan yang berbeda, seperti buku laporan harian bertujuan untuk mengetahui kejadian-kejadian selama berlangsungnya kegiatan, misalnya dijumpai ada alat yang rusak atau hilang, atau percobaan yang tidak berhasil, sehingga dapat dipakai sebagai dasar untuk tindak lanjut penyelesaian masalah.
Laboratorium harus dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas, sebagus apapun suatu laboratorium tidak akan berarti apa-apa bila tidak ditunjang oleh manajemen yang baik. Jadi, semua pihak yang terkait harus melaksanakan administrasi yang ada dengan sebaik mungkin sehingga kegiatan labortaorium bisa berjalan lancar.
           
III.6     Keselamatan Kerja
Di laboratorium kimia banyak terdapat bahan-bahan kimia, maka potensi terjadinya kecelakaan kerja selama berlangsungnya kegiatan penelitian di ruang laboratorium sangatlah besar. Oleh karena itu, pengelola laboratorium kimia harus melakukan berbagai tindakan preventif untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan.
Segala aktivitas yang ada di laboratorium perlu dijaga keselamatannya karena kecelakaan dapat terjadi kapan saja, walaupun hal tersebut tidak dikehendaki. Kecelakaan umumnya lebih sering terjadi disebabkan oleh pecahan alat-alat gelas, tumpahan bahan kimia, dan kebakaran. Hal ini merupakan kejadian yang harus dihindari dan setiap komponen harus mengetahui hal-hal yang menimbulkan bahaya atau kecelakaan sekaligus cara penanggulangannya.
Hal yang terkait dengan keselamatan kerja yaitu seperti adanya saluran tempat penampungan limbah praktik, alat pemadam kebakaran, jas laboratorium, sarung tangan, dan kaca mata yang mana di SMA Negeri 24 Bandung  sudah ada, tetapi untuk pemadam kebakaran lain-lain seperti pasir dan karung belum tersedia. Dan juga tempat pengolahan limbah praktik di sini juga belum ada.
Pertolongan pertama pada korban kecelakaan seperti tersedianya kotak P3K di sini juga belum ada, ketika ada siswa terkena bahan atau alat yang pecah langsung dibawa ke ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS), sehingga langsung ditangani di ruang UKS untuk tindakan pertolongan pertama yang tepat jika luka tersebut tidak terlalu parah.
Laboratorium yang aman dan nyaman dari kecelakaan dapat bekerja dengan produktif dan efisien. Hal ini dapat tercipta apabila semua individu yang terlibat mempunyai kesadaran bahwa kecelakaan akibat kecerobohan dan ketidaksiplinan dirinya dapat merugikan diri sendiri serta orang lain. Semua komponen dituntut untuk memiliki rasa tanggung jawab moral terhadap keselamatan kerja.



BAB IV
PENUTUP

IV.1    Kesimpulan
            Berdasarkan pembahasan, penulis dapat menyimpulkan bahwa:
1.         Pengelolaan laboratorium kimia SMA Negeri 24 Bandung masih perlu diperbaiki dan dilengkapi.
2.         Kelengkapan laboratorium perlu ditingkatkan terutama pada alat-alat keselamatan kerja dan peralatan listrik.
3.         Organisasi laboratorium belum lengkap karena masih ada guru kimia yang tugasnya merangkap sebagai laboran.
4.         Penataan alat di laboratorium belum semuanya tertata rapih sesuai dengan tempat, golongan, dan sifatnya.
5.         Kelengkapan administrasi hanya beberapa data yang ada dan terlaksana dengan baik.
6.         Keselamatan kerja belum terjamin karena peralatan yang masih kurang dan kualitasnya kurang baik.
           
IV.2    Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan yaitu:
1.        Sebaiknya mahasiswa mampu memahami konsep pengelolaan laboratorium dan mengimplementasikannya dalam menata laboratorium yang ada di sekolah terutama yang masih awam tentang praktikum.
2.        Dibutuhkan sistem pengelolaan operasional laboratorium yang baik dan sesuai dengan situasi kondisi setempat, agar semua yang dilakukan di dalam laboratorium dapat berjalan dengan lancar.
3.        Peran Kepala Laboratorium sangat penting dalam menerapkan proses manajemen pengelolaan laboratorium, termasuk dukungan keterampilan   dari segala elemen yang ada di dalamnya.


DAFTAR PUSTAKA

Media Buku:
·         Decaprio, Richard. 2013. Tips Mengelola Laboratorium Sekolah. Jogjakarta: DIVA Press.
·         Kistinnah, Idun dan Sri, Endang. 2011. Pengelolaan Laboratorium untuk SMA/MA. Surabaya: Bina Ilmu.
·         Yunita. 2012. Pengelolaan Laboratorium. Jakarta: Erlangga.

Media Internet:
·         http://id.wikipedia.org/wiki/Laboratorium_IPA, diakses tanggal 10 Mei 2014 pukul 19.00 WIB.
·         http://id.wikipedia.org/wiki/Pengelolaan_laboratorium, diakses tanggal 07 Mei 2014 pukul 14.00 WIB.
·         http://id.wikipedia.org/wiki/SMA_Negeri_24_Bandung, diakses tanggal 04 Mei 2014 pukul 08.00 WIB.

0 komentar:

Posting Komentar